Jengah

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya semacam jengah dengan semua hal di dunia ini. Saya punya pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan, tapi tak juga menemukan jawabannya. Saya tidak paham dengan pola pikir orang-orang di sekitar saya, sehingga segala yang saya lakukan menjadi tampak tidak pantas dan tidak dapat saya pahami sendiri. Saya tidak tahu, pada akhirnya apa yang menjadi tujuan hidup saya.

Sebagaimana semua hal yang sebelumnya saya tulis, tulisan ini juga mungkin hanya sekedar uneg-uneg semata.

*

Mari mulai dengan media massa.

Beberapa waktu yang lalu seseorang pernah posting tentang bagaimana wartawan abal-abal jika berhubungan dengan pembaca tidak cerdas. Mari membuat studi kasus tentang kasus Cameron. Dalam berita itu, fakta nyatanya hanya bahwa ia makan hot dog dengan garpu dan sendok. Hasilnya? Hebat sekali bukan berita dan semua pembahasan yang keluar di sana. Bagaimana cara media membuat semua hal di dunia ini tampak selalu indah atau buruk sama sekali, padahal pada faktanya semua hal selalu abu-abu.

Who cares? 

Siapa sih yang memulai untuk memasukkan hal-hal semacam itu ke media. Siapa sih yang membagi berita menjadi semua bagian-bagian itu sehingga hal yang paling tidak penting pun harus ada di media (Artis A tidak suka pakai celana warna biru, Artis B masak mie instan sendiri, Artis A dan B ketahuan makan di angkringan, dst). Why should I know about that?

Tolong, berhentilah memprioritaskan hal-hal semacam itu di hidup kita. Berhentilah ketika bahkan kita tidak tahu apa golongan darah orang yang sering bermain dengan kita, bersama-sama dengan kita dalam kesehariannya. Jauhkan mata dan pikiran kita pada hal-hal pribadi yang terlalu banyak diumbar.

Ah, kembali lagi ke masalah Cameron.

Buat saya pribadi, kepedulian saya padanya hanya sebatas sampai menertawakannya. Tapi lantas kenapa harus lebih jauh dibahas? Padahal lebih penting untuk menantang dia membuat ulasan tentang ketersediaan bahan makanan untuk warganya, membuat kebijakan tentang pengelolaan lahan pertanian.

Ya, jadilah lebih cerdas. Dan bantulah manusia di sekitar kita untuk lebih bisa memilih mana berita yang layak dibaca, mana yang tidak. Bagaimana cara memilah informasi dari begitu banyak berita abal-abalnya yang hanya menyampaikan satu kalimat fakta. Jangan pernah puas dengan semua informasi yang kita dapatkan dari mana pun juga. Sejengah apapun, selelah apapun dengan semua hal ini, tetaplah membaca dan mencari informasi tentang perkembangan apapun di dunia ini. Prioritaskan mana yang menurut kita baik untuk diri kita dan orang-orang yang kita sayangi.

Dalam teori sederhana yang saya idealkan sendiri, jika masing-masing orang di dunia ini melakukan hal yang sama, suatu ketika lingkaran itu akan kembali lagi ke diri kita. Meski ya, itu hanya harapan dan angan-angan.

Lebih jauh, kini banyak berita yang berhubungan dengan permasalahan yang ada di Indonesia, semacam heboh pendapat di semua media massa dan media sosial, sebatas untuk mencari pendukung yang ingin ‘ngelike’ atau ‘ngekick’ tulisan kita. Semacam mengumpulkan orang-orang yang sependapat dan berusaha memusuhi hal yang sama.

Saya sebenarnya penasaran, bagaimana cara manusia-manusia ini yakin dengan pendapat mereka, bahwa yang mereka tulis dan suarakan adalah benar adanya (lebih karena saya tidak pernah berhasil memihak).

Meski demikian, saya selalu menghargai setiap mereka yang berani berpendapat secara bertanggungjawab. Mereka yang mau mengkritik dengan cara yang terhormat, mereka yang tidak sekedar melihat masalah dari satu muka, dan mereka yang berani menuliskan pemikiran mereka untuk kemudian mampu dikaji oleh orang lain.

*

Kejengahan saya juga bukan hanya seputar apa yang terjadi di negara ini, tapi lebih kecil, apa yang sedang terjadi di organisasi kecil saya. Bukan hal yang besar, namun perubahan yang terjadi di sini tidak bisa saya pahami, dan kemudian menjadikan apa yang selama ini saya lakukan menjadi tampak tidak tepat, menjadi tidak pernah bisa memuaskan diri saya.

Jika menilik teory why-how-what, kajian kami ternyata tidak pernah bisa menemukan ‘the why’, sehingga bagaimanapun kami melakukan perubahan kepada organisasi ini, tampaknya semua tidak pernah sesuai dengan tujuan dan target.

Entahlah. Padahal orang-orang ini adalah mereka yang selalu saya temui setiap hari, saling bertukar pendapat tentang ini dan itu. Tapi faktanya, saya pun tidak pernah bisa memahami pola pikir mereka tentang kelompok kecil ini.

*

Well, sayang sekali saat menuliskan ini saya memutusnya di tengah jalan, sehingga hasrat saya untuk menuliskan semua hal yang ingin saya tulis menjadi hilang begitu saja. Dan bahkan setelah dibaca ulang saya jadi mikir maksud tulisans saya sendiri. Haha, namanya juga menyampaikan uneg-uneg.

Mungkin nanti saya akan menulis lanjutannya jika saya kembali merasa jengah. Setidaknya perasaan itu hilang sementara.

Selamat pagi,

wordsflow