Nyampah

by nuzuli ziadatun ni'mah


Tiba-tiba ada draft tersimpan di bagian post blog ini, saya bahkan lupa kapan menuliskannya hingga ia tertinggal sekedar menjadi sampah saja.

Sudah pertegahan bulan Mei, dan entah mengapa hujan yang sebelumnya begitu gencar mengguyur tempat ini akhirnya perlahan terhenti dan tergantikan dengan hari yang terik menyenangkan dan malam dingin berbintang (asli alay parah). Tapi begitu lah, bagian menyenangkan dari bulan di tengah tahun adalah udaranya yang begitu sejuk (atau kelewat dingin) di malam hari.

Dulu saya pernah menuliskan tentang analisis asal-asalan mengapa manusia sulit untuk tinggal di kutub selatan.

Mungkin kali boleh saya ulangi;

Pertama,

Musim di bagian selatan dan utara bumi selalu berkebalikan, artinya jika di sisi utara bumi sedang mengalami musim panas, maka jelas belahan bumi bagian selatan sedang mengalami musim dingin. Di sini berarti suhu paling ekstrim kutub utara adalah pada bulan Desember, dan suhu paling ekstrim di kutub selatan adalah pada bulan Juli.

Kedua,

Lintasan bumi tidak berbentuk lingkaran sempurna, melainkan berbentuk elips. Dengan demikian, ada kalanya ketika bumi sedang berada dengan jarak terdekat dan terjauhnya dari matahari. Menurut data, setidaknya jarak terdekat bumi dan matahari adalah 147 juta km, sedangkan jarak terjauhnya 152 juta km. Itu terpaut 5 juta km yang menyebabkan perbedaan sebesar 7% intensitas cahaya matahari yang masuk ke bumi.

Ketiga,

Jarak terjauh bumi dan matahari, yang disebut aphelion terjadi pada bulan Juli, yang artinya bahwa di bulan itu panas matahari yang diterima bumi akan berkurang. Sedangkan periode terdekat bumi dengan matahari (perihelion) terjadi pada bulan Januari, yang mengakibatkan panas yang diterima bumi lebih banyak.

Nah, dari ketiga fakta tersebut, saya punya dua kesimpulan:

1. Pada bulan paling ekstrimnya kutub utara, yaitu pada bulan Januari, matahari berada dekat dengan bumi, sehingga ia mampu memberikan bantuan kalor (yang sejujurnya tidak saya pahami seberapa besar pengaruhnya).

2. Pada bulan paling ektrimnya kutub selatan, yaitu pada bulan Juli, matahari berada pada jarak paling jauh dengan bumi, sehingga justru semakin dingin kondisinya.

Dari sana lah saya menyimpulkan secara asal-asalan mengapa di kutub selatan lebih sedikit kehidupan dibandingkan dengan kutub utara.

Saya belum membandingkan dengan pergerakan lempeng juga sih, yang menyebabkan daratan bergeser ke belahan bumi utara. Nantilah, toh ini juga bukan postingan ilmiah.

*

Dalam hitungan hari akhirnya rutinitas saya selama 4 bulan belakangan ini akan berakhir. Saya masih belum puas sejujurnya, namun tiada mampu saya memaksa diri untuk sesempurna ego saya menuntut. Toh sebenarnya saya mulai kehilangan ketertarikan sejak lepas dari ujian saya yang kedua.

Tahap ketiga yang dilaksanakan selama 2 bulan terakhir ini tampak lebih kerja dibandingkan dengan tahap sebelumnya yang lebih banyak berpikir. Yah, meski keduanya menyenangkan untuk dikerjakan dan mampu meningkatkan kemampuan saya secara signifikan (terutama dalam menggambar dengan software), tapi ekspektasi saya cukup berbeda dengan apa yang terjadi di lapangan. Haha, klise sekali bukan.

Daan, tidak ada lagi hal menarik selain itu. Hanya saja, saya kehilangan diri saya yang lain belakangan ini. Antara bersyukur dan rindu, keduanya tidak jauh berbeda.

Bagian terkutuknya, terkadang saya merasa mengulang tulisan yang sama berkali-kali. Atau bahkan ketika membaca postingan lama saya lebih merasa jika saya yang menulis itu jauh lebih dewasa dibandingkan dengan saya yang sekarang.

Tapi apa arti kedewasaan?

Sekarang saya justru semakin tidak yakin dengan definisi-definisi. Kata-kata lebih sering terucap palsu.

Ya begitulah, tidak bermaksud banyak selain untuk nyampah dan menghilangkan isi draft. Selamat malam…

wordsflow