Menggugat

by nuzuli ziadatun ni'mah


Mungkin saya ingin menggugat ketersediaan informasi yang terlalu melimpah, hingga terkadang merubah values yang ada sebelumnya. Entah menaikkan atau meniadakan sama sekali.

Ini adalah tulisan reaksioner saya sebagai penggiat kegiatan alam bebas selama hampir 5 tahun masa kuliah saya, dan telah mengalami perubahan begitu banyak sejak saya mulai hingga hari ini.

Pertama, saya mencintai berkegiatan di alam, yang dulu beralaskan rasa penasaran hingga akhirnya berubah ke alasan kontemplatif, dari alasan olahraga hingga urusan mengasingkan diri.

Baru-baru ini naik gunung menjadi hal yang sangat marak di masyarakat kita. Bukan hanya anak muda yang namun bahkan yang lebih tua dan lebih muda dari seumuran saya. Sejujurnya, saya merindukan kondisi gunung yang dulu lebih sepi dan syahdu ketimbang yang sekarang ramai dan sangat jarang bisa menemukan lokasi mendirikan tenda jika mendaki di akhir minggu. Saya merindukan masa-masa mendaki gunung tanpa bertemu dengan pendaki lain.

Namun apa daya, kini semakin mudah orang mendapatkan informasi, semakin mudah pula mereka menemukan fakta bahwa “mungkin naik gunung tidak begitu susah”.

Benar, secara teknis mendaki gunung memang tidak sulit. Kita hanya butuh latihan fisik yang cukup, mental yang cukup, perbekalan yang cukup, dan informasi pendakian yang cukup. Toh pada awal mula kegiatan mendaki gunung populer pun orang tidak ribet dengan segala perlengkapan itu, jadi apa yang sulit dari mendaki gunung?

Mari bandingkan dengan konsep pendidikan di Mapala kami, yang prosesnya memakan waktu 1 tahun hingga akhirnya kami diangkat sebagai Anggota Penuh yang berhak membawa-bawa nama organisasi, nama kampus, dan nama pribadi ke kancah kemapalaan.

Kami belajar mengenal alam dari materi yang paling dasar, yaitu pengetahuan tentang pendakian. Kami menjalani persiapan pendidikan dasar dengan bentuk latihan fisik dan materi kelas selama 1 bulan sebelum turun ke lapangan. Kami menghabiskan waktu 5 hari 6 malam di lapangan dengan perbekalan minim, dengan materi pembelajaran yang utama adalah navigasi darat dan survival.

Bukan tanpa alasan senior-senior kami mendidik kami dengan cara demikian. Menurut saya pribadi, pada akhirnya dua hal itulah yang sangat mempengaruhi kita dalam melakukan pendakian gunung yang aman, di mana pun. Itu kita belum menyentuh tahapan selanjutnya: Pendidikan Lanjut dan Spesialisasi.

Mari sedikit studi kasus;

Bulan lalu ada musibah di Sindoro, salah seorang pendaki tersesat dan ditemukan terjatuh di sungai dan meninggal, 12 hari setelah beritanya keluar di media. Saya tidak menyalahkan korban, karena toh itu musibah. Tapi, itu bisa diminimalisir dengan persiapan yang memadahi.

Penyakit pendaki adalah ego orang-orang yang mampu berjalan cepat untuk akhirnya berjalan mendahului temannya, atau justru mereka yang mereka bisa sendiri dengan minta ditinggal. Banyak kasus seperti itu yang mendahului berita tersesatnya seseorang.

Setelah ditemukan, tim SAR melakukan analisis tentang perilaku korban selama tersesat, dan dari sana diketahui bahwa sesungguhkan korban telah melewati jalur, namun langsung keluar dari jalur yang ada.

Nah, yang penting di sini menurut saya adalah; jangan pernah membiarkan diri kita tersesat. Ingat setiap medan yang kita lalui, dengan siapapun kita mendaki. Jangan peduli seberapa berpengalamannya orang yang bersama kita, yang penting adalah, kita pahami dulu apa yang sedang kita lakukan, dimana kita berkegiatan, dan semoga kita pun paham tujuan kita melakukan pendakian.

Itu juga yang mendasari Pendidikan Dasar kami berkisar tentang navigasi darat dan survival, karena pada kondisi terburuk berkegiatan, dua kemampuan itu wajib kita kuasai.

Aduh, saya jadi semacam menggurui.

Bukan, saya sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan itu.

Sudah sejak 2 minggu yang lalu saya berusaha untuk menuliskan ini, namun belum juga terlaksana. Hingga beberapa jam yang lalu tetiba ada berita terjatuhnya seorang mahasiswa di kawah Merapi.

Maka seperti yang saya katakan di atas, saya sejujurnya merindukan kondisi gunung yang lebih sepi dan lebih syahdu, namun jika maraknya pendakian memberikan hal positif pada warga sekitar, saya pun tak mungkin menolak. Toh konservasi alam harus juga memberikan kemapanan ekonomi warga di sekitarnya.

Tapi jika akhirnya itu mereduksi makna pendakian gunung?

Tidak juga menjadi masalah, karena toh mendaki untuk mendapat foto bagus pun tidak salah, mendaki untuk wisata pun tidak salah, mendaki untuk mengasingkan diri pun tidak salah. Mendaki untuk alasan apapun tidak akan menjadi masalah selama tidak merugikan siapapun.

Atau jika semua orang di dunia ini mendaki gunung pun, tidak akan ada orang yang sungguh-sungguh berhak melarang.

Poin pentingnya di sini adalah, ketersediaan informasi di dunia maya menjadikan setiap yang sulit menjadi tampak mudah.

Padahal ada 1001 kondisi selama melakukan pendakian gunung. Masing-masing orang memiliki pengalaman dan hambatan yang berbeda. Perbedaan jam, perbedaan hari, perbedaan jalur, perbedaan musim, perbedaan tim, semua mempengaruhi hambatan yang ada di gunung. Terkadang hal ini yang jarang diperhatikan oleh banyak orang. Jalur, puncak, dan medan tidak akan pernah lari kemana pun, mereka tetap ada di sana, menunggu untuk didaki dan didatangi.

Tapi tidak semua pendaki akan mengalami pengalaman yang sama dengan kita, bertemu dengan hambatan yang sama, dan menemukan kesenangan yang sama. Maka menurut saya, di sana lah pentingnya banyak membaca catatan perjalanan orang lain, mempelajari jalur pendakian, bertanya kesana kemari, dan akhirnya meningkatkan kewaspadaan diri.

Mendaki sangat bisa dipelajari di luar organisasi yang kami geluti. Ada sangat banyak orang yang meningkatkan kemampuan dan pengalaman mereka secara pribadi. Dan pada akhirnya mereka pun selalu berhasil mendaki dengan baik.

Jadi, apa sih yang saya khawatirkan sebenarnya?

Saya hanya ingin mengajak untuk tetap berkegiatan dengan aman. Karena ketika terjadi kecelakaan di gunung, itu tidak hanya akan menjadi masalah perorangan saja. Akan selalu ada bahasan panjang di belakangnya, selalu akan ada begitu banyak orang yang mau dengan suka rela merepotkan diri melakukan pencarian, selalu akan ada orang-orang yang terus-menerus memikirkan hal ini.

Di balik semua kesenangan kita mendaki gunung, warga masyarakat tempat kita meminta ijin selalu waspada jika salah satu dari kita mengalami kecelakaan, atau Badan SAR sepanjang waktu memantau lewat radio setiap perkembangan yang ada, atau yang paling dekat dengan kita (dengan saya terutama) ketika berita SAR tiba maka akan terjadi pergerakan beruntun di komunitas Mapala, mempersiapkan pencarian korban, mengumpulkan potensi, berkompromi ini dan itu, membuat posko, dan segala kesibukannya.

Lebih sederhana, ketika kami yang dibekali dengan pengetahuan pendakian sejak masuk organisasi bertemu dengan siapapun di lokasi kegiatan, kami harus berpegang pada kode etik pecinta alam. Kami harus juga memperhatikan orang-orang yang kami temui di jalan saat mendaki, kami harus juga berkontribusi memperkecil resiko kecelakaan ketika berkegiatan.

Maka, berkegiatanlah seaman yang bisa kita usahakan, sesiap yang bisa kita persiapkan, setulus tujuan kita di awal.

*

Mungkin ini sekali-kali nya saya menuliskan topik ini di blog saya. Ini adalah bentuk keprihatinan saya terhadap keramaian gunung yang tidak terkendali, pembahasan tentang kotornya gunung-gunung di hari ini, banyaknya pendaki yang merusak vegetasi, mahalnya retribusi pendakian gunung, pembatasan kuota, pembatasan waktu pendakian, dan semua topik bahasan tentang gunung dan pendakian.

Dan meski begitu, saya hanya akan menganjurkan, tiada melarang, tiada menentang. Terakhir, mari tetap mempertanyakan tujuan kita berkegiatan.

Selamat malam,

wordsflow