Yang ada namun tak tampak

by nuzuli ziadatun ni'mah


Kira-kira apa yang akan terjadi pada kota ini?

Suatu pagi seorang junior saya menanyakan tentang masa depan Jogja sebagai kota wisata. Mungkin penyebabnya adalah semakin maraknya penggunaan mobil pribadi oleh mahasiswa. Padahal berdasarkan perhitungan spasial, Jogja bukan lah kota yang siap dibanjiri mobil pribadi oleh penduduknya. Selain karena ketersediaan ruangnya yang tidak seberapa, ruang parkir yang juga tidak mencukupi, serta tikungan yang tidak ramah untuk pengguna mobil.

Sayangnya, kota ini juga tidak dilengkapi dengan jumlah dan rute kendaraan umum yang menyenangkan dan ramah pendatang. Untuk mereka yang sudah lama tinggal di Jogja pun kesulitan untuk menghafal rute yang biasanya melewati tempat tujuan mereka. Kalau pun tahu terkadang memerlukan waktu yang relatif lama (malah bisa dibilang buang-buang waktu), sehingga jarang yang bisa terus menerus betah dengan kendaraan umum.

Buat saya pribadi pilihan menggunakan sepeda motor atau sepeda sudah sangat sesuai untuk kota semacam Jogja yang memang memiliki terlalu banyak gang-gang kecil untuk dijelajahi. Jika dihitung dari besaran dan daya jelajahnya, kedua kendaraan itu yang paling juara (sambil berharap suatu hari nanti bisa pakai skateboard atau sepatu roda di jalan raya).

Lanjut ke pertanyaan yang diajukan oleh seorang junior saya itu.

Saya pun menjawab bahwa mungkin kota ini nggak akan separah Jakarta meski memang ramai. Diskusi singkat kami berlanjut membahas tentang semakin banyaknya apartemen yang dibangun di sekitaran Kota Jogja yang membuat semakin banyak orang yang bisa tinggal permanen di Jogja. Tapi mungkin karena memang di Jogja masih ada banyak warga lokal yang cukup peduli dengan perkembangan kotanya, saya pribasi sih optimis dengan terkendalinya perkembangan kota Jogja untuk beberapa waktu mendatang. Mungkin juga karena saya pribadi masih melihat banyak komunitas yang cukup aktif bicara di kota kecil ini. Masih banyak orang yang berubah kepribadian (sebut saja menjadi pelit) setelah tinggal di kota yang serba murah dan segalanya ada ini.

Bukan tidak mungkin sih memang jika nantinya Jogja akan berubah semrawut, toh sekarang juga udah keliatan setiap kali malam Minggu atau sedang ada acara khusus.

Malam ini bahkan saya baru sadar jika pemuda seumuran saya tuh bertebaran dimana-mana di Jogja ini. Memang jika tidak sedang berkumpul di suatu tempat yang sama, jumlah itu tidak akan tampak. Tapi jika kita semacam datang ke konser-konser atau ke pameran, atau ke job fair, mereka semacam muncul entah dari mana memenuhi tempat-tempat kosong yang ada. Nggak ingin berkomentar lebih banyak sih tentang jumlah yang banyak ini, karena saya belum bisa menata kata-kata untuk mengungkapkan opini saya tentang mereka.

Intinya, ada banyak komunitas yang memang eksis di Jogja, dan melakukan hal-hal yang mereka suka. Beberapa mungkin sangat berselisih, beberapa bahkan saling melawan, tapi mereka membentuk komunitas. Dan menurut saya, sayang aja sebenarnya jika kumpulan-kumpulan itu tidak punya benang merah yang saling terhubung. Beberapa saling sadar tentang kegiatan mereka untuk Jogja. Beberapa hanya sekedar mencari kesenangan dan wadah menyalurkan hal-hal yang mereka sukai.

Nah kan, nggak jelas saya ngomong apa ini.

Ya begitu sih kesan saya pada orang-orang yang ada di Jogja ini. Mungkin besok kalo hari sudah terang pikiran saya akan lebih cemerlang. Sementara saya posting ini dulu lah ya…

wordsflow