Setelah Cerita Masa Kecil

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya teringat kembali tentang masa kecil saya yang diulang-ulang secara tiba-tiba sejak kemarin. Haha, nggak jelas juga kenapa tetiba teringat masa kecil.

Ah, ini sebetulnya tulisan pelarian karena saya yang sedang jenuh menulis dan memikirkan konsep museum untuk skripsi saya. Padahal besok deadline, tapi sekali lagi, saya memang terlahir sebagai deadliner sepertinya (barusan ini kalimat pembelaan).

Mungkin lebih tepat juga dibilang, jika saya sedang banyak pikiran biasanya semua hal jadi tiba-tiba terbuka lebar. Saya menjadi teringat pada gagasan-gagasan yang pernah saya tuliskan dan saya ucapkan. Atau terkadang tetiba alur cerita novel yang telah lama saya tinggalkan kembali seperti tak pernah pergi. Makanya ketika nganggur saya justru akan sangat nganggur, dan saat seharusnya mengejar deadline saya justru mencari pelarian ke hal-hal semacam ini.

Nggak papa lah, siapa tau tulisannya jadi nggak sekedar sampah.

Jadi, mari mulai dengan mengulangi gagasan saya dulu, bahwa dunia ini adalah milik anak-anak.

Nggak sepenuhnya setuju dengan itu, tapi semakin dipikir, semakin merasa itu semua benar adanya. Mungkin karena basis manusia yang memang makhluk sosial, bergantung, dan memiliki semua sifat manusiawi lainnya.

Anak-anak, adalah subjek dunia yang tidak pernah diabaikan di banyak aspek. Bahkan hampir semua hal tujuan akhirnya adalah generasi yang ketika itu masih anak-anak. Maka ketika siang tadi saya melihat masih banyak anak kecil yang berlarian main petak umpet, saya cukup merasa lega, bahwa dunia mereka belum terenggut oleh sesuatu yang tidak secara alami ada.

Saya bukannya menentang modernisasi global, toh saya juga menggunakannya. Tapi jika membayangkan diri saya saat kecil mengalami hal-hal yang tidak sewajarnya ingin saya cari tahu sendiri, saya rasa saya akan menjadi orang yang berbeda.

Gagasan ini muncul karena hingga detik ini saya masih ingat pertama kali saya menonton Titanic berdua dengan ayah saya adalah ketika saya masih kelas 2 SD. Ketika itu saya tidur malam selama dua hari berturut-turut hanya untuk mengikuti ayah saya nonton. Sementara suatu ketika di kelas 1 SD saya pernah nonton Indiana Jones yang ke 2, dan bagian paling saya ingat adalah ketika mereka makan otak kera. Sampai sekarang masih sangat detil terekam dalam ingatan saya tentang itu semua.

Jadi, sebegitu membekasnya ingatan-ingatan tentang masa kecil hingga sampai kapanpun kita akan terus mengingatnya karena itulah yang membuka diri kita ke dunia. Ia adalah gerbang kita untuk mengenal lingkungan sekitar kita, dan mencari tahu ini-itu tanpa berhenti bertanya kenapa.

Tapi saya sedang tak ingin memberikan gagasan apapun tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pembetukan karakter pribadi masing-masing orang. Itu akan lebih mudah kalian temukan di tulisan ilmiah yang lainnya. Saya hanya merasa bahwa sebenarnya kenangan kecil itu sesuatu yang akan selalu mengganggu setiap orang, entah kondisi saat itu seperti apa. Saya pun begitu. Kehidupan masa kecil saya amat sangat membahagiakan, dan tak pernah saya melewatkan satu hari tanpa tertawa. Tapi bukan berarti tidak pernah ada bagian yang kelam di sana. Tetap selalu ada bagian-bagian yang tidak ingin saya ingat kembali, meskipun itu akhirnya tetap selalu terjadi.

Saya hanya merasa, jika akan sangat baik bagi kita untuk terus mengenang hal-hal semacam itu. Agar kita terus ingat bahwa kita datang dari kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa. Atau agar kita mengerti bahwa suatu hari nanti anak-anak kita akan mengingat masa yang sama.

*

Kan, padahal sebelum menulis saya punya banyak hal yang ingin saya keluarkan, tapi kini lupa begitu saja. Mungkin sebentar lagi ingat.

Sementara itu, saya mau bercerita tentang film Petualangan Sherina; saya sama sekali belum pernah menontonnya. Ahaha… Bahkan ketika kemarin sempat diputar di tv saya tetap tidak menontonnya. Entah lah, mungkin dia bukan bagian masa kecil saya yang saya cari-cari. Saya mudah teringat pada sesuatu, terutama yang berhubungan dengan bau dan lagu. Saya bisa teringat sesuatu yang telah saya lupakan sama sekali hanya dengan mencium bau yang saya kenal ketika itu. Dan terkadang itu mengganggu.

Ah, kebetulan saya sedang mendengarkan lagu Joan Baez yang Diamonds and Rust. Dan saya yakin tak lama lagi setiap kali saya mendengar lagunya saya akan teringat dengan suasana ini, begitu terus terjadi pada semua lagu yang saya dengar.

Saya bukan penggila lagu-lagu yang sedang hits atau pernah hits pada jamannya. Tapi sekalinya saya suka lagu, maka selalu masuk ke playlist untuk kemudian akan diganti lagi dengan yang lain nantinya. Joan Baez pun begitu. Saya baru pernah tahu namanya setelah membaca bukunya Soe Hok Gie, dan entah kapan itu terjadi. Tapi baru kemarin saya sungguh-sungguh mendengarkan dan mencari tahu siapa dia.

By the way, saya lantas merasa rugi karena bukan dari dulu saya mendengarkan lagu-lagunya.

*

Nah kan, saya tetap tak ingat mau menulis apa lagi. Ya sudahlah, mungkin saya sudahi saja karena harus kembali menulis konsep. Padahal saya sering mengkritik konsep orang lain, tapi nggak mampu membuat konsep sendiri. Haha.

Dan bagian yang tidak saya suka dari sedang-rajin-mengisi-blog adalah buku harian saya yang menjadi terlupakan. Sekian, selamat malam…

wordsflow