setelah mencoba menulis berulang kali

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya begitu lama melupakan bagaimana rasanya menulis dengan bahagia. Entah berapa kali saya dihadapkan pada halaman baru di blog ini, berusaha untuk menulis satu atau dua kalimat serius yang bukan tentang kamu dan tentang sajak. Tapi semuanya putus di tengah jalan, dan tanpa sengaja terlupakan.

Dan ini adalah percobaan saya yang ke enam dalam kurun satu minggu terakhir.

Ya, saya sedang tidak begitu paham dengan perubahan diri saya, entah untuk yang ke berapa. Saya masih menyukai lagu-lagu yang sama, masih melakukan banyak hal yang sama, masih memikirkan beberapa hal yang sama saja, namun semua itu tidak berdaya menghadapi berubahan hati saya yang tiba-tiba. Dan lebih menyebalkan lagi karena saya tidak dapat menjelaskan ke diri sendiri tentang perubahan itu.

But okay, just simply forget it.

*

Saya mau bercerita tentang proses skripsi saya yang kini telah memasuki tahapan studio perancangan. Itu artinya setelah berkutat dengan penelitian, konsep, dan semua diagram-diagram programatik itu, akhirnya kami melakukan hal yang lebih menyenangkan, yaitu corat-coret.

Seperti yang sebelumnya saya ceritakan, skripsi saya tentang Museum Pinisi, yang meskipun tidak menggunakan pendekatan atau penekanan secara spesifik, namun semua pembahasannya menuju ke arah critical regionalism. Dalam hal ini saya tidak ingin mengutipkan beberapa kalimat dari para pencetusnya. Namun secara pribadi saya percaya teori ini yang paling cocok untuk menangani beberapa permasalahan desain di daerah.

Terkadang bahkan hingga saat ini, saya sendiri masih belum yakin tentang materi yang saya pilih. Sebegitu penting kah sebuah Museum Pinisi dibuat? Sungguh kah harus di sana dengan konsep yang demikian? Padahal riset yang saya lakukan sudah dianggap cukup, tapi saya masih merasa ego saya yang ambil bagian paling besar di sana.

Teringat dengan pembahasan Museum Karst Indonesia yang ada di Pracimantoro, Wonogiri, yang pada akhirnya pun tidak terselesaikan dengan baik. Saya tidak tahu apa yang kurang dari tempat sekeren itu. Tapi saya pribadi suka jalan-jalan ke museum. Buat saya museum itu sangat nostalgic dengan segala bentuk penataannya, backsoundnya, suasananya, pengunjungnya, dan terutama dari materinya. Mungkin salah satunya juga karena saya menggemari sejarah meskipun nggak pernah bisa menghafal nama dan tahun. Bagi saya, olah imajinasi yang saya rasakan ketika membaca itu sudah cukup menggantikan.

Ketika pengambilan data tempo hari, saya pernah berkunjung ke Museum Bahari di hari Senin yang notabene semua museum libur. Beruntung saya bertemu dengan Kepala Bidang Koleksi dan Perawatan-nya Museum Bahari, yaitu Pak Isa. Sungguh baiknya beliau karena berkenan saya wawancarai secara illegal tanpa surat dari kampus, ngasih saya es teh di siang bulan Oktober-nya Jakarta, dan semua hal lainnya. Bapaknya bercerita bahwa menjaga museum sangat tidak mudah. Sudah begitu sangat jarang orang yang mau sungguh-sungguh meluangkan waktu lebih dari 1 jam untuk mengelilingi semua bagian museum untuk bertanya ini dan itu kepada petugasnya. Padahal tiket masuk museum tak pernah mahal di Indonesia. Museum bahari saja hanya 5.000, sama halnya dengan Museum Nasional yang ada di lingkungan Monas.

Dengan tempat yang se enak itu, lokasi yang menyenangkan, akses ke museum yang mudah, sangat jarang warga Indonesia yang menghabiskan hari liburnya dengan jalan-jalan ke museum.

*

Jika dibandingkan dengan museum yang dikelola secara swasta seperti Museum Ullen Sentalu maupun Museum Affandi, keduanya memiliki tiket yang jauh lebih mahal, namun dengan kualitas materi pameran yang tidak jauh berbeda.

Jadi bedanya di mana?

Sepertinya, yang membedakan keduanya adalah eksklusifitas museum dan pelayanan yang diberikan.

Yah, meskipun saya menulis seperti ini, tetap saja ada sangat banyak museum di Jogja yang belum sempat saya kunjungi, entah yang harga tiketnya hanya 2.000 atau yang sampai 50.000.

Saya sih lebih ingin mengajak teman-teman untuk lebih banyak melihat tempat-tempat menarik yang bukan hanya bagus untuk difoto, tapi memudahkan kita untuk mengambil pengetahuan dari Sang Berilmu.

Yah, tengok saja Museum Samudraraksa di kompleks Candi Borobudur, Museum Karst, Museum Ullen Sentalu, Museum Merapi, Museum Affandi, Museum Geologi, Museum Sonobudoyo (saya juga baru tahu kalau museumnya ada 2), dan entah berapa museum lagi yang ada di Jogja.

So then, let’s take a tour..

 

wordsflow