just saying

by nuzuli ziadatun ni'mah


Setelah semua ini, apa lagi?

Semacam pertanyaan klise yang sering diulang-ulang oleh mereka yang telah mencapai satu gol dalam hidupnya; tidak terkecuali saya.

Saya bukan sedang bingung dengan pekerjaan atau kegiatan yang ingin saya lakukan, saya lebih takut karena saya baru sadar, bahwa saya kehilangan mimpi masa lalu saya.

Entah sejak kapan saya berhenti bermimpi, semacam terus bertanya-tanya mengapa saya sampai melupakan itu semua? Mengapa saya membuang hal yang saya suka?

Tepat seminggu yang lalu saya melaksanakan sidang ketiga, yang akhirnya setelahnya saya resmi menyelesaikan rangkaian kuliah saya di Teknik Arsitektur UGM. Lega? Nggak kok, biasa saja. Buat saya, lebih melegakan ketika akhirnya semua urusan deadline berakhir, dan saya bisa bersantai setiap pagi.

Tapi kemudian datang pertanyaan, keinginan yang mana yang akhirnya ingin saya ikuti? Saya suka membuat kerajinan tangan, saya suka menggambar, saya suka jalan-jalan, tapi di samping semua itu, saya suka membuat rumah tinggal. Saya sangat ingin menyelesaikan apa yang saya mulai; menjadi arsitek. Namun tampaknya saya masih sangat ingin melakukan banyak hal.

Satu bulan belakangan, bahkan amat sangat banyak hal yang terjadi dalam hidup saya. Pendadaran, begitu banyak jalan-jalan, begitu banyak kontemplasi, begitu banyak perdebatan, begitu banyak pekerjaan, dan tiba-tiba saja sudah ada yang menawari saya jadi project leader. Bagaimana pun, akan datang hari penentuan, mau yang mana yang akhirnya saya pilih.

*

Juni, semua berawal di bulan ini dan saya akhiri juga di bulan ini, memulai sendiri, dan begitu pula ketika mengakhiri. Adik saya pernah memarahi saya karena hal ini, but see, nggak semua hal berakhir buruk, atau nggak semua hal akhirnya berakhir sebagai sebuah kesia-siaan. Saya tetap menemukan banyak pelajaran dari sana, saya menulis banyak hal karenanya, saya bahkan berhasil menelurkan dua novel dari proses yang begitu rumit itu. Anggap saja pada akhirnya saya mengikhlaskan semua hal untuk terjadi.

Just do the best, and let God do the rest

*

Saya rindu naik gunung, rindu merasa sangat lelah karena perjalanan panjang, rindu berkontemplasi dan menghabiskan waktu dengan diri sendiri. Namun belakangan gunung menjadi tidak semenyenangkan dahulu, bahkan bisa dibilang susah menemukan tempat bermain yang bisa menjadi ruang untuk berkontemplasi. Ingin memulai perjalanan solo keliling Indonesia, kabur dari semua hal ini, dan menemukan diri sendiri yang sungguh-sungguh saya akui.

Terkadang bahkan saya melakukan penyangkalan terhadap diri sendiri. Karena tidak puas? Malu? Mungkin. Tapi saya tidak tahu karena apa.

Tapi sungguh, kehilangan mimpi bukan lah hal yang menyenangkan. Saya selalu iri pada orang-orang yang bisa dengan yakin mengikuti kata hati mereka. Entah yang ‘sekedar’ ingin menjadi pekerja kantoran, atau yang akhirnya keluar dari jalur dan sungguh-sungguh menantang dunia. Saya selalu suka melihat orang yang bekerja begitu keras, sembari berharap saya pun bisa melakukan hal yang sama.

*

Hidup ini aneh. Terkadang saya merasa semua hal ini hanya ada di dalam pikiran, dan bukannya sungguh-sungguh merupakan sebuah kenyataan. Entah yang mana pula yang disebut sebagai kenyataan. Pada akhirnya pun saya tidak bisa menjelaskannya dengan gamblang. Banyak dari mimpi saya yang justru terasa lebih nyata dibandingkan dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Ada kenyataan-kenyataan yang berakhir tanpa kesan, seakan mereka tidak sungguh-sungguh terjadi. Namun banyak mimpi yang akhirnya begitu berkesan hingga saya bisa menceritakan detailnya hingga hari ini.

What a life.