(dosa) para arsitek

by nuzuli ziadatun ni'mah


superman is dead facebook page's photo

superman is dead facebook page’s photo

Apa kabar dunia arsitektur Indonesia hari ini?

Sedikit saya ceritakan, bahwa saya bukan mahasiswi Teknik Arsitektur sungguhan. Saya tidak mengikuti perkembangan pembangunan di Indonesia, saya tidak tahu Arsitek-Arsitek terkenal dunia dan di Indonesia, saya memprotes pembangunan sana sini, saya tidak mengikuti perkembangan teknologi dan bahan bangunan, dan ada beberapa alasan-alasan lain yang membuat saya tidak menyebut diri saya sebagai Arsitek. Lebih dari itu, sejak dulu saya tidak pernah tertarik untuk posting hal-hal yang berhubungan dengan kuliah saya, tidak berkeinginan terlalu besar untuk ikut sayembara (yang notabene bisa menjadi wahana pembelajaran), dan tidak ikut magang sana sini.

Tulisan ini pun begitu. Saya bukan sedang mendukung perkembangan dunia arsitektural Indonesia.

Beberapa menit yang lalu, seorang teman saya share gambar tersebut di facebook. Saya pun teringat kuliah Studio Arsitektur 1 yang saya ikuti di semester 1 kuliah saya. Saya kasih tahu apa yang menjadi kekuatan arsitek di jaman sekarang:

  1. Gambar yang menarik dengan warna yang indah dan presentasi yang menawan
  2. Penjelasan yang detial dan tersusun dengan baik dan mampu mendoktrin pendengar (klien/awam)
  3. Maket yang baik untuk merepresentasikan desain secara 3 dimensi

Ketiga poin itu yang menjadi kekuatan setiap arsitek dalam memenangkan klien. Teknik presentasi itu sangat penting saudara-saudara. Pada prinsipnya, minimal diperlukan dua keahlian yang dibutuhkan oleh mahasiswa agar dapat memenangkan dosennya. Jika bukan gambarnya yang bagus, sebisa mungkin presentasinya menawan dengan maket yang representatif. Dan pun sebaliknya, minimal dua di antara tiga itu harus jago.

Nah, sampai sini, sudahkah melihat keterkaitan dengan dunia nyatanya?

Memang, ada banyak arsitek yang memang bertanggungjawab terhadap sumpah yang ia angkat. Terhadap etika insinyur yang telah mereka dapat di bangku kuliah. Tapi sungguh, tidak semua orang tumbuh menjadi orang baik.

Ketiga hal di atas dapat dimanipulasi, dan akan tampak berbeda di mata orang-orang yang tidak sering ada di dunia arsitektur dan konstruksi. Ada cara-cara membuat gambar kita menjadi bagus, ada cara-cara memilah mana yang harus disampaikan dan mana yang tidak, dan ada cara-cara membuat maket menjadi jauh lebih menarik ketimbang kenyataannya. Bukan hanya teluk Benoa, tapi banyak bangunan-bangunan yang disebut sebagai karya arsitektur namun tidak mencerminkan etika arsitektural.

Betapa mirisnya ketika di kampus kita diwajibkan untuk melakukan pengumpulan data sekunder, wawancara, analisis site, analisis kebijakan site, sintesis teori dan preseden, dan semua tahapan yang super panjang itu, pada prakteknya di dunia kerja, waktu yang dipunya tidak akan sebanyak ketika kuliah. Banyak klien yang kejar setoran baik dalam urusan desain dan konstruksi, bahkan perijinan. Banyak bangunan tinggi menyalahi aturan daerah.

Salah satu hotel di dalam film itu adalah tempat saya Kerja Praktek, dan saya tahu pasti bahwa yang sedang dibicarakan dalam film itu memang benar adanya. Toleransi dalam dunia konstruksi itu lebih mengerikan dari toleransi desain, karena akibat besarnya adalah kegagalan konstruksi yang dapat menyebabkan runtuhnya bangunan dan besarnya dampak lingkungan. Belum lagi jika membicarakan limbah (terutama hotel) yang akan ditanggung oleh lingkungan sekitar.

Sayang tidak ada mata kuliah AMDAL di kampus saya.

*

Lihat bukan, menjadi arsitek tidak sepenuhnya keren karena kita harus juga disejajarkan dengan orang-orang seprofesi, baik yang memang mengikuti etika engineer maupun yang asal bikin bangunan. Akan ada banyak kritik dari lingkungan sekitar. Dan sebagai (calon) lulusan Teknik Arsitektur, harus sejak awal saya memahami semua itu. Menjadi orang yang bertanggungjawab atau sekalian mengikuti arus kebutuhan-pembangunan-untuk-mendukung-perkembangan-perekonomian.

Ah, dosa arsitek…

Saya jadi teringat cerita seorang dosen saya di kuliah Arsitektur Bahari. Beliau pernah berulang kali mendapat tender merancang pelabuhan-pelabuhan besar di Indonesia yang beliau kerjakan dengan sangat apik. Namun pada akhirnya desain itu hanya digunakan untuk mengambil dana pembangunan yang ujung-ujungnya hanya dikorupsi oleh pejabat negeri ini. Sampai kini, tetap tidak nampak ada pelabuhan yang cukup baik di Indonesia.

Dalam perjalanan waktu yang semakin tidak bisa dikendalikan ini, tanpa sadar selalu ada pertanyaan;

Apa yang akan saya pilih jika dihadapkan pada kebutuhan hidup dan ideologi profesi?

wordsflow