Krisis Eksistensi

by nuzuli ziadatun ni'mah


Lemme take a breath first…

Kayaknya saya semakin rajin nulis di blog, berhubung memang semacam lagi nganggur dan suasananya pas banget untuk terus cuap-cuap menggumbar rahasia di media online. Well, tulisan-tulisan saya di sini sebenarnya nggak layak sih buat jadi bacaan umum, terkadang bahkan saya sering bertanya-tanya juga sama diri sendiri, kenapa masih auto update ke twitter. Tapi yah, secara sebagai salah satu makhluk golongan ‘weak soul‘ yang nggak pernah bisa mengungkapkan keinginan terpendam, maka apa mau dikata, ujung-ujungnya cuma bisa ngegerendeng di media-media sosial. Sok asik update sana sini, bahkan nggak sedikit yang sebenernya sangat nggak perlu. Tapi meski begitu, ujung-ujungnya juga nggak pernah merasa butuh untuk menghapus satu atau semua hal itu.

Oke, sedikit bicara hal yang berbobot deh.

Beberapa waktu yang lalu saya mengeksplorasi rak buku saya yang sudah kotor di beberapa spot karena buku-buku lama yang jarang disentuh. Lantas saya berhenti di bukunya Haruki Murakami, Orang Asing-nya Albert Camus, dan buku Heidegger untuk Pemula terbitannya Kanisius. Teringat saja sama postingan teman saya tentang eksistensi, alhasil saya akhirnya malah membaca beberapa halaman dan mengurungkan niat mandi.

Selalu, berusaha memahami banyak paham-paham filsafat tapi sangat sulit memahami lewat teks, apalagi logika saya mudah terdistraksi oleh hal-hal sepele (contohnya susunan kata). Pada akhirnya visualisasi menjadi solusi yang sampai saat ini adalah yang menurut saya paling ampuh untuk membantu saya memahami.

Nah, setiap saya melihat bukunya Haruki Murakami dan Albert Camus, saya semacam merasa dibawa ke alam yang entah; dark, mungkin? Perasaan yang tidak saya temukan saat membaca buku lain (atau mungkin karena saya memang belum banyak membaca). Tapi buat saya sendiri, mengenang tulisan-tulisan Haruki dan Camus membuat saya lebih ingin hidup dan banyak membaca. Istilahnya bukan termotivasi sih, lebih tepatnya menghindari nasib tokoh-tokoh utama yang mereka ciptakan.

Lalu, tentang Mbah Heidegger ini, saya tidak akan banyak membahas paham filsafat ontologi nya Heidegger. Bukan saja karena saya nggak mudeng, tapi juga karena berbahaya membawa-bawa pemikiran orang lain, tapi ternyata nggak sesuai dengan yang dimaksud oleh di subjek. Jadi biarkan orang lain saja yang membahas ini dengan cara yang lebih ilmiah.

Nah, jadi bahasan kita apa?

Sederhana saja. Saya hanya ingin berpendapat tentang masalah ke-ber-ADA-an yang sampai sekarang masih bisa saya pahami. Mungkin sebenarnya ada bagian dari pemikiran saya yang beririsan dengan tokoh-tokoh filsafat entah siapa, tapi ya, selebihnya ini murni pendapat dan pencarian aja sih.

*

Saya sangat suka dengan pernyataan Descartes tentang:

cogito ergo sum

__saya berpikir, maka saya ada

Ketika pertama kali mendengar kata ini, saya melogika pernyataan itu (dengan sombongnya tanpa berusaha memahami pandangan Descartes sendiri) dengan nalar saya. Maka justru yang muncul adalah pertanyaan; apa itu ada?

Saya sering sih mengulang bahasan ini di blog ini, atau di sosial media, atau bahkan di buku harian saya. Ujung-ujungnya saya belum juga menemukan penjelasan dari pencarian saya.

Tapi, setahu saya, Descartes memulai memahaminya dengan pertanyaan yang sama. Lantas ia memikirkan bagaimana semua nyata itu bisa diartikan, hingga sampai ia ke pertanyaan; lantas ketika saya tidur yang mana kah yang disebut ada? Tidur membawa kita pada alam bawah sadar, tempat yang tidak bisa merasakan rasa sakit (yang digunakan awam untuk menyatakan ‘kenyataan’), sedangkan kita pun merasakan keberadaan diri pada saat yang sama. Dari situ (setahu saya sih), Descartes menyatakan bahwa satu-satunya yang tidak berubah adalah bahwa kita berpikir selama melakukan semua hal itu. Maka keluar lah pernyataan melegenda dia seperti yang saya tulis di atas.

Sampai sini, saya meng-amin-i pernyataan Descartes dan menemukan kelegaan. Oke, saya berpikir maka saya ada.

*

Lantas pertanyaan selanjutnya pun muncul; tapi siapa kah sebernarnya yang sedang berpikir? Yang mana kah dari tubuh ini yang merupakan ‘aku’?

Saya mencoba memahami mekanisme berpikir dengan pendekatan biologi, bagaimana mekanisme pergerakan impuls dan aktivitas otak. Semua itu bisa saya pahami memang, tapi pertanyaan saya masih belum bisa terjawab juga.

Maksud saya adalah, ketika kita membicarakan berpikir, ada kesadaran yang menyatakan bahwa berpikir itu tidak dijalankan oleh mekanisme syaraf otak, tapi sesuatu yang muncul dari ketiadaan. Mungkin karena dalam agama saya menyatakan bahwa manusia (roh sih lebih tepatnya) mengalami 5 dunia; arwah, rahim, fana, barzah, dan akhirat. Secara otomatis kemudian saya pun menerjemahkan wujud roh itu ke dalam pemikiran saya tentang makna keberadaan. Kan, jika memang roh itu bergerak melewati kelima dunia itu, kita jadi tidak bisa mengatakan bahwa berpikir mampu menyatakan keberadaan. Bisa jadi kita tidak mengalami proses ‘berpikir’ di empat dunia lainnya, padahal kita pun ‘ada’.

Saya juga menemukan missing link dalam beberapa hal. Misalnya, mungkin manusia memang memiliki kebebasan berpikir yang begitu luas dan tidak terhingga, tapi manusia tidak terhindar dari hal-hal ‘duniawi’. Kita bisa sakit, kita tidak mampu mengubah nasib, kita tidak bisa meminta untuk dilahirkan kembali, kita bisa terluka, mati. Semua itu menjadikan pernyataan cogito ergo sum jadi semacam nggak punya kekuatan magicalnya lagi buat saya.

*

Well, meski tulisan ini pun berujung embuh, tapi saya punya keyakinan besar bahwa kesadaran akan keberadaan itu ada di setiap manusia, entah seberapa pun levelnya. Jadi, mungkin jika ada yang bisa memberi saya penjelasan yang lebih bisa saya terima akan sangat baik untuk kesehatan jiwa saya. Hehe…

Segini dulu lah, semoga saya bisa melanjutkannya lain kali.

wordsflow