Yang ada namun terlupa; Bahasa

by nuzuli ziadatun ni'mah


Seperti yang sudah-sudah, selalu ada hal yang membuat seseorang mulai menulis.

Sore ini kami sedikit membicarakan tentang humanity, humanisme, dan beberapa hal yang lainnya. Saya terus jadi ingat tentang bacaan saya beberapa waktu yang lalu. Tapi saya lupa bacanya dimana.

Begini,

Di dalam artikel itu disebutkan bahwa pada awalnya, universitas di Eropa mengajarkan tentang berkirim surat, menulis surat, berbicara (berdiplomasi), dan hal-hal yang bersifat administratif semacam itu. Kalau dilogika cukup masuk akal juga sih, bahwa perkembangan selanjutnya adalah hukum dan filsafat. Lebih karena budaya berdialog dan berdiplomasi adalah hal mendasar yang mulai diajarkan kepada orang-orang itu. (Kan, tulisan saya nggak pernah tampak bisa dipercaya).

Singkatnya sih begitu, maaf kalau saya tidak menyertakan sumber-sumbernya ya.

Saya kemudian kepikiran karena menurut saya itu sangat penting. Bayangkan saja, mau tidak mau kita harus mengakui bahwa bahasa adalah senjata yang sangat bisa mengalahkan banyak hal. Berapa banyak hal di dunia ini yang dihasilkan oleh kemampuan manusia berkata-kata dan berdialog. Berapa banyak orang yang terpengaruh hanya karena tulisan di artikel, buku, koran, dan semua media yang ada di dunia ini sekarang.

Pun setelah hal itu terjadi, tidak banyak orang yang berusaha untuk memperkaya diri dengan bahasa ibu-nya. Sayang sekali, bahwa hal itu tidak menjadi bahan ajar wajib selama kita mengenyam pendidikan sejak sekolah dasar hingga kuliah. Yang saya lihat di sekitar saya pun demikian. Banyak orang yang memiliki pengetahuan yang cukup dan olah pikir yang mendalam tentang banyak hal, namun kemampuan diplomasi mereka yang kurang baik, serta kesulitan berkata-kata akhirnya mengaburkan gagasan cerdas mereka.

Lantas, mengapa kita tidak pernah disadarkan akal hal ini?

Di era yang serba digital dan tekstual seperti sekarang ini, kemampuan untuk berkata-kata dengan cara cerdas jelas sangat penting. Politik berhasil dengan itu, hukum ditulis dengan bahasa dan bukannya simbol, semua ilmu pengetahuan, sastra, dan semua hal lain, apa sih yang nggak ditulis dengan bahasa?

Pernah juga saya baca sekilas tentang artikel (yang sebenarnya nggak seberapa penting) kritik dosen kepada mahasiswa. Beliau bilang bahwa mahasiswa sekarang tidak tahu cara menulis email, tidak tahu cara berkompromi dengan lawan bicaranya, tidak tahu bagaimana adab terhadap orang yang lebih tua. Ya, kemampuan berdiplomasi dan administrasi mahasiswa di jaman ini bisa dibilang buruk. Susah antri, susah mengikuti alur birokrasi yang ada (dan saya pun tidak terkecuali).

Anggap saja saya berpendapat bahwa orang yang bisa mengalahkan semua sistem super ribet itu, ‘memanipulasi’ keadaaan dengan kemampuan linguistik yang baik, serta kemampuan administrasi yang cukup, akan mampu melewati semua keadaan yang ada saat ini.

Bukan berarti pengetahuan umum tidak penting, jelas itu juga sama pentingnya. Tapi maksud saya adalah, kenapa orang jarang sekali peduli pada kemampuan tata bahasa mereka sendiri. Kemampuan menuliskan gagasan, kemampuan untuk menuntun orang pada opini, dan kemampuan untuk mendominasi forum. Toh pada faktanya banyak orang yang terkelabui hanya karena masalah kata-kata (lihat berapa banyak orang dipenjara dan bebas hanya karena pinter ngomong).

Ya begitu sih mungkin sedikit gambarannya. Bukan masalah seberapa puitis tulisan kita atau cara bicara kita. Tapi lebih ke kemampuan kita untuk menggiring opini publik agar sesuara dengan opini kita. Agar kita bukan hanya menjadi orang yang bisa mengutip kalimat ini dan itu, tapi agar kita mampu mensintesis masalah yang ada di sekitar kita.

Selamat malam,

wordsflow