Kata-kata

by nuzuli ziadatun ni'mah


Anggap saja saya sedang stress dan tidak stabil, dan ini salah satu sarana saya untuk menyalurkan apapun yang sedang saya pikirkan.

Saya sesungguhnya terganggu dengan kata-kata.­ Karena semua hal lantas diterjemahkan dari perkataan yang kita ucapkan dan tulisan yang kita buat. Terkadang saya menggugat tindakan, karena menurut saya seharusnya ia dapat menjelaskan lebih lugas apa yang sedang kita maksudkan. Tapi itu egoisme saya, yang akhirnya pun tidak membawa saya kemana-mana.

Malam ini bulan sedang berdampingan dengan Saturnus. Jadi biarkan saya bermelankolia sejenak sebelum tidur.

Mungkin, jika diibaratkan dengan kedua benda itu, terkadang apa yang kita kira dekat sebenarnya berjarak ribuan tahun cahaya. Atau justru yang kita kira jauh justru yang berada di dimensi yang sama.

Lantas, dimana perasaan menempatkan dirinya?

Saya rasa itu ada di setiap waktu kita bernapas.

Terkadang ia terlupa karena rutinitas, atau karena tuntutan, atau justru terkalahkan oleh rasio. Tapi tidakkah manusia selalu kembali ke perasaannya masing-masing? Bukan kah bahagia juga rasa?

Mengapa mengelak bahwa kamu melankolis dan menuntut diri untuk rasional? Mengapa menganggap bahwa pengkotak-kotakan itu merendahkanmu?

Mereka yang merasa rasional terganggu dengan melankolia, dan mereka yang melankolis terganggu dengan rasio. Kita masih manusia yang sama, yang juga membutuhkan waktu untuk menenggelamkan diri dalam pikiran pribadi.

*

Jika kamu sadar sedang mengalami kerusakan, apa yang akan kamu lakukan?

Sistem saya sedang tidak normal. Seberapa kuatnya saya menolak perasaan-perasaan itu, semakin kuat ia berbalik menekan. Mungkin terasa berlebihan, tapi anggap saja saya sungguh-sungguh mengalaminya.

Belakangan bahkan saya semakin meyakini bahwa semua hal ini tidak nyata. Semua hal ini tidak ada bedanya dengan yang saya pikirkan dan saya mimpikan setiap malamnya. Terkadang mimpi terasa lebih nyata dari apa yang terjadi di dunia nyata.

Apa itu nyata?

Ketika semua ini hanya berbatas akan panca indera dan nalar, semua akan mengabur begitu kau lupa merasa dan berpikir.

Apa itu masa lalu?

Semua yang ada di ingatan, yang pernah ada namun tak pernah tersimpan. Mengapa ia bisa begitu mempengaruhi kita? Mengapa kita tidak lahir menjadi orang yang baru setiap saat yang kita mau? Mengapa secara naluriah membebani diri sendiri dengan semua pemikiran masa lampau itu?

*

Ber-Efek Rumah Kaca ditemani suara kodok dan gemericik air.

Ah, melankolis-romantis. Saya membenci hal itu, tapi tak pernah bisa kabur darinya. Atau mungkin saya sesungguhnya suka mengalami pergulatan tidak penting itu?

Untuk apa kamu berusaha keras padahal tahu jika itu tidak akan membawa kita kemana pun?

Karena masing-masing orang punya kontrol penuh terhadap diri mereka sendiri, intervensi tidak akan memberikan arti kecuali jika saling bersepakat atau saling peduli.

Jika itu tidak terjadi?

Tiada guna, meski kamu akan menghargai setiap langkah yang kamu ambil dalam hidup.

*

Apa itu teman, jika kamu tidak bisa mempercayakan apapun kepadanya?

Apa itu teman, jika mereka akhirnya hanya akan sekelebat lewat dalam hidupmu?

Apa itu, sementara kamu akan hidup dari keputusanmu sendiri dan mati seorang diri?

Saya tahu ada makna yang dalam dari pertemanan, dari interaksi yang tercipta di antara keduanya, yang disepakati bersama. Tapi tidak bisa tidak, pada suatu titik saya pun menyadari betapa sendirinya saya di dimensi yang begitu luas ini. Dimana tak saya pahami apa waktu dan ruang itu, apa arti manusia di selingkupan luas ini?

Bukan, bukan pertemanan yang saya gugat, tapi keindividuan manusia dalam menjalani hidupnya.

*

Pertanyaan utama dari semua ini tidak pernah saya temukan. Saya mengkompetisikan apapun di dunia ini, secara naluriah saya memandang segalanya dengan cara itu.

Berkali-kali menutupi diri karena ingin menyembunyikan isi pikiran. Padahal saya pun tahu bahwa tiada guna melakukan hal itu.

Sebegitu susahnya kah jujur pada diri sendiri?

Ketika egoisme dan harga diri mu kau rasa terlalu tinggi, akan ada tindakan-tindakan yang menghalangimu untuk berlaku jujur.

Sadar sepenuhnya, tapi tak berhasil merubah apapun dari diri sendiri.

Atau justru saya tak seharusnya merubah diri kemana pun? Membiarkan orang lain mencoba memahami saya, atau justru saya yang menjelaskan kepribadian ini kepada mereka?

Pada akhirnya semua akan sama saja. Hanya yang ada di pikiran kita yang terus kita ikuti jejaknya, sementara yang terserak di sekitaran malah kita biarkan tergeletak begitu saja.

 

Bahkan sekedar menyusun pertanyaan pun sulit, lantas bagaimana saya bisa mendapatkan jawaban?

 

wordsflow