Balada kamar mandi (ii): resolution

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya tidak pernah melakukan resolusi apapun dalam hidup saya. Secara yakin saya menjalani setiap pilihan-pilihan yang saya ambil tanpa ingin melakukan pencapaian tertentu. Saya tidak berpolitik untuk mendapatkan posisi yang saya inginkan. Saya tidak berjuang lebih keras untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Sejauh ini semua tindakan yang saya lakukan hanya berdasarkan keinginan (yang bisa jadi sesaat saja).

Jeleknya, banyak yang akhirnya berakhir dengan sedikit rasa kesal dan hasil yang tanggung. Dan meskipun saya sadar akan hal itu, tidak banyak hal yang berubah dari hari ke hari dari segi hasil dan tindakan. Namun meski tidak memiliki hasil yang nyata, paling tidak ada kepribadian saya yang berubah secara signifikan dari saya yang dulu ke saya yang sedang menulis ini.

Lantas, kini usia saya sudah 23 tahun.

Di umur ini, saya baru sadar bahwa saya tidak sungguh-sungguh tahu apa yang saya inginkan untuk sisa hidup saya. Apakah saya sungguh-sungguh ingin bekerja atau menjadi ibu rumah tangga dan mendidik manusia? Apakah saya sudah siap dengan semua yang akan saya temui setelah lepas dari keluarga?

Saya tidak tahu.

Saya baru sadar bahwa saya terlalu sibuk memikirkan beberapa hal yang jauh dari sekitar saya, sehingga saya justru lupa apa yang sebenarnya sedang saya kejar.

Maka di awal umur saya yang sudah tidak muda lagi ini, saya belajar untuk membuat resolusi. Bukan karena masalah umur yang telah bertambah, saya hanya semacam ingin mengganti 23 tahun umur saya yang belum paham tujuan hidup saya. Dan yah, membuat resolusi atas kesadaran akan selalu menjadi sesuatu yang lebih baik, daripada sekedar karena pergantian tahun.

*

Menanggapi permasalahan yang belakangan ini ada dan hadir di sekitar saya, mau tidak mau saya nantinya harus juga memilih jalan mana yang ingin saya tempuh untuk turut serta dalam menjaga tempat hidup kita. Saya tahu saya menyukai keindahan, terutama yang berasal dari alam, tapi selama ini semua tindakan kepedulian itu hanya sebatas kata-kata saja. Maka akan saya temukan apa yang bisa saya lakukan, terutama untuk lingkungan.

Entahlah, banyak orang di sekitar saya yang sedang menyangsikan negara dan media. Tapi buat saya pribadi, benar bohongnya, setidaknya ada sejumput pengetahuan yang harus kita tahu tentang apa yang sedang terjadi. Maka tetaplah membaca berita dan mengikuti perkembangan negara ini dari hari ke hari.

Bersikap skeptis pun sebenarnya adalah sikap, dan sejauh kita tetap melakukan apa yang kita inginkan dengan tanggung jawab, paling tidak ada sekelompok kecil orang yang telah terbantu dengan tindakan kita. Kita memang butuh mengkritik satu sama lain untuk membangun, tapi tidak pantas kita meragukan akal pikir manusia lain dengan merendahkan jalan yang mereka tempuh untuk memperjuangkan hak rakyat.

Maka kita butuh terus melakukan dialog, agar kamu tahu sejauh mana pikiranmu dan lawan bicaramu. Agar kita bisa melihat gajah bukan hanya pada bagian depan atau sampingnya, namun juga apa yang di balik telinga dan di bawah telapak.

Selalu menyenangkan melihat perdebatan, karena ketika kita ada di luarnya, terkadang kita justru dapat melihat masalah secara keseluruhan.

Selamat siang,

wordsflow