Sajak (x): kelu

by nuzuli ziadatun ni'mah


Kekasih, adakah pernah kau tengok satu bangku agak jauh di sebelahmu? Di sana aku menunggumu untuk bercakap selayaknya dua manusia tanpa curiga

Telah kutulis banyak surat dan berangkai pesan tersirat dalam tindak dan gurat, entah kau pernah menangkap gelombangnya atau tidak

Aku menghabiskan seluruh persediaan buku dalam rak ku sekedar untuk menunggumu duduk di sebelahku, berkisah tanpa ragu akan pikiran dan angan-anganmu

Bagaimana kau mengartikan cinta sayangku? Sungguh kah kau hanya mengira jika itu gurauan belaka?

Bahkan benteng yang telah kubangun kokoh kini terkikis perlahan karena usia, karena terlalu lama ia membendung rasa

“Hentikan aku!” teriakku dalam hati. “Jauhkan aku dari semua ini.”

Tak kuragukan juga pencarianmu, kita sama-sama planet yang mencari orbitnya. Tinggal menunggu bintang mana yang sanggup menarikmu dalam gravitasinya. Melenakanmu pada perputaran yang menentramkan.

Kita terdiam dalam keraguan, beradu pandang dalam selidik ketidaktahuan. Entah kita, atau hanya aku.

Kenapa, kita berusaha saling terikat, tidak aku, kamu, mungkin juga dia dan mereka. Atau kita sejujurnya takut berjalan seorang diri? Atau kita dikutuk untuk saling mengikat diri?

Selalu, hujan kata ini kuberikan untukmu seorang, seperti halnya semua kata yang terserak di atas kertas atau yang kumonologkan di dalam pikiran.

 

Kekasih, sungguhkah kau selalu bercanda dalam cinta dan rasa?

 

wordsflow