Parwati

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ia duduk terpekur di bawah pohon beringin di depan galeri seni, seorang diri, tanpa berkedip melihat manusia berlalu-lalang di hadapannya. Dalam benaknya terbayang bagaimana semua gambar manusia-manusia itu datang dan pergi tanpa memberi salam atau sekedar kedipan kepadanya. Sementara Parwati dengan setia memandang manusia-manusia di sekitarnya, raga demi raga.

Sungguh kah aku nyata? Ia bertanya pada udara.

Ia kembali memandang ke sekitarnya.

Nyata, apakah itu? Ketika kita merasakan semua hal di sekitar kita, sudah kah kita yakin semua itu nyata?

Perlahan ia memejamkan matanya, merasakan semua kebisingan di sekitarnya, hingga begitu hening pikirannya. Ia kini bahkan mampu mendengar detak jantungnya sendiri.

Hidup, yang mana kah yang kau sebut hidup? Apakah ketika kamu mendengar detak jantungmu, atau kau merasakan desah napasmu, atau ketika kau merasa semua hal dalam dirimu bertumbuh?

Tapi bagaimana kau bisa meyakini bahwa pernah ada perubahan dalam dirimu? Bagaimana tumbuh itu bisa dinyatakan sementara pengalaman hanya ada di dalam pikiran?

Parwati membuka mata, tampak olehnya manusia masih berjejalan ingin memasuki wilayah pameran. Semua orang-orang itu, apakah mereka memikirkan hal yang sama denganku? Adakah mereka juga resah menyatakan makna hidupnya?

Ia lantas memilih satu orang secara acak, memperhatikan orang itu berjalan kesana kemari dengan rekannya. Bagaimana tingkah lakunya, raut wajahnya, senyumnya, cara jalannya, postur tubuhnya, dan semua hal tentang orang itu, diperhatikan dengan begitu seksama oleh Parwati.

Seandainya, aku bisa melihat diriku sejelas aku memandang orang itu.

Mengapa kita menjadi satu-satunya manusia yang tak mampu melihat sosok kita sejelas melihat orang lain? Begitu sulit memahami kesan diri sendiri karena kita justru terasing dari diri sendiri.

Parwati mendesah pelan, lantas menyandangkan tasnya ke bahu. Sejenak ia menatap awan di langit; langit bulan Juni yang terang membiru menyenangkan. Angin berhembus pelan menerpa wajahnya, seakan berisik bahwa yang ia rasakan nyata adanya. Eksistensinya mungkin memang hanya dibatasi oleh panca indera, namun rasa itu begitu nyata untuk sekedar menjadi pikiran semata.

Ia kini memandang lurus ke depan, tersenyum entah kepada siapa, lantas berjalan mantap memasuki kerumunan dengan percaya diri yang besar. Ya, ia akan bisa bahagia di tengah kesemerawutan dan arena persaingan nan ketat itu.

wordsflow