Sudah Akhir Tahun Lagi

by nuzuli ziadatun ni'mah


Dalam hitungan jam, kita akhirnya akan masuki tahun 2015. Haha, masih ingat tentang isu kiamat di tahun 2012? Rasanya itu baru terjadi beberapa waktu yang lalu, yang membuat sebagian orang merasa pesimis jika mereka akan bisa sampai ke tahun ini. Ah, tapi itukan sesuatu yang sesungguhnya ada di luar jangkauan manusia.

Baru-baru ini saya membaca biografi nabi Muhammad SAW yang ditulis oleh Karen Amstrong, yang bukan berlatar belakang muslim. Ia menuliskan tentang biografi beliau dengan cara barat, dengan bahasa yang sama sekali berbeda dengan semua biografi yang selama ini saya baca. Lantas itu membuat saya kembali teringat sejauh mana manusia ini dibedakan di dalam pemikiran mereka.

Entah kenapa, membaca biografi nabi Muhammad selalu menyenangkan buat saya. Ada sesuatu di sana yang tidak bisa dinalar, ada beberapa yang sangat umum terjadi, ada pergolakan batin, dan semua hal yang terlalu lengkap untuk bisa menjadi nasib seorang manusia. Tapi begitulah yang terjadi kepada beliau.

Bicara tentang akhir tahun, rasanya saya tak punya sesuatu yang ingin saya bahas secara khusus. Saya hanya merasa bahwa tahun depan saya harus banget lulus. Bukan lantaran saya bosan menjadi mahasiswa (men, menjadi mahasiswa tak pernah membosankan), tapi karena saya sadar bahwa orang tua saya semakin tua. Dan setelah setahun lamanya hanya mengerjakan skripsi yang masih harus saya jalani selama setengah tahun ke depan, siapa sih yang nggak bosan. Tapi jika ada pertanyaan tentang apa yang ingin saya lakukan, jawaban saya hanya sebatas ‘lihat saja nanti’. Maksud saya adalah, akan selalu ada hal yang bisa kita kerjakan, percayalah.

Oiya, jika tulisan sebelum ini saya tulis sebagai pelarian dari menulis skripsi, sekarang benda itu telah terkumpul rapi di kampus. Saya hanya tinggal membuat presentasi untuk seminar minggu depan. Tapi justru itulah bagian yang paling menentukan dari proses yang telah saya lakukan selama setahun terakhir. Setahun yang hanya ditentukan dari presentasi selama 15 menit. Oh, begitulah hidup saudara-saudara dan bukannya menuntut, yang perlu dilakukan hanyalah menjalaninya sebagaimana ia seharusnya. Bingung juga nggak sih kalo misalnya presentasinya harus 1 jam lamanya? Orang terakhir yang presentasi pasti bakal cuma diabaikan karena dosennya udah bosan.

Kan, saya jadi menuliskan sesuatu yang random begini. Tapi lanjut saja lah, toh saya sedang punya waktu luang sebelum sibuk lagi dengan si presentasi.

Apalagi ya yang ingin saya ceritakan?

Ah, di tahun baru nanti, orang tua saya akan pacaran sekali lagi di kota orang lain. Mereka barusan aja pergi ke Lampung, ke rumah nenek saya dari ibu. Dan setiap mereka ke sana pasti di waktu ketika saya sedang sibuk ujian, dan selalu di akhir tahun seperti ini. Terkadang saya merasa memang mereka tak berkeinginan untuk mengajak saya. Haha, yang barusan bercanda sih, toh saya sebenarnya udah diajak. Itu pemikiran saya saat kanan-kanak dulu. Ternyata proses itu berlangsung tahunan yak.

Di akhir tahun ini, ada juga kehebohan jatuhnya pesawat Airasia di perairan Selat Karimata. Itu yang sebetulnya ingin saya tuliskan kemarin. Kita sangat terhubung satu sama lain di dunia ini. Banyangkan saja, secara kasar dapat dikatakan bahwa ‘hanya’ sebuah pesawat yang jatuh, itu hanya sebuah benda. Tapi lihatlah, bagaimana jaringan hubungan sosial kita akhirnya dapat membangkitkan simpati seluruh negeri. Mungkin itu yang juga ingin diingatkan kepada kita semua di akhir tahun semacam ini. Kita tercipta sebagai makhluk sosial, dan begitu juga solidaritas membuat kita akan selalu teringat dengan sesama manusia.

Bagaimana pun, saya bersimpati untuk semua yang ditinggalkan, meski saya tak dapat melakukan apapun kecuali itu. Buat saya, semua peristiwa semacam itu akan selalu membuat kita mengingatkan ke diri sendiri bahwa kita tak pernah lebih besar dari sekedar manusia. Kita sering kali tak mampu menghadapi alam, sesuatu yang terlalu sulit untuk dikendalikan. Dan bahkan, untuk mereka yang entah percaya atau tidak kepada Tuhan, saya harap masing-masing kita ingat bahwa kita hanyalah manusia.

Ada lagi yang seru di akhir tahun ini. Ada begitu banyak orang di sekretariat saya yang sedang menyelesaikan skripsi nya. Kuliah selalu menyenangkan buat saya. Tapi melewati skripsi itu sesuatu yang lain lagi yang terasa berbeda. Jika di kuliah kita hanya butuh datang, mengerjakan tugas, ikut ujian dan semuanya selesai begitu saja, di tahap skripsi ini semuanya akan selalu terasa berbeda. Ia amat sangat harus dikerjakan dengan baik, dan meskipun saya adalah orang yang secara sadar selalu mengingatkan orang lain untuk mengerjakan skripsinya, saya adalah orang yang suka bekerja di bawah deadline, di bawah jadwal. Jadi saya bisa dengan leluasa menentukan kapan saya bisa bermain dan kapan saya harus merelakan waktu (bahkan jam tidur) saya untuk fokus pada skripsi.

Mungkin itu dulu, nanti saya akan menulis lagi tentang yang lain. Selamat siang…

wordsflow