(Tetap) Senyap

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sudah seminggu lebih orang-orang heboh dengan kehadiran film Senyap; sebuah film dokumenter karya Joshua Oppenheimer yang berhubungan erat dengan film sebelumnya, The Act of Killing (Jagal). Tersadar kemarin, ternyata dulu saya belum pernah selesai menonton film yang pertama, akhirnya saya menuntaskan film pertama agar lebih paham tentang film yang selanjutnya.

Bisa dibilang saya bukan maniak PKI, teori konspirasi, politik, dan sejarah kelam suatu bangsa, tapi tentu saja saya merasa harus tahu tentang kejadian-kejadian sebelum saya lahir, terutama karena kebanyakan orang yang terlibat hingga kini masih hidup.

1965, setahun setelah ayah saya lahir. Jika dibayangkan, pada masa itu jelas yang sangat berperan penting dalam masyarakat adalah mereka-mereka yang memiliki umur berkisar antara 20-35 tahun. Jika dikaitkan, di umur itulah kebanyak korban pemberantasan PKI dan para pelakunya ketika itu. Sementara, teror terhadap kekelaman masa lalu masih berlaku hingga ke pelajar-pelajar di masa Order Baru, dan karenanya saya menjadi yang termasuk di dalamnya (saya lahir tahun 1992). Sejak saya mulai paham, orang-orang di sekeliling saya masih membicarakan kebengisan PKI. Bahkan ketika salah satu tetangga saya yang pernah masuk Gerwani meninggal dunia, tak banyak yang mau membantu prosesi penguburan mayatnya, dan tentu saja hampir semua warga bergunjing kembali tentang PKI.

Kesimpulan sederhana saya sampai paragraf ini adalah, hampir semua orang di Indonesia adalah generasi yang masih menyimpan pemahaman yang salah tentang sejarah PKI tahun 1965.

Saya sesungguhnya tak sepenuhnya paham dengan komunisme, dan bahkan terkadang saya tidak dapat secara yakin membedakannya dengan paham sosialis. Tapi sedikit banyak, kedua paham itu adalah bentuk protes atas ketidaksetaraan yang terjadi di lingkungan masyarakat tempat mereka tinggal. Cita-cita kemenangan paham komunisme di Indonesia juga didasarkan atas hal itu.

Lantas mengapa PKI dianggap kejam dan bengis?

Karena mereka adalah pihak yang kalah, pihak yang tidak ‘memiliki’ sejarah.

Seperti yang saya katakan dalam tulisan saya sebelumnya, sesungguhnya masing-masing orang di dunia ini memiliki perjalanannya masing-masing. Sehingga semua yang ditulis oleh individu adalah semua yang menurut mereka terjadi pada mereka, apa yang mereka tangkap atas kejadian-kejadian. Dan karenanya, untuk menungkap sejarah, satu-satunya cara adalah melihat dari banyak perspektif, lantas kita menyimpulkan dari luar itu semua.

Ah, kembali ke filmnya…

Di film yang pertama, saya sangat terbawa dengan suasana yang diciptakan dari film. Saya jadi turut berpikir tentang banyak hal. Dan jika film ini ditonton seorang diri, maka pada akhirnya kita akan lebih paham tentang cara pandang orang-orang di dalamnya; mengapa mereka membunuh, mengapa mereka menganggap diri sendiri seorang pahlawan, dan sebagainya.

Sedangkan di film Senyap (entah mungkin karena mengambil filmnya berlatar desa), saya menganggap bahwa penolakan itu masih sangat keras pada masing-masing individu. Bahkan hanya untuk sekedar mengakui bahwa suatu ketika terbersit dalam diri mereka bahwa benar mereka membunuh, atau bahwa benar mereka adalah anak keluarga pembunuh. Pandangan tentang komunisme masih terasa jijik di mata mereka, dan bahkan sepenangkapan saya, hingga hari ini mereka bahkan tidak pernah mencoba mencari tahu tentang komunisme dalam artian yang sesungguhnya.

Saya yang lahir jauh setelah teror itu masih mengingat dengan jelas pelajaran sejarah tentang PKI hingga di bangku SMP, persis sama dalam film. Cerita yang tersebar di sekitar lingkungan saya juga masih tidak berubah. Hanya ketika memasuki bangku SMA yang lebih kompleks, saya akhirnya bisa mengakses lebih banyak buku, saya semakin memiliki akses ke perspektif lain tentang peristiwa itu. Semakin sering pula saya mencoba membayangkan berada di posisi Angkatan 65 yang menjadi tokoh utama di masa itu.

Semakin di renungkan, semakin saya mencapai kesimpulan bahwa negara ini masih dihantui makhluk gaib bernama komunisme, tanpa ingin lebih banyak tahu apakah makhluk itu malaikat atau setan. Masih banyak yang menjunjung tinggi premanisme dan kekerasan. Terkadang saya berpikir, tak pernah kah mereka membayangkan jika keadaan itu berbalik? Jika saja masing-masing kita lahir di keluarga yang sama sekali berbeda?

Budaya waris masih sangat ada di Indonesia, terutama yang berhubungan dengan kekuasaan. Akan semakin terasa jika kita hidup di desa, dimana informasi berjalan lambat dan diulang-ulang.

Maka hingga hari ini, banyak orang tetap tidak suka membuka bahasan tentang PKI dan korban kekerasan 1965. Buat saya pribadi, saya tak pernah merasa sedih dengan peristiwa itu, toh sesungguhnya saya tidak pernah terlibat secara langsung. Tapi sejak kecil saya terganggu dengan ketakutan yang ditebarkan atas nama komunisme yang tidak saya pahami. Rasa iba itu baru datang ketika saya melihat dan membaca perspektif para pelaku sejarah itu, mencoba mencerna apa yang ingin mereka sampaikan atas tindakan mereka, yang mana pun itu.

Seharusnya, kita sudah tak lagi dihantui ketakutan itu. Kita wajib melepas dendam dan murni mencari kebenaran. Kita wajib memisahkan diri dan melepas keberpihakan kita agar kita dapat menangkap semuanya. Kita wajib mempelajari semuanya, bukan untuk menyimpulkan kesalahan siapa, tetapi untuk mengikhlaskan peristiwa itu sebagai sejarah kelam negeri kita.

Jika tak juga kita memisahkan diri sebagai individu merdeka, maka kebenaran itu akan tetap senyap entah sampai kapan.

wordsflow