Sekedar mengeluh

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya sedang diliputi kebingungan bersikap dengan semua permasalahan sosial yang begitu jauh dan tidak mampu saya jangkau. Sebut saja isu tentang Kaum Muslim Rohingya yang sedang banyak diberitakan di semua media massa, atau tentang perkembangan ISIS yang semakin tidak terkendali. Sejujurnya, saya bahkan tidak sungguh-sungguh tahu tentang kedua hal tersebut. Bagaimana kejadian sebenarnya, apa yang menjadi awal mulanya, dan perkembangan terbaru antara keduanya.

Saya bukan tidak peduli, secara otomatis pasti banyak juga yang memikirkan kedua hal tersebut jika membaca beritanya, baik di dunia maya maupun di koran, atau melalui perbincangan. Namun apa yang bisa saya lakukan untuk mereka?

Buat saya sendiri, akhirnya saya hanya bisa mendoakan tanpa mampu melakukan tindakan nyata.

Mungkin karena keduanya tidak secara langsung saya rasakan, atau tidak menyentuh bagian hidup saya saat ini, sehingga semua ini hanya terasa bagaikan sesuatu yang jauh dan tidak nyata (ya, meski saya tahu hal itu sungguh-sungguh terjadi).

Apa yang membuat manusia peduli dengan sesamanya?

Mungkin kesadaran akan kesamaan ras, atau kalau saya lebih karena membandingkan dengan kemungkinan bahwa kita hanyalah dua makhluk yang secara tidak sengaja tertukar raganya. Pada intinya, keduanya adalah sama-sama manusia.

Saya selalu penasaran dengan pemikiran seseorang tentang hidup mereka. Bagaimana cara pikir manusia yang bunuh diri, bagaimana cara pikir mereka yang bisa dengan mudah membunuh, atau mereka yang bahkan menyiksa dirinya sendiri untuk kesenangan atau kepuasan batin. Sungguhkah manusia lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya?

Bagaimana sebenarnya mekanisme diri manusia dalam menentukan prioritas hidup mereka?

Sulit ya, dihadapkan pada hal-hal sederhana semacam itu. Haha, sungguh lemah hati saya dalam menanggapi hal-hal semacam itu. Bahkan jika saya melihat orang yang sudah sepuh (tua) sedang jualan, saya hanya bisa membantunya menghabiskan dagangan. Justru dengan canggung, tak mampu bersikap lebih ramah atau membantu lebih banyak selain itu.

Ketika tidak mampu membantu sama sekali saya akhirnya hanya mampu merasa malu, namun tetap berlalu. Tidak juga mampu menulis karena belum membaca terlalu banyak. Belum juga bisa bertindak karena belum menulis dengan cerdas.

Mengeluh. Ujung-ujungnya saya melakukan itu lagi dan lagi.

Imagine there’s no heaven
It’s easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people living for today

Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people living life in peace, you

kalau kata John Lennon.

Semoga kita memang menuju ‘living life in peace’.

wordsflow