Sajak (iii)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Kemarin lalu kamu menunduk malu-malu,
Terdiam di antara rerimbunan perdu di bukit batu

Sebelumnya kamu terbang melintang,
Seperti membiarkan angin membawamu terbang

Kini kamu terbaring tenang, di sebelah bujur tertidur ragaku
Mengelus pelan rambut kecil di dahiku
Menelusur malu-malu lekukan dan jeda pada jemariku

*

“Sayang, dunia ini begitu luas dan penuh, tapi mengapa kita dipertemukan dengan ia atau mereka?

Ada banyak yang tak terjangkau di antaranya, mungkin kamu pun salah satunya, mungkin juga bukan

Tapi ketahuilah, ada kalanya aku bertanya dari mana rindu bermula, atau kapan cinta tercipta,

Dan di antara angan bertebaran itu, selalu terlintas dirimu dengan senyum dan mata biru

Seakan kamu bercerita kepadaku bahwa ada takdir yang menunggu dan mengganggu”

 

wordsflow