December Again

by nuzuli ziadatun ni'mah


Desember telah kembali, dan bahkan akan berlalu sebentar lagi.

Mungkin ini akan menjadi tulisan sampah yang lain, yang tidak perlu saya pikirkan alur penulisannya, karena saya memang hanya butuh menuliskan segalanya. Kini bahkan saya tidak peduli siapa yang akan membacanya, seberapa peduli orang lain terhadap isinya, dan bagaimana pun isinya. Yang pasti, saya ingin menulis.

*

Dulu sekali, saya membuat blog ini hanya karena orang lain juga membuat blog. Entah apa yang memotivasi saya, tapi kemudian saya pun rajin menulis berbagai hal di sini. Bahkan, saya tak pernah memikirkan terlalu dalam apa saja yang ingin saya tuliskan, hanya sekedar ingin tetap membuatnya terisi.

Berkali-kali setelahnya saya pun mulai membuat blog yang lain lagi, lagi, dan lagi, tapi saya selalu kembali ke halaman ini. Berulang-ulang, berulang kali.

Tidak selamanya saya mencintai tulisan-tulisan saya di dalam sini. Setiap membukanya selalu ada malu dan rindu yang menjadi satu. Ada keinginan kuat untuk menghilangkan pemikiran yang terabadikan dan ada pula rasa sayang pada rekaman masa lalu itu. Pada akhirnya saya tetap memilih untuk membiarkannya dapat terbaca oleh orang lain.

Sampai beberapa waktu yang lalu, buat saya tulisan yang dibaca orang lain itu adalah suatu kesenangan (dan siapa sih yang enggak begitu). Popularitas dunia maya adalah kutub yang lain lagi selain prestasi di bangku kuliah atau bangku sekolah. Terlebih setelah begitu banyak hal yang bisa diumbar dengan mudah di mana-mana, saya pun tidak menampik bahwa saya juga demikian. Dan jika akhirnya saya tidak berhasil menghapus semua tulisan di blog ini, bagian saya yang ‘itu’ lah yang ambil bagian di dalamnya.

*

Saya sedang kacau.

Berbeda dengan semua teman-teman saya di kampus yang selalu dituntut oleh orang tuanya untuk ini dan itu, bisa dibilang saya tak pernah dituntut apapun oleh orang tua saya selama saya kuliah, kecuali untuk pulang ke rumah. Mereka memberikan segala hal yang saya butuhkan, memenuhi apapun yang saya inginkan, dan bahkan tidak pernah mempermasalahkan apapun yang terjadi pada saya. Namun justru karena itu saya menjadi kacau.

Saya bisa dengan sombong bilang bahwa saya cukup cerdas dalam beberapa hal, saya bisa melakukan banyak hal, meski tak sebaik orang lain, dan tak pernah bisa sebaik mereka. Nilai saya tak pernah di bawah rata-rata. Dan bahkan sejak setahun yang lalu praktis saya hanya mengisi kuliah saya dengan menyusun skripsi.

Hei, apa sih susahnya skripsiii?

Saya sedikit putus asa sebenarnya. Saya merasa tak bisa melewati skripsi saya yang ini. Saya resah pada tahapan skripsi saya, hingga akhirnya saya gagal di kesempatan pertama. Saya terganggu ketika teman-teman saya berbicara tentang tanggal wisuda atau sidang. Atau ketika mereka membicarakan acara perpisahan. Terkadang saya semakin menuntut, tapi tak yakin pada siapa saya menuntut semuanya. Saya terjebak romantika dan angan yang saya ciptakan sendiri.

Ketika banyak teman-teman saya telah menemukan perjalanan lain yang bia mereka tempuh, saya masih terjebak (atau menjebakkan diri) pada perjalanan yang sekarang. Saya masih begitu mencintai romantika dan melankolia.
Saya masih merindu waktu, bukan menempuhnya.

Terkadang saya sangat lelah hingga menjadi marah dan menangis. Terkadang saya begitu rindu hingga terus bersajak. Terkadang saya tak tahu harus melakukan apa hingga tanpa sadar membereskan banyak hal. Atau di lain waktu saya hanya terpaku dan membiarkan semua perasaan itu membanjir dan menghancurkan saya sementara waktu.

Ha, terkadang saya menghibur diri bahwa yang saya resahkan hari ini akan berlalu esok hari. Tapi hidup tak pernah sesederhana itu, meski ia memang sederhana.

Suatu saat saya bahkan berharap bahwa saya cukup hidup tenang, tapi pikiran saya tak pernah mau merelakannya begitu saja. Ada ego yang membuat saya tetap memperjuangkan apapun yang saya mau, meskipun terkadang tak semuanya mampu saya lakukan.

*

Lantas saya terus menerus bicara pada sang ‘kamu’ yang ada dalam nyata dan khayal. Ya, saya mendambamu, saya merasakan sesuatu yang tak bisa saya terjemahkan. Karenanya saya yakin itu bagian yang penting untuk saya tempuh dalam hidup saya yang entah akan panjang atau tidak.

Saya pernah melalui keinginan untuk memiliki, menuntut, dan meragu. Hingga saya akhirnya yakin itu adalah perasaan yang harus terus saya pelihara, untuk ditunggu bersama waktu yang tak kentara. Saya selalu bercerita padamu tentang setiap resah yang saya rasakan. Saya tulisankan setiap kisahnya agar suatu ketika dapat kamu baca. Saya ceritakan dengan begitu seksama dengan bahasa langit agar kau terpikat dan terpesona.

Haha, tapi itu bohong belaka,

Saya memang tetap bercerita padamu setiap waktu, seperti sekarang. Tapi ini bukan ungkapan keresahan. Saya hanya ingin menyampaikan kemesraan dari rasa yang telah saya pelihara. Sesuatu yang sesungguhnya hanya bisa terungkap dari tatap mata dalam hening senja.

*

Ingatkah kamu ketika kita terhampar di atas bumi, saat langit terbuka pada luasnya semesta?

Kau dan aku terdiam namun berpeluk dalam angan

Kita jauh pada raga, tak terjamah dalam jiwa

Benar jika aku mendamba dalam rindu dan sendu, namun tak kuserahkan semua itu padamu

Aku menolak mengungkap cinta pada dunia

Terkadang ia serupa molekul dalam balon udara

Ketidakteraturannya mencipta tenang pada paras, menunggu hancur oleh seujung jarum

Tidak, sayang

Aku tak selemah itu dalam rasa

Aku tak pernah yakin akan sesuatu, tentu juga tentangmu

Tapi ada seungkap kalimat yang terbisikkan oleh hujan kemarin siang;

Mencintai itu bukan urusan nanti, namun urusan saat ini

*

Tahun depan apa lagi yang kamu inginkan?

Tak terbersit sesuatu yang khusus dalam benak saya, tapi saya cukup menantikan kedatangan esok hari, dan hari berikutnya, dan selanjutnya lagi. Meski dalam hati saya resah pada kejadian-kejadian, dan berharap itu akan berlalu untuk kusebut kemudian sebagai sejarah. Aku tetap tak siap akan beberapa hal.

Desember,

Lagu Efek Rumah Kaca aku dengar pertama di bulan yang sama seperti judul lagunya. Selalu muncul melankoli dan romantika, dua hal yang sulit saya tepis pesonanya.

Ah, saya jadi ingat, suatu ketika pernah kutulis dalam buku harian saya; tentu saja itu tentang kamu. Kutulis disana,

Kamu adalah kutub yang tak mampu kutepis pesonanya

*

Lihat lah, malam ini hujan tak turun, seperti juga kemarin

Jika mampu, ingin ku berlarian dan berdansa denganmu

Seperti angin dan nada-nada, serta matahari dan bintang-bintang

Mereka berbeda, menyatu menjadi lagu

Seperti juga aku bertaruh pada kutub kita yang bertolak dan menjauh

Seperti itu juga cara langit menyampaikan pesan rahasianya pada dunia

wordsflow