Mencari Sebuah Kata dalam Buku Tebal

by nuzuli ziadatun ni'mah


Begitu kali ya ibaratnya, ketika kita dihadapkan pada realitas dunia yang begitu luas, tapi kita juga dihadapkan pada batas-batas diri, baik fisik maupun pengetahuan.

Siang tadi saya melakukan percakapan yang cukup penjang dengan Fadlan, seorang mahasiswa Fisika Teknik yang ‘kebetulan’ menjadi teman saya. Mungkin percakapan ini juga dipengaruhi sama bacaan saya sebelumnya, Dunia Anna, dan film-film, dan pemikiran masa kecil, dan semua hal yang terjadi pada saya.

Saya akan mereview apa aja yang kami perbincangkan tadi siang;

Begini, sedikit cerita, kami membahas tentang tugas akhir yang sedang coba saya revisi, sembari Fadlan komentar ini itu tentang buku yang saya baca; Brida, karya Paulo Coelho. Saya juga baru kali ini berhasil membacanya setelah sebelumnya hanya bisa ngelirik di toko buku. Lantas saya katakan padanya bahwa saya sedang mencoba melarikan diri dari pikiran saya yang telah tidak sengaja bangun dari tidur gegara membaca Dunia Anna.

Dan kami pun berbincang tentang substansinya (ah, ini saya tambahkan beberapa pendapat yang tidak masuk obrolan kami).

Isu yang diangkat di dalam buku itu adalah tentang pemanasan global, dan upaya-upaya kecil yang coba digagas untuk menyelamatkan bumi dengan basis spesies. Itu persis seperti yang pernah saya angan-angankan ketika jaman saya pertama kali mengenal Animal Planet, National Geographic, atau beberapa jenis yang mirip dengan itu. Dan masih ingatkah tentang Eliza Thornberry yang bisa bicara dengan binatang? That was so awesome. Terlepas dari itu, saya sering sekali mengganggap binatang itu sekelas manusia. Sungguh. Bahkan mungkin karena efek kartun itu, saya bahkan merasa benar-benar bisa membuat binatang mengerti maksud saya dengan melihat langsung ke dalam matanya. Tidak selamanya berhasil sih, tapi itu membuat saya memandang binatang dengan cara yang berbeda.

Dalam perbincangan tadi siang, kami memulai dengan membahas ‘setelah kuliah lantas apa?’. Dia berkata pada saya, “Kamu pernah nggak berpikir untuk belajar terus seumur hidup?”.

Dan maka saya bilang iya. Belajar itu obsesi terbesar saya meskipun saya tahu saya tidak mampu mengambil semuanya. Haha. Jadi teringat sindiran guru Bahasa Indonesia saya saat SMA, “Kamu lebih milih jago di satu bidang atau bisa semua tapi setengah-setengah?” Dengan yakin saya bilang “Saya lebih memilih bisa semua dan mendalam”. Menurut saya, secara naluriah saya tertarik dengan benda-benda langit, dengan interaksi antar makhluk hidup, dengan hal-hal yang tidak terlihat, dengan pemikiran manusia-manusia lain di bumi ini, dengan maksud Tuhan menciptakan kita, semuanya. Buat saya secara naluriah saya dibawa untuk bisa tertarik dengan semua itu, dan saya memilih untuk mengikutinya.

Saya ceritakan pada Fadlan, bahwa akhirnya saya pun menyadari apa yang tidak mungkin dari keinginan itu. Dengan keinginan yang begitu egois dan serakah, pada akhirnya saya tersadar bahwa setelah saya tahu semua, lantas buat apa jika akhirnya saya tidak mampu berbuat banyak? Itu bukan tindakan kemalasan saya bilang. Salah satu penyebabnya adalah gender, dan meski mungkin banyak yang menyangkal, tapi buat saya gender memberikan saya batasan untuk bergerak. Ketika kamu seorang wanita, kamu akan tahu seberapa mengekang kah itu, atau seberapa besar pengaruhnya terhadap pergerakan kita. Saat saya bisa bicara berdasar pengetahuan itu, tidak akan ada gunanya jika akhirnya saya pun tidak berbuat apa-apa. Jadi saya katakan padanya bahwa bisa jadi passion saya adalah menuliskan semua itu untuk banyak orang.

Lantas buat apa saya mengambil jurusan Arsitektur?

Haha. Itu pertanyaan yang amat mudah dijawab. Sama sederhananya dengan mengapa saya masuk Mapala. Saya sering punya impian kecil yang saya ikuti terus menerus. Seperti memilih jurusan, alasan sederhananya adalah karena saya ingin membangun sendiri tempat dimana anak-anak saya akan tumbuh besar. Karena saya penyuka matematika dan fisika tapi tak ingin merelakan kesenangan menggambar, dan pilihan itu jatuh pada Arsitektur. Dan itu lantas tidak membuat saya ingin menjadi arsitek handal. Lihatlah, pikiran saya sekarang tergoda pada membangun keluarga.

Saya mencoba berkelakar pada Fadlan tadi siang. Saya ceritakan ketakutan saya akan hari tua, bagaimana dunia ini akan berubah dalam waktu singkat. Bukankah revolusi industri belum lama berlalu dan sekarang kita sudah ribut masalah pemanasan global? Begitu cepat dunia berubah.

Saya sampaikan juga pemikiran saya tentang bahasan filsafat yang sering gagal saya pahami. Mengapa tak saya temukan pemikiran serupa dari penulis timur? Kenapa tak saya temukan gagasan ketimuran di banyak buku? Atau cuma sayanya aja yang belum nemu. Dan bukannya menyombongkan diri (oke, mungkin juga sih), kenapa kita harus mengutip sesuatu dari orang lain?

Ada pendapat dalam diri saya yang meyakini bahwa pertanyaan filosofis itu pernah mampir dalam diri setiap orang. Yang membedakan adalah momen ketika mereka tersadar akan pertanyaan itu. Beberapa memilih untuk langsung mencari jawabannya, beberapa menyimpan pertanyaan itu untuk nanti, beberapa takut jika menemukan jawaban sehingga memilih melupakan, beberapa terlalu nyaman sehingga mengabaikan, dan semua alasan lain yang akhirnya membagi manusia ke dua kubu besar; yang mencari jawaban dan yang melupakan. Jadi jika suatu hari kita bertemu dengan gagasan yang disampaikan orang lain, menurut saya itu hanya sebuah pemantik untuk mematangkan gagasan yang telah kita punya berdasar pengetahuan, pengalaman, dan teori yang kita kembangkan. Tapi sungguh, tidak masalah jika kita berimam ke satu tokoh, hanya saja kita harus punya pernyataan yang bertanggungjawab atas itu semua.

Kami juga berimajinasi tentang manusia yang menjadi lebih kecil di kemudian hari, meyakini bahwa memang begitulah evolusi terjadi (seperti Nabi Adam yang katanya dulu sangat besar). Bagaimana jika kita berubah jadi sekecil semut? Atau bagaimana jika kamu adalah tanah Jakarta? Atau bagaimana jika manusia membuat pulau-pulau mengambang untuk memindahkan populasi sementara pulau sungguhan memperbaiki diri? Atau mengapa kita tidak mulai saja menggunakan tenaga nuklir alih-alih mencoba berbagai energi alternatif sementara permintaan terlalu tinggi? Kenapa kita harus menuruti negara-negara pemenang perang sementara kita tidak ambil bagian dalam perang itu? Kenapa kita terbatas pada kebijakan politik dan ekonomi sementara kita tidak mengerti?

Pertanyaan itu berkembang semakin banyak tanpa bisa terkendali dalam pikiran saya. Kami juga sempat berkelakar tentang limbah radioaktif (saya sih amatir parah di bab ini). Teman saya yang jurusan Teknik Nuklir pernah cerita tentang studi limbah padat radioaktif. Lantas bertanyalah saya pada Fadlan, “Kenapa limbah itu nggak dibuang aja ke luar angkasa?”. “Iya ya, kan di luar angkasa juga isinya radioaktif”. Setelah berpikir sejenak, saya berkelakar, “Pasti udah pernah dipikirin coy sama negara maju. Kitanya aja yang ada di negara berkembang makanya nggak tau informasi begitu”. Dan belakangan saya konfirmasi ke Adoy bahwa gagasan itu sudah dibahas dari lama oleh para ahlinya. See, betapa menjadi negara tertinggal sangat mempengaruhi pemikiran seseorang.

Lebih jauh, saya teringat pernyataan senior saya tentang pentingnya mempelajari ruang angkasa. Bukankah yang kita lihat adalah citra jutaan tahun cahaya? Bukankah bintang yang paling dekat pun tidak mampu kita datangi dengan mengorbankan semua waktu yang kita punya? Singkatnya, kita tidak punya harapan di luar angkasa, jadi kenapa masih dipelajari?

Tapi, jika kita menemukan unsur di planet terdekat yang bisa dimanfaatkan di bumi, kenapa nggak? Kita tak bisa menutup kemungkinan itu. Atau kita tidak seharusnya menyerah pada pesona luar angkasa yang siapapun pasti tergoda. Dan bukankah jika kita berpikir sejauh itu, masalah kita tidak sebatas ribut dengan teman, tapi lebih jauh dari yang bisa kita temui di depan mata.

Jika kamu pernah punya pertanyaan tentang jiwa manusia, kamu akan paham maksud saya.

Ah, ada lagi gagasan di Brida yang juga pernah saya pikirkan sebelumnya. Jika bagian terkecil dari elemen adalah atom, dan tidak ada atom yang bertambah atau berkurang di bumi ini, bukankah sudah pasti ia akan menuai kehancuran jika salah satu berlebihan? Sebagai yang awam dalam membahas unsur-unsur alam, katakanlah ada x jumlah unsur karbon di bumi. Lantas ia mengalami reaksi kimia untuk kemudian terdistribusi menjadi minyak bumi, bagian dari flora fauna, tersebar di udara, atau tetap ada di tanah. Terus misalnya jumlah manusia semakin banyak, kan berarti unsur karbon yang membentuk selainnya menjadi berkurang bukah sih? Kasarnya, jika manusia semakin banyak, lalu minyak bumi diubah menjadi udara, lantas jumlah karbon ‘jatah’nya flora dan fauna harus menutup kekurangan ‘kebutuhan’ karbon pada manusia. Jadi akhirnya jumlah mereka akan berkurang. Mmm, itu…

Ah, ngerti kan ya maksud saya? Semacam itulah. Intinya, jika nanti semua cadangan unsur itu sudah kita pakai semua, maka bukankah kita harus merelakan banyak hal untuk mengantikan keberadaannya?

Kan, saya jadi takut setelah memikirkan itu.

Tapi, sekali lagi, saya hanya manusia. Mungkin saya bisa menjelaskan beberapa fenomena, atau bisa menerima banyak hal dengan lebih netral, atau bisa berpikir jauh hingga terlalu sakit saat jatuh. Tapi saya masih menganggap penting skripsi, atau harga bensin yang naik, atau urusan cinta, atau novel apa yang ingin saya baca, film-film yang baru keluar, dan lagu-lagu populer. Saya masih tertawa melihat kelakuan bodoh orang-orang, saya masih menangis jika terluka, atau sedikit banyak saya masih mencari popularitas dengan menulis ini semua.

Ya, saya masih tetap manusia biasa jika hanya sekedar memikirkan semua yang saya tulis di atas. Hah, ironi yang lebih menyakitkan bukan?

wordsflow