In Between

by nuzuli ziadatun ni'mah


Suatu ketika seseorang pernah bertanya pada saya,

Jika batasan hidup adalah panca indera, lalu bagaimana jika seluruh indera manusia tidak dapat digunakan? Masihkah ia disebut hidup? Bagaimana ia menyatakan bahwa dirinya hidup?

Pertanyaan itu lantas menimbulkan pertanyaan baru dalam diri saya: bagaimana saya bisa yakin bahwa hidup ini nyata? Apa batasan nyata dan mimpi?

Semakin dipikirkan semakin akhirnya saya terbawa lebih jauh dari kenyataan dan sekeliling saya. Tetiba saya merasa bahwa kenapa harus pada badan ini saya ditempatan atau ditugaskan di bumi. Mengapa saya adalah seorang saya, dan bukan orang lain. Atau saya lantas bertanya-tanya sungguhkah pernah ada masa sebelum masa saya ada? Atau apa yang akan terjadi dengan dunia ini jika saya nantinya mati? Atau sungguhkah sebelum ini saya tidak pernah hidup di bumi?

Dan semua pertanyaan sejenis yang terus menerus berlanjut.

Ujung-ujungnya saya malah hanya sibuk bertanya dan tidak kemana-mana.

Terkadang memang pertanyaan semacam itu sangat ingin saya temukan jawabannya, sangat ingin saya pecahkan dengan logika. Namun apa lah artinya jika akhirnya itu tidak dapat memberikan perubahan apapun pada apa yang saya rasakan sekarang dan selanjutnya?

Tulisan ini pun sebenarnya tindakan lanjutan setelah saya menemukan artikel ini di facebook:

http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/05/membaca-pikiran-pasien-dalam-keadaan-koma/1

Silahkan membaca sendiri isinya dan mungkin masing-masing juga akan memiliki pendapat yang berbeda tentang apa yang ada di sana.

Pendapat saya tentang hidup selalu berubah, dan saya dengan yakin mengikuti setiap perubahan itu tanpa berusaha untuk menolaknya. Ada masa ketika saya merasa hidup ini hanya sekedar untuk dijalani tanpa butuh keyakinan tertentu, saya menjalani apa adanya.

Ketika saya merasa bahwa ini adalah arena untuk menguji manusia, maka saya mencoba menganalisa di bagian mana ujian itu tersembunyi dan bagaimana cara menghadapinya.

Ketika saya merasa tiada beda nyata dan mimpi, saya mencoba merasakan lebih intens, bagaimana kelegaan saat mampu bernapas, bagaimana suara detak jantung kita, bagaimana pedihnya menangis, atau seperti apa rasa lelah yang paling mendekati batas kemampuan kita.

cogito ergo sum

Itu kalau kata Descartes.

Tapi siapa yang akan menyatakan keberadaan kita ketika kita dalam keadaan pasif dan tak mampu bereaksi pada apapun di dunia ini? Haha, mungkin kita harus berterimakasih pada ilmuan-ilmuan yang begitu giat meneliti kehidupan bawah sadar seseorang, dan sibuk meredefinisi pengertian mati.

Entahlah, saya bukannya tak percaya, tapi karena saya tidak pernah mengalami keadaan trans begitu, saya jadi tidak bisa berpendapat tentangnya.

Buat saya sendiri, tidur adalah mati, karena kejadian-kejadian ketika itu tidak dapat dijelaskan dan dibuktikan oleh saya sendiri. Ia menjelma nyata ketika memori saya bekerja dan menyatakan bahwa saya berkeinginan untuk tidur sebelumnya, lantas datang seseorang menyatakan diri bahwa ia melihat saya sedang tidur. Bahkan setiap bangun saya selalu mencubit punggung tangan saya sekedar untuk meyakinkan diri bahwa dunia mimpi saya telah berakhir.

George Orwell dalam novelnya 1984 bahkan mengambil topik utama tentang otak dan memori. Secara kasar saya menyimpulkan bahwa jika kita dapat mengendalikan arah pemikiran manusia, maka kita akan menguasai dunia.

Tapi, sepertinya otak memiliki mekanismenya tersendiri untuk menyatakan mana yang sungguh-sungguh pernah terjadi dan terekam, dan mana yang memang hanya angan-angan. Ada bagian otak kita yang akan terus menentang atau menyatakan mana yang pernah kita alami dan mana yang hanya sebatas mimpi.

Maka akan ada reaksi alamiah ketika kita mencoba menyatakan dengan sadar bahwa kejadian-kejadian ini atau itu hanya mimpi. Akan semakin jelas ketika kita menyangkal kejadian-kejadian tertentu yang pernah terjadi pada kita. Ya, bisa jadi itu menjelaskan mengapa begitu sulit melupakan beberapa kejadian dalam hidup kita. Betapa sulit menyatakan tidak pada fakta-fakta empiris yang telah terlanjur direkam oleh otak.

Tapi ya, manusia normal saja hanya menggunakan 1% dari kemampuan otak yang sesungguhnya. Nggak kebayang jika Tuhan membuat manusia bisa berpikir hingga 100% kemampuannya.

Pertanyaannya: kenapa Tuhan menciptakan otak dengan kemampuan demikian jika manusia yang paling cerdas pun hanya pernah menggunakan hingga 3% kemampuan otaknya?

Well then, mungkin berada dalam keadaan trans perlu dicoba sekali-kali. Atau setidaknya pernah mengalami lucid dream.

wordsflow