Mencinta sewajarnya

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya sedang belajar untuk merelakan, untuk membiarkan segala sesuatu berjalan sewajarnya, begitu juga dengan cinta.

Dulu, ketika saya baru pertama-tama memahami perasaan yang primitif itu, saya kira semua cinta memiliki arti dan porsi yang sama. Saya kira semua cerita berakhir seperti Cinderella. Tapi ternyata saya salah mengira. Ternyata saya terlalu sering membaca cerita.

Namun semakin banyak saya bertemu dengan orang, semakin saya memahami perasaan. Suatu ketika dulu, saya bertemu dengan seseorang yang mengisi pelupuk mata saya di malam hari, saya akan merasa mendamba sepanjang waktu, hingga akhirnya hilang lah diri saya tertelan oleh perasaan itu. Lantas ia memberontak dan menciptakan sakit yang membekas.

Dari waktu ke waktu, saya mencoba memaknai ‘cinta’ yang datang dan pergi. Saya belajar memaknai perasaan dan peranannya dalam diri saya. Saya mencoba memilah mana yang cinta dan hasrat.

Lalu saya bertemu denganmu, saya belajar banyak darimu, saya melewati banyak peristiwa sejak mengenalmu. Haha. Tetap saja mencintai itu masih serumit yang saya percaya sejak dulu.

Tapi saya belajar untuk merelakan. Saya belajar untuk mencinta sewajarnya. Ketika melihatmu, saya bergelut dengan detak jantung. Ketika tak menemukanmu, saya mencoba untuk menahan rindu.

Saya tak mau mencintaimu dengan membabi buta. Saya tak mau terlalu dalam, karena kedalaman akan menenggelamkan. Saya tak mau terlalu luas, karena ia hanya akan menyesatkan. Saya ingin mencintamu dengan kedalaman yang cukup untuk diselami, serta luas yang cukup untuk saya arungi. Saya membangun cinta sebagai perasaan, bukan obsesi pada diri. Saya membangun cinta bukan untukmu semata, tapi justru untuk diri saya sendiri.

Kamu bukan satu-satunya yang mengajarkan cinta pada saya, tapi kamu adalah bagian yang penting di sana. Kamu mungkin tidak akan selamanya bisa saya yakini keberadaannya, tapi tetap saja kamu adalah orang yang pernah saya cinta. Kamu pernah menjadi begitu berharga bahkan di saat saya tidak yakin dengan diri saya sendiri.

Ya, saya katakan saya sedang belajar, karena saya belum dapat merelakan. Dan bukankah setiap mereka yang mencinta selalu pernah ada rasa takut kehilangan? Tapi ketika kamu bahkan tidak memiliki apapun, kamu tak seharusnya merasakan kehilangan itu. Dan terkadang justru tidak mudah menjalani itu semua apalagi setelah kita menyadarinya.

Cinta, tidak boleh biasa saja, karena itu akan mereduksi maknanya. Tapi ia tidak juga boleh berlebihan, karena ia akan mengaburkan.

Mencintailah dengan puisi, sajak, dan lagu. Mencintailah dengan semua panca indera. Mencintailah dengan getaran dan gelombang, bukan dengan kata dan ucapan. Mencintailah seperti matahari pada bumi. Karena justru ketika berjauhan, mereka bisa berrotasi dan berevolusi untuk mencipta siang dan malam, musim semi dan musim gugur. Atau mencintailah seperti langit dan tanah, dimana keduanya hanya mampu berharap pada air untuk dapat terus berpesan. Karena ketika ia tidak terjangkau ia mencipta keindahan lewat hujan.

Saya tidak akan menodakan cinta pada sebuah objek semata. Tidak juga padamu, meskipun saya masih menginginkan itu (ha, inkonsistensi saya mulai muncul). Bukan kamu yang harus saya miliki, tapi yang harus saya lakukan adalah memurnikan cinta, agar saya dapat memberikannya kepada orang yang akan menghabiskan sisa harinya bersama saya. Entah itu kamu, atau siapa pun.

Ya, anggaplah ini sebagai surat untukmu yang tak terucapkan.

wordsflow