Those stories along the road

by nuzuli ziadatun ni'mah


Terlalu banyak perjalanan yang saya lakukan untuk bisa diceritakan secara keseluruhan. Bukan hanya sekedar perjalanan menuju ke bangunan sebelah menerobos hujan, atau bahkan perjalanan berhari-hari yang memberikan cukup waktu melakukan kontemplasi seorang diri. Bagi saya setiap perjalanan selalu memiliki kenangannya masing-masing.

Fokus menjadi hal yang utama di sini.

Banyak perjalanan yang gagal saya maknai karena fokus saya bukan pada perjalanan, namun pada masalah yang saya hadapi dari waktu keberangkatan. Hingga terkadang saya bahkan lupa sama sekali bahwa saya pernah melakukan perjalanan ini atau itu.

Beberapa waktu yang lalu, saya melakukan perjalanan kampus-rumah terlama yang pernah saya lakukan, yaitu sekitar 2,5 jam perjalanan naik motor dengan kecepatan rata-rata 35 km/jam. Bukan saja rutenya yang memang saya perpanjang, namun kecepatan yang demikian menjadikan perjalanan itu super lama.

Saya berpikir penuh selama perjalanan saya, sementara otot motorik saya secara otomatis mengatur motor saya untuk berbelok di sana sini sehingga saya tetap bisa sampai di rumah.

Sekali lagi, fokus menjadikan segala hal yang ada di luar fokus menjadi hampir tidak bermakna sama sekali. Ketika itu yang menjadi fokus saya adalah pikiran, sehingga seluruh panca indera saya mereduksi fungsinya hingga batas sekedar untuk membawa saya pulang ke rumah. Secara penuh, hal ini juga akhirnya mempengaruhi otak saya dalam menyimpan memori.

Sebelum ini saya pernah bercerita bahwa saya kesulitan membedakan mimpi dan kenyataan, atau fakta dan angan-angan. Belakangan setelah saya melakukan analisis kecil-kecilan, memang yang menjadi penyebab utama di sini adalah fokus saya ketika semua itu terjadi.

Pada kasus perjalanan, saya melakukan kontemplasi dengan mengimajinasikan atau berdialog dengan diri sendiri selama perjalanan. Dalam kurun waktu itu, pikiran memproduksi citra yang akhirnya berbaur dengan imaji yang ditangkap melalui lensa mata. Ketika itulah, perbenturan di dalam pikiran terjadi. Beberapa akhirnya justru tidak tertangkap sama sekali, namun banyak bagian darinya yang akhirnya berkolaborasi dan menciptakan imaji yang kabur dan tidak terdefinisikan dengan sempurna oleh sang pikiran.

Saya sesungguhnya menikmati sensasi itu, karena kemudian pemikiran tentangnya akan menuju ke arah analisa filosofis tentang waktu, momen, dan pikiran. Semua hal yang tertaut namun belum mampu didefinisikan dan dijelaskan oleh otak saya.

Bagian jeleknya, akhirnya kehidupan sehari-hari saya beberapa terpengaruh dengan percampuran kedua imaji tersebut, sehingga saya pun kesulitan memilah memori. Apalagi memori hanya eksis di dalam pikiran kita, dan hanya kita satu-satunya yang bisa menggambarkannya kembali.

Tapi, saya sungguh-sungguh menikmati kebingungan saya sendiri dalam menjelaskan ‘kekeliruan’ ini, karena hal itu membuat saya terus berpikir dan ingin tahu. Setidaknya ia tidak membuat pikiran saya berhenti bekerja.

wordsflow