seperti mencari tempat pulang

by nuzuli ziadatun ni'mah


kemarin tetiba suatu kesadaran datang padaku seperti hembusan angin sore

ia berkata lembut tentang perjalanan;

“suatu ketika, kau pernah menuntut pada perjalanan,

kau mencari alasan dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan

tapi sadarkah engkau, perjalanan adalah milik masing-masing orang, bukan milik kita, itu hanya milikmu atau milikku

maka jika kau ingin tahu tentangnya, lakukanlah perjalananmu seorang diri, jadilah dirinya untuk bisa memahami siapa dia, buatlah kenangan-kenangan dan carilah apa yang membuatnya berharga

hanya mereka yang merengek yang tidak akan pernah paham arti perjalanan

hanya mereka yang bisa menempuh langkah pertama seorang diri yang akan mengerti apa yang sedang mereka cari, apa makna hidup yang mereka jalani, dan kemana harus kembali pulang”

maka, kuikhlaskan kepergianmu kemarin pagi, atau hari-hari sebelum kemarin, dan bahkan kapan pun di masa depan

aku tak akan mengejarmu, aku tak akan memintamu untuk mengajakku serta

tapi, aku pun akan mulai mengemasi barang-barang ku, mencoba menjadi dirimu, menempuh apapun yang akan membuatku menyadari bahwa aku harus sekali lagi menemukanmu

lantas, kita akan bertemu karena itulah saatnya bagi kita untuk itu

kau akan duduk di bawah pohon sukun dan meminum es kelapa muda, sementara aku mengurai cerita yang telah tertera usang di dalam buku perjalananku

kuperlihatkan padamu sketsa dirimu yang sesekali kubuat; di tepi sungai, di atas kereta, di bawah pohon mangga, atau di puncak Gunung Merapi

lalu kau membuka tasmu, satu per satu kau ceritakan perjalanan panjangmu

diselingi derai tawa, bahagia, dan semua rasa yang bisa kau tangkap dari layar hidup yang pernah kau tempuh

aku akan membelaimu dengan lembut, menelusuri parasmu yang lebih lelah dari sebelumnya, dan akhirnya menatap ke dalam matamu yang kini telah seluas angkasa

“kini, barulah ada ‘kita’ dalam masing-masing perjalanan panjang yang kita tempuh

untuk sementara, kita akan berjalan di jalur yang sama, tidak berjarak, tidak bersekat

tidak kah kau tau, hangat genggam tanganmu cukup untuk mengingatkan padaku kemana aku harus pulang

dan jika tak kutemukan kau di rumah kita, akan kulakukan perjalanan sekali lagi, dan berdoa pada semesta untuk mempertemukan kita”

dalam sadar aku tahu, kemana pun aku, ada kamu yang masih melawan gravitasi yang sama, berotasi dengan kecepatan yang sama, dan menempuh waktu yang sama

ingat lah sayang,

kita berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta

wordsflow