Sementara itu,

by nuzuli ziadatun ni'mah


Pernah terbersit di dalam pikiran saya, membayangkan bagaimana setiap hal di dunia ini bergerak bersama, menikmatinya tanpa perlu fokus pada satu hal saja.

Bayangkan, sementara saya duduk di depan laptop, dalam radius 5 meter dari saya ada 3 orang yang sedang mengetik juga, memperhatikan layar laptop mereka dengan cara yang berbeda-beda. Satu orang lainnya sedang membaca buku. Di balik pintu sana beberapa orang sedang memasak dengan cara masing-masing, saling berdebat ini itu, tertawa-tawa.

Pada titik ini, saya masih bisa membayangkan sementara waktu tetap berjalan, saya harus turut membayangkan detil pergerakan orang-orang ini di dalam pikiran saya. Dan, saya masih baru terbang di ketinggian 5 meter sebagai pengamat di luar mereka semua.

Perluas lagi ke hal-hal kecil di radius yang sama. Hujan yang turun, api yang membakar panci, kucing yang mondar-mandir, angin yang berhembus tenang, semut-semut yang mencoba mencari gula yang bercecer.

Lihatlah, saya telah merasa berat memperhatikan semua itu bergerak dalam waktu yang sama, tanpa ritme, tanpa keteraturan.

Lebih luas lagi, ke orang-orang yang saya kenal saat ini. Orang tua saya yang sedang di rumah nenek saya di Lampung. Berbincang entah apa, memikirkan entah apa, memandang entah apa. Adik saya di kosan bersama teman-temannya. Atau kakak saya yang sedang di Surabaya, entah melakukan apa.

Cepat bukan, untuk menyadari bahwa saya ternyata tidak tahu apa-apa. Kita terbatas pada indera dan sudut pandang. Hanya dengan membayangkan keluarga dan pergerakan makhluk hidup dalam radius 5 meter pun saya tak bisa melakukannya sebaik apa yang sesungguhnya memang terjadi.

Terkadang, saya melakukan ini berulang-ulang, karena menurut saya, ini sangat menyenangkan. Saya seakan-akan membawa diri saya sendiri terbang ke angkasa, bukan sebagai saya, tapi sebagai sesuatu yang lain. Di setiap perjalanan saya mencoba merekam sebanyak mungkin dalam benak saya, memetakan dalam benak dan mencoba membuat bayangan itu bergerak bersama-sama.

Sering saya melakukannya seorang diri di mall, di kantin, di pasar, di terminal, di manapun ketika saya merasa kehilangan diri dan tak tahu kemana harus mencari. Maka memperhatikan manusia adalah kegiatan yang mengobati. Menempatkan diri kita di luar mereka semua, mencoba mengambil informasi dari perilaku dan tatap mereka ke sekitarnya.

Lantas saya akan sadar, bahwa saya hanya tokoh lain yang juga sama-sama mencari keberadaan seperti semua orang di dunia ini. Lalu akan muncul keingintahuan untuk tahu berapa jumlah manusia di dunia ini, berapa yang meninggal pagi tadi, berapa yang akan lahir esok hari. Atau, ada berapa manusia yang memiliki hari bahagianya di hari ini, dan berapa yang kehilangan apa yang mereka miliki.

Hidup ini rumit. Kerumitannya selalu membuat kita penasaran untuk mengurainya, menekuninya untuk sementara waktu, lalu di waktu yang lain meninggalkannya. Lalu kita akan sekali lagi terpesona, mengulanginya, sekali lagi, lagi, dan lagi.

wordsflow