Defense mechanisms

by nuzuli ziadatun ni'mah


We all afraid of being hurt by others, or left behind

Terkadang saya menyimpulkan bahwa pilihan yang kita punya hanya dua hal; menyakiti atau disakiti. Yang membedakan adalah, pada level mana kita melakukan semua hal itu, dalam kondisi apa kita melakukannya, dan bagaimana kita menyikapi setiap luka itu dalam hidup kita.

Broken heart, one of the most kind of pain

Saya sedang mencoba mengalisis tindakan saya selama (katakanlah) 2 bulan belakangan ini.

Perasaan itu sesungguhnya sederhana saja, bermula karena merasa, maka akhirnya kita mengikuti semua proses yang menyertainya. Sungguh, semua itu ada bukan karena paksaan untuk merasakannya, bukan karena saya mengharapkan sesuatu yang lebih besar dari sekedar rasa.

Menurut saya, ketika akhirnya saya merasakan sesuatu yang tidak bisa saya definisikan, atau ketika semua indera dan organ tubuh saya merespon pada suatu citra atau raga, berarti saya memang sedang mengalami perubahan persepsi akan seseorang. Bukan sekedar dengan siapa saya merasa nyaman, atau pada siapa saya menyimpan kekaguman, saya lebih suka mengikuti setiap pertanda yang muncul dari diri saya sendiri.

Bukan berarti juga semua itu tidak mengalami penyangkalan, atau pertanyaan-pertanyaan yang pada akhirnya hanya bisa saya monologkan di dalam pikiran. Semua proses itu, membentuk kepribadian saya dari satu bentuk ke bentuk yang lain.

Dalam diam dan hening, saya eksplorasi perasaan itu dengan banyak cara, mengekspresikannya dalam banyak karya. Dan dari semuanya, hanya berkata-kata padamu yang tidak pernah saya lakukan. Entah mengapa.

*

Pada akhirnya hal yang menghentikan (setidaknya untuk sementara) saya adalah hal-hal yang juga tidak jauh berbeda. Dalam menjaga rahasia kecil itu, saya menemukan begitu banyak hal yang tidak seharusnya saya tau (atau mungkin yang sebaiknya tidak saya tahu). Sedikit fakta yang menghancurkan saya dengan caranya sendiri, dan dengan cara yang saya skenariokan dalam pikiran. Begitu saja, semuanya tertahan dalam diam dan tulisan.

Sepeti itu pula, hingga hari ini masih saja saya melakukan berbagai mekanisme pertahanan diri, entah secara sadar maupun tidak. Saya melakukan penyangkalan atas fakta yang masih kabur, meski secara logis itu memang nyata adanya.

Sebegitu beratnya kah menerima sebuah kebenaran?

Tidak berat sesungguhnya, saya pun pernah mengalami ini pada periode yang lampau, dan nyatanya saya sembuh.

Lantas mengapa tidak untuk yang ini?

Berkali-kali saya mencoba merasionalisasi semua hal, merunut setiap peristiwa, atau kata-kata, atau tindakan, atau apapun yang dapat membantu saya menganalisa. Hingga akhirnya saya menemukan di bagian mana pikiran saya menolak begitu banyak pertimbangan untuk melupakan (atau bahkan memaafkan).

Logikanya, dalam diam yang begitu tenang dan dalam penantian yang begitu panjang, apa yang bisa saya protes? Tidak ada kan?! Tidak ada pula sesuatu pun yang bisa saya tuntut,

Saya merepresi perasaan itu dalam-dalam, baik cintanya, maupun sakit hatinya. Mencoba untuk memproyeksikan diri sendiri, merasionalisasi setiap hal, hingga akhirnya saya berpaling dari depresi ke aktualisasi.

Defense mechanism saya secara otomatis mengupgrade levelnya ke tahapan yang lebih bisa berguna untuk saya. Menulis mungkin, bekerja mungkin, jalan-jalan, berkarya, olah raga, dan akhirnya menertawakan semua hal itu.

*

Ya, pada tahapannya sendiri, setiap orang melakukan segala cara untuk menghindarkan dirinya dari rasa sakit. Sakit hati tidak akan pernah bisa sembuh selayaknya luka karena pedang, luka itu akan terus bertahan hingga akhirnya kita lupa atau tertutup dengan banyak hal yang lainnya.

Tapi, sungguh sesulit itukah sembuh dari luka hati?

Entahlah. Pada kenyataannya saya tidak bisa menyembuhkan diri dalam waktu singkat. Tidak semudah mengeringkan luka karena terjatuh atau karena tergores. Luka hati selalu memiliki caranya sendiri untuk membuat manusia terbelenggu. Bukan kah manusia juga mengalami hal sama dalam merespon rasa cinta dan kasih?

*

Ada banyak cara dalam membuat pertahanan diri dari luka hati. Penyangkalan adalah hal yang paling mudah dan paling awal dilakukan oleh semua orang sebelum tahapan pertahanan diri yang lain. Banyak orang yang melakukan penyangkalan terus menerus, bahkan ketika mereka telah menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Entah itu disebut ironi atau keras kepala. Pada akhirnya penyangkalan tidak akan membawa kita kemana pun kecuali dunia penuh ekspektasi yang kita ciptakan sendiri dan memberikan sensasi yang memabukkan pada levelnya sendiri.

Menurut sebuah artikel, semakin primitif suatu mekanisme pertahanan diri, maka semakin dewasa pula cara yang dilakukannya, dan lebih dapat menyembuhkan, atau setidaknya mengalihkan fokus kita, dan bahkan membawa manfaat yang lebih baik.

Pada level paling dasarnya, setelah melakukan penyangkalan, manusia melakukan mekanisme lanjutan dari apa yang mereka rasakan. Kalo menurut saya pribadi sih, level paling dasar ini hanya sebatas tindakan untuk kabur dari masalah.

Sebut saja ada 5 jenis mekanisme pada level ini;

  1. Regresi, adalah bentuk kemunduran dalam diri seseorang. Contohnya saja adalah mengalami kesedihan yang berlebihan, menangis dan merengek selayaknya anak kecil ketika menginginkan sesuatu.
  2. Acting out, tindakan menonjolkan perasaannya dan bukannya malah membicarakan dengan subjek yang dipermasalahkan. Dalam hal ini saya sering menunjukkan dengan ‘justru tidak menganggap seseorang itu ada’.
  3. Dissociation, yaitu memisahkan diri dengan masalah, dan biasanya menciptakan dunia pikirannya sendiri, dimana luka hati itu tidak ada. Dalam hal ini, banyak yang akhirnya terjebak dalam pemikirannya sendiri dan tidak mampu keluar dari masalah itu.
  4. Proyeksi, adalah bentuk pertahanan diri dengan membandingkan dengan orang lain, bahwa they are not even better than me.
  5. Reaction formation, adalah ketika justru kita melakukan hal yang berkebalikan dengan yang sesungguhnya kita rasakan. Contohnya adalah ketika saya begitu tidak terima dengan perlakuan seseorang, justru saya malah menjadi begitu baik padanya, dan bukannya melepas kemarahan.

Pada level yang lebih primitif dari ini, tindakan yang dilakukan lebih bersifat penerimaan. Artinya kita melakukan tindakan yang pada akhirnya akan membawa kita pada penerimaan.

Pada tahapan ini manusia merepresi memori dan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan luka hatinya, hingga semuanya terhapus sempurna dari ingatan kita. Beberapa merasionalisasi semua hal yang terjadi dan mencoba menjaga jarak dengan semua permasalahan yang ada. Terkadang ada yang mengalihkan kemarahannya pada objek yang lain, namun hal itu justru dapat menimbulkan masalah yang lebih besar dan bukan merupakan tindakan yang bijak untuk dilakukan.

Level yang paling primitif (atau bisa disebut sebagai tindakan yang paling dewasa) terdiri dari 3 jenis.

Yang pertama adalah sublimation, yaitu mengubah semua luka hati itu ke dalam bentuk imajinasi dan humor (pada tahap paling umumnya). Mungkin bisa juga direpresentasikan dalam bentuk karya seni. Mengekspresikan perasaan dalam bentuk imajinasi menjadikan sesuatu yang sebelumnya merupakan hal yang kita hindari menjadi sesuatu yang berharga. Ada perbedaan yang begitu besar ketika kita menulis dalam perasaan sedih yang mendalam, dan ketika kita sedang tidak merasakan perasaan itu. Tapi sih, menurut saya humor adalah level penyembuhan yang paling mutahir dibandingkan semuanya.

Yang kedua adalah dengan mengkompensasikan kekurangan kita dengan kelebihan yang kita punya. Setiap merasakan luka hati, ada bagian dari kita yang berkata lirih, “setidaknya kamu ini atau  kamu itu,” atau jenis perkataan lain. Nah, mekanisme ini yang sedang bekerja pada diri kita.  Jika kita bisa sembuh dengan mekanisme ini, berarti metode yang jika gunakan sudah mencapai level kedewasaan yang cukup.

Ketiga, assertiveness. Pada level ini sebenarnya adalah hal yang paling solutif untuk dilakukan karena dengan begitu orang lain akan memahami maksud tindakan dan hal-hal yang kita rasakan. Namun menegaskan maksud hati tidak pernah menjadi mudah, terlebih untuk mereka yang sejak kecil tidak terbiasa untuk melakukannya.

Bagaimana pun, mekanisme pertahanan diri lebih banyak muncul secara tidak sadar dan untuk itu tindakan kita terkadang kita anggap memalukan di kemudian hari, meskipun ketika itu kita melakukan pembenaran besar-besaran atasnya. Saya sih menulis ini agar kita lebih peka dengan maksud hati manusia-manusia di sekeliling kita. Karena lebih sering yang tidak diungkapkan itu begitu dalam maknanya, dan yang terlaksana sekedar topeng semata.

Dan yah, tolong koreksi jika saya salah…

wordsflow