out of the sphere

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada perbedaan yang amat besar dalam studi astrologi dan astronomi, istilah yang sering banyak disebutkan sembarangan dalam masyarakat kita. Saya bukan sedang ingin membela ilmu pengetahuan kok (saya nggak segitunya banget), tapi lebih sebagai penikmat ilmu pengetahuan. Sederhananya, saya adalah orang yang suka dengan ilmu pengetahuan, terutama yang berhubungan alam semesta. Yah, sekedar mencoba untuk memahami di tempat seperti apakah saya tinggal, atau seberapa terpencilnya ini, atau seberapa kecil kita sebagai manusia.

Beberapa waktu yang lalu saya melihat postingan di 9gag tentang meme yang bilang;

Born late to explore the earth and born too soon to explore the galaxies.

Saya punya ketertarikan yang aneh tentang alam semesta, meskipun saya punya pemahaman yang sangat terbatas, terutama pada bidang fisika kuantum. Entah jenis makanan apakah itu, dan terkadang saya nggak habis pikir bagaimana mungkin ada manusia yang bisa memikirkan hal-hal semacam itu. But yes, they have thought about it over and over.

Nah, mari membicarakan hal yang bisa saya pahami saja yak.

Bermula dari kekaguman saya terhadap benda-benda langit (yang juga bisa jadi karena efek melankolis atau pengaruh novel-novel yang saya baca). Peristiwa-peristiwa langit yang ada sering dan hampir selalu dikaitkan dengan banyak tahayul dan imajinasi dalam sepanjang sejarah hidup manusia. Mereka menamai setiap rasi bintang yang sesungguhnya jika kita lihat di langit hanyalah sebatas hamparan bintang-bintang tanpa ada kaitannya sama sekali. Bahkan jarak antar bintang dalam rasi bintang yang sama bisa begitu tidak terbayangkan. Intinya sih, saya menyimpulkan bahwa manusia selalu dan akan selalu tertarik dengan apapun yang bertebaran di langit. Entah peristiwa maupun bendanya. Mungkin juga karena langit adalah tempat menyimpan semua hal yang tidak bisa kita jelaskan. Semacam tempat dimana ketakutan-ketakutan manusia menunggu untuk menyatakan dirinya.

(oke, maaf mulai ngelantur)

Saya mulai memahami konsep astronomi saat saya menginjak bangku SMP. Ketika itu pertanyaan saya hanya sebatas posisi bumi dalam sistem tata surya, dan memahami lingkup lebih besarnya, yaitu galaksi. Saya bahkan tergila-gila dengan nama Andromeda, hingga sampai sekarang saya masih menggunakannya sebagai nama pena saya setiap kali menulis cerita fiksi.

Terkadang muncul pemikiran tentang seberapa pentingnya hal ini untuk hidup saya. Toh setiap benda langit memiliki jarak yang begitu jauh hingga tak mampu saya tempuh bahkan selama hidup saya. Jadi untuk apa saya mempelajari semuanya?

Kalau kata teman saya, will to survive yang selama ini didengungkan itu bukan hanya sebatas spesies, namun lebih kepada gen-nya. Sehingga menjadi masuk akal (semacam yang ada di film Interstellar) jika manusia melakukan apapun untuk memperhitungkan kelangsungan gennya di masa depan. Meskipun harus mencari tempat tinggal yang jaraknya bergenerasi dari Bumi. Bisa jadi.

Tapi ya, saya sendiri tidak pernah benar-benar tahu seberapa jauh kah pemahaman para ahli astronomi dalam hal ini. Seberapa maju kah mereka sekarang. Terkadang bahkan saya berpikir bahwa bisa jadi mereka telah pergi jauh dari Bumi tanpa ada yang tahu. Itu mungkin saja terjadi kan, haha.

Semua penemuan sebenarnya berawal dari pertanyaan dan rasa penasaran manusia akan sesuatu. Saya sih membayangkan pada awalnya orang Mesir kuno menemukan fakta bahwa Bumi itu bulat sebagaimana citra bulan yang tampak, bisa jadi karena pada malam hari hanya itu satu-satunya hiburan mereka. Tidak ada pencahayaan apapun yang menyebabkan polusi cahaya sehingga mereka mampu melakukan observasi lebih baik pada benda-benda langit. Saya mungkin lebih merekomendasikan untuk membaca (atau menonton) beberapa penemuan astronomi pada mulanya. Atau sebatas peristiwa yang terjadi di dalam sistem tata surya kita.

Jika menggunakan urutan logika yang sama dengan para penemu konsep sistem tata surya, kita akan bisa mengkonstruksi pemahaman kita tentang alam semesta yang begitu luasnya.

Sayangnya, mempelajari dan memahami astronomi tidak mungkin dilakukan dengan hanya membaca satu buku, atau mengurai pertanyaan secara terus menerus. Mempertanyakan tentang alam semesta sangat lah ekspansif, semakin lama semakin menjauhi Bumi, dan bisa saja membuat lupa bahwa yang kita tinggali hanyalah tempat sekecil Bumi.

*

Imajinasikan bahwa Bumi berputar pada porosnya, dan pada waktu yang bersamaan melakukan perjalanan mengelilingi matahari dalam waktu 356 ¼ hari. Pada saat yang sama, bulan juga melakukan rotasi dan berputar mengelilingi Bumi dalam waktu 29 ½ hari. Dalam hal ini, telah ada dua benda yang melakukan pergerakan secara simultan tanpa tergelincir sama sekali dari orbitnya.

Dalam waktu yang sama pula, ada 8 planet lainnya yang melakukan revolusi terhadap matahari dan melakukan rotasi dalam jangka waktu yang berbeda. Sampai sini, bayangkan semua hal ini bergerak bersama secara bersamaan dan dalam irama yang berbeda menciptakan gerakan yang mengagumkan.

Lebih jauh lagi, pada saat yang bersamaan matahari kita juga melakukan rotasi pada dirinya sendiri. Faktanya, matahari juga merupakan bintang yang jaraknya sangat dekat dengan kita. Kadang-kadang bahkan ada yang menanyakan bintang terdekat dengan Bumi dan tidak banyak yang bisa menjawabnya, haha.

Well, baru-baru ini saya memikirkan kelanjutan dari imajinasi itu, dan semacam baru sadar, kalau matahari pun adalah bintang yang juga mengorbit pada sistem yang lebih besar, yaitu galaksi.

Kesimpulan awamnya sih, sebenarnya kita tidak pernah berada di tempat yang sama sepanjang kita hidup, karena setiap dari itu melakukan pergerakan secara terus menerus tanpa henti. Menciptakan irama yang berkelanjutan seperti orang yang sedang melakukan tarian.

Bukankah begitu mengagumkan saat kita membayangkan seberapa kecil tempat kita tinggal dibandingkan luas alam semesta yang entah berapa kali besar galaksi, sedang kita sendiri tidak mampu mengimajinasikan besar galaksi itu sendiri. Bahkan mungkin juga kesulitan untuk membayangkan lingkup sistem tata surya kita.

Di luar sana ada sangat banyak hal yang tidak bisa kita ketahui, meskipun banyak yang mencoba untuk mencari tahu dengan mendatangi atau menganalisanya. Bukan kah orang-orang ini sangat mengagumkan?

*

Sebegitu rapuhnya ya kita sebagai manusia. Tinggal di setitik kecil benda yang mengambang di antara entah berapa banyak yang lainnya, sementara masih juga kita mempertanyakan hal yang remeh temeh.

Saya tidak pernah berhenti bertanya, mengapa hanya di tempat ini kita ditakdirkan untuk tinggal. Mengapa adalah matahari yang menjadi pusat sistem tata surya kita. Mengapa dari sebegitu banyak pilihan, Bumi menjadi tempat yang ditujukan untuk manusia. Mungkin ini juga sejenis dengan pertanyaan mengapa kita dilahirkan di masa ini, atau mengapa di tempat ini, mengapa di keluarga ini, dan sebagainya, dan sebagainya.

Tapi bagian yang lebih mengagumkan lagi adalah, fakta bahwa pengetahuan yang tidak terjangkau dan tidak mampu kita sentuh itu, muncul dari pemikiran manusia yang ukurannya begitu kecil dibandingkan dengan besarnya alam semesta.

Bukan kah dunia ini terlalu dipenuhi dengan hal-hal yang tidak terbayangkan?

wordsflow

<a href=”http://www.infoastronomy.co.vu/3rdanniversary”><img src=”http://i60.tinypic.com/723ywz.jpg&#8221; border=”0″ alt=”Klik untuk ikutan juga!”></a>