Surat (kesekian) Untukmu

by nuzuli ziadatun ni'mah


Maaf karena surat ini harus sekali lagi kutulis untukmu..

*

Reflecting the past…

Sembari menunggu bulan ini berakhir, aku terus menerus memikirkan apa yang sebenarnya pernah terjadi kepadaku. Dibandingkan semua perasaan yang pernah aku punya untuk orang lain, kepadamu segalanya terasa tidak sama. Aku mencintaimu berulang-ulang, meski di antaranya aku merasakan sakit hati yang tidak biasa, aku merasakan kekesalan yang begitu besar, tapi akhirnya aku kembali mencintaimu, dengan rasa yang lebih besar.

Aku pun tahu, bahwa hal semacam ini tidak bisa dipaksakan, pun aku tak akan pernah bisa mengatakan padamu untuk mencoba melihat ke kedalaman mataku, karena yang terjadi pasti tidak akan sesuai dengan isi hati. Cinta ini sayangku, masih kuanggap sebagai sebuah rahasia, yang tidak akan pernah bisa kuutarakan sejelas mengucap selamat pagi kepada dunia.

Aku pernah kehilangan keberanian, karena kukira kita berkawan. Aku pernah meragu, bahwa ini adalah sesuatu yang palsu. Tapi bertahun-tahun, kurasakan sesuatu yang tidak sama ketika aku mendengar suaramu merasuk ke dalam indera pendengaranku, atau ketika aku melihat sekelebat citramu, atau ketika tanpa sengaja kita beradu pandang.

Aku pernah begitu jatuh karena rasa yang sederhana ini, dan maka aku pun bertanya-tanya tentangnya. Mengapa ia bisa begitu menyakitkan, padahal ini adalah rahasia. Padahal tiada bersalah dirimu akan sesuatu yang aku lakukan, akan sesuatu yang tidak berasal dari kita. Kutanyakan terus menerus, kucari kemana pun, kutelusuri di setiap momen dan tempat yang pernah kita datangi.

Aku menemukan jawabannya.

Ini tidak sama dengan mulai di bulan Mei dan berakhir di bulan Mei. Ini tidak sesederhana berjalan dari kota satu ke kota yang lain. Tidak, ini tidak sama dengan sebuah perjalanan biasa.

Kepadamu, aku merasakan segala hal, aku memaknakan segala hal, aku mencoba berdamai dengan semua hal. Aku mencoba berlapang dada, jujur pada diri sendiri, dan menjalani hari dengan gembira meski sebegitu beratnya itu.

Aku hidup bertopeng suka ria.

Seperti ‘9 dari Nadira’, selalu ada tokoh Tara dan Nadira yang berserakan di dunia ini, meski itu bukan seperti kita. Dan bukankah yang nyata selalu mewujud maya? Karenanya, suatu ketika kita akan mewujud Tara dan Nadira dalam buku cerita yang berbeda. Memberikan warna pada benak manusia.

Akan kukisahkan kisah kita sebagai sesuatu yang membahagiakan, karena bukankah cinta seharusnya memang begitu?

Rasa itu belum berganti dan mati. Aku masih merawat kuncupnya agar mekar indah mempesonakan. Karenanya, selamat datang bulan Juni, semoga kita akan berkisah menyenangkan di bulan ini.