Cerita dalam Dunia Anna

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya sedang membaca buku Dunia Anna, yang sekarang sudah bisa ditemukan di banyak toko buku.

Saya tidak akan banyak menulis tentang isi bukunya, atau bahkan membahas tentang pengarangnya, atau membahas tentang filsafat. Bukan itu topik utama tulisan saya yang ini.

Sekedar membagi rasa lega, akhirnya saya terbebas juga dari Seminar Pra Tugas Akhir yang harus saya laksanakan sebelum masuk ke Studio Perancangan Tugas Akhir saya. Kali ini saya membuat Museum Pinisi (entah saya lupa pernah membahasnya atau belum). Intinya sih, setelah ini saya harus mengejar revisi sebelum bulan Februari biar saya tetap bisa selesai bulan Mei. Karena saya sudah mulai lelah mengerjakan rangkaian skripsi yang maha panjang ini. Karena saya sebetulnya sedang mengejar sesuatu (atau katakanlah seseorang)

Well, sedikit cerita, seminar saya berlangsung amat sangat lancar. Di antara semua rombongan se-tim saya untungnya saya cukup sedikit revisinya, hanya saja harus banyak motong sana sini biar tinggal 80 halaman saja. Haha, itu tugas berat; membuang apa yang sudah susah payah kita kumpulkan. Tapi begitulah biar revisi ini lekas selesai.

Kembali ke topik bahasan,

Saya belum selesai membaca bukunya. Tapi saya terusik karena di tengah-tengah buku Jostein Gaarder membahas tentang antar generasi, dan ini mengingatkan saya akan ketakutan masa lalu saya.

Saya tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa kehidupan ini sebentar, buat saya itu tidak demikian. Hidup menjadi tampak sangat sebentar karena kita membandingkan dengan kecepatan cahaya, karena kita membandingkan dengan luasnya alam semesta, karena kita membandingkan seberapa tua alam yang kita tinggali ini. Tapi jika saya memperkecil lingkup imajinasi saya hanya sebatas pada manusia, menjadi tua itu menakutkan buat saya.

Dulu saya pernah memikirkan tentang kakek-nenek saya yang sudah hidup sejak penjajahan Belanda dan Jepang. Bayangkan saja, di era yang masih sangat manual seperti itu mereka lahir, dan di tahun ini dimana segala sesuatu telah berubah menjadi dunia cyber, mereka masih hidup. Ada berapa banyak peristiwa yang mereka lalui untuk sampai di hari ini. Ada berapa perubahan kebudayaan masyarakat yang mereka lewati hingga hari ini. Dan begitulah, mereka tergerus zaman yang masih mereka tinggali.

Maka setiap kali saya pulang ke rumah dan melihat kakek-nenek saya, pemikiran semacam itulah yang ada dalam benak saya. Apa yang akan saya temui di 10, 20, 30, bahkan 50 tahun ke depan? Di zaman seperti apa saya akhirnya akan meninggalkan dunia ini? Tanpa ingin membahas lebih, semua ini cukup jadi pemantik saja, karena memang yang kita kerjakan sekarang akan juga kita rasakan pengaruhnya hingga kita mati nanti.

Semacam meng-amin-i Soe Hok Gie jika mati muda itu adalah anugerah.

Dan, bukan kah itu menunjukkan bahwa manusia sebenarnya takut akan perubahan, meskipun akhirnya menerima hal itu, cepat atau lambat? Haha, olah pikir sejenak sebelum sibuk lagi dengan skripsi. Selamat sore…

wordsflow