Sembari Menunggu Hujan Reda

by nuzuli ziadatun ni'mah


Okeih, sementara di luar hujan begitu deras mengguyur lingkungan Teknik (yang menyebabkan saya akhirnya nggak jadi pulang ke kosan), maka ijinkan saya menulis beberapa hal yang seharian ini saya lihat.

Dimulai dari bermimpi super keren buat calon Museum Pinisi saya, dan betapa beruntung karena sewaktu bangun saya masih ingat. Mimpinya nggak begitu heboh sih, tapi ada ide super keren yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan. But well, let me keep it myself for now. Hehe..

Lalu, sewaktu bangun tadi, saya dan seorang teman pergi makan pagi di sekitaran Pogung. Itu langganan kami selain makan soto. Ceritanya di depan warung makan itu ada beberapa bapak-bapak yang sedang memperbaiki jalan dengan menambahkan lapisan semen di atas jalan. Saya tiba-tiba jadi prihatin. Kurangnya pendidikan terkadang memang membuat ide seseorang menjadi tidak terlaksana secara maksimal. Sedikit bicara tentang jalan, setahu saya jika jalan itu masih saja dilalui oleh mobil dengan cara mengendara yang begitu, beban yang tidak terkontrol, hujan yang masih mengguyur sampai kira-kira dua bulan ke depan, saya rasa yang dilakukan bapaknya nggak akan bertahan lama. Tapi mereka begitu bersemangat mengerjakannya, sangat sungguh-sungguh dan well, tiba-tiba saya merasa malu sendiri.

Nggak berapa jauh dari sana ada tukang parkir soto langganan kami yang bisa dibilang wajahnya sudah sangat akrab. Sembari masih makan saya memperhatikan ia minum di balik pagar warung soto. That feeling at the moment is so-maybe you know what I mean. Look, saya mungkin hanya satu dari sekian banyak kaum romatis yang bisanya cuma ngomong dan nulis. Tapi perasaan semacam itu tidak bisa saya hilangkan dengan pura-pura bilang, “Oh, mereka bekerja dengan gigih”. Tapi menjadi tukang parkir? Oke, butuh sih memang (siapa sih yang nggak butuh tukang parkir?) tapi bapak itu mungkin bisa melakukan hal lain yang lebih dari itu. Menghabiskan 8 jam waktunya dalam sehari untuk pekerjaan yang lain.

Tapi itu hanya pikiran sesaat, karena toh saya tidak bisa membantu secara nyata dengan memberikan pekerjaan lain. Mungkin simbiosis di antara tukang soto dan bapak tukang parkir juga sudah baik, jadi untuk apa diobrak-abrik. Meski demikian, terkadang perasaan semacam itu tidak bisa saya buang begitu saja.

*

Oh oke, saya mulai ngomong nggak jelas.

Begini, yang sebenarnya ingin saya tulis adalah perasaan ‘sampah’ di momen-momen tertentu. Saya tidak tahu adakah yang sering merasakannya juga, atau banyak orang yang akhirnya merasa itu bukan sesuatu yang penting.

Kemarin contohnya, saya pergi untuk beli celana, dan dalam kesendirian itu, dalam kekosongan pikiran, saya tersadar tiba-tiba, “Buat apa saya beli baju?” Kedengarannya sepele, tapi jika dibarengi dengan perasaan ‘sampah’ yang saya bilang tadi, kita akan merasa terbawa jauh. Jadi muncul pikiran, “Oke, mungkin peradaban kita sudah cukup berkembang, sampai-sampai membedakan warna, ukuran, bahan, bentuk, dan segala hal fisik itu menjadi sangat esensial.” Dan jika pemikiran begitu telah datang pada saya, sekali lagi saya harus berusaha memotivasi diri bahwa itu penting untuk hidup saya.

Tapi, sungguh penting kah itu?

“Ya, mungkin itu memang penting, karena kita tercipta dengan rasa malu dan hasrat, karena rasa malu sudah ada sejak lahir dan kita selalu berusaha untuk tidak membiarkannya keluar. Mungkin karena itu kita membeli pakaian dengan ketentuan ini dan itu. Mungkin karena itu kita butuh barang ini dan itu, yang begini atau begitu. Mungkin kita sesekali memang perlu pergi ke mall dan makan di restoran enak, agar hasrat kita terpenuhi. Agar kita justru tidak termakan hasrat.” Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya..

Pemikiran begitu sering sekali datang, terutama di keramaian dan dalam kesendirian. Saat saya menunggu antrian masuk bioskop, saat di lampu merah memerhatikan orang-orang berebut jalan, saat di mall, di restoran, dan beberapa keramaian lainnya. Semacam membuat saya gila dengan semua hal yang mereka lakukan bersama (meskipun saya juga melakukan beberapa kegiatan itu).

Anehnya, saya tidak pernah merasa begitu di pasar, di stasiun, dan beberapa tempat tertentu. Dan bahkan perasaan semacam itu tidak pernah datang saat saya berkegiatan di lapangan. Yang datang adalah perasaan kosong dan hilang, untuk kemudian merasa ‘pulang’ adalah tujuan yang paling berharga.

*

Yah, pada akhirnya saya nggak merasa inti tulisan ini tersampaikan sesuai dengan maksud saya. Tapi biarlah, sembari mengisi waktu menunggu hujan reda.

Mungkin sekali-kali kalian harus mencoba merasakan momen ‘sampah’ itu. Dan siapa tahu bisa memberi saya jawaban yang menenangkan tentang fenomena itu.

wordsflow

 

ps)

Sedang ada banyak pembangunan di sekitar kampus saya, dan nggak tahu kenapa saya kesal meskipun saya kurang berhak untuk itu. Bukankah pikiran begitu dilematis? Antara ingin bilang pembangunan sudah sangat komersial vs kebutuhan yang memang meningkat vs pengeluaran pemilik modal yang menuntut lebih banyak pemasukan.

Semakin dipikir saya semakin nggak mau masuk ke dunia konstruksi, tapi kalau nggak begitu kapan omongan saya terealisasikan? Entah, saya mau masak mie dulu aja.