on marriage

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sebut saja saya sedang ingin menulis dengan sangat.

Setelah selama entah berapa minggu saya menunda mengurus skripsi saya ke perpus pusat, akhirnya semua beres juga, dan setelah mengecap sedikit kelegaan karena terbebas dari kemalasan, maka saatnya menuliskan sebait hidup saya belakangan ini.

Entah ada angin apa, saya terus menerus digempur dengan topik pernikahan. Saya sesungguhnya belum amat yakin dengan diri saya sendiri tentang konsep pernikahan, tapi mungkin saya beri contoh saja dari nyinyiran atau semangat teman-teman di sekitar saya tentang pernikahan.

Sebelumnya saya juga sempat membahas tentang pernikahan sesama jenis, yang agaknya membuat saya eneg sendiri setelah membacanya ulang.

**

Semua dimulai ketika suatu ketika adik saya menyampaikan bahwa ia mau menikah. Dalam hal ini, sesuai dengan tata kesopanan bersaudara (entah sejak kapan itu ada), seorang adik menjadi tidak boleh melangkahi kakaknya (apalagi perempuan) dan memilih menikah duluan. Jadi, saya di sini sebagai penyebab, dan adik saya yang menerima akibat. Padahal saya pribadi tidak masalah, toh masing-masing memiliki jalurnya sendiri.

Apesnya, setelah itu topiknya berlanjut menjadi ‘mencarikan saya pasangan’ yang terus menerus dibicarakan berdua oleh adik dan ibu saya. Saya sih santai aja, selama tidak ada ijab dan qobul, semua itu tidak berlaku sama sekali.

Tapi yah, sebenarnya muak gimanaa gitu, karena saya pun amat sangat pemilih dalam memilih orang yang akhirnya ingin saya nikahi. Saya lebih yakin untuk melahirkan anak dibandingkan memilih pasangan hidup. Saya tidak suka menghubungkan semua kebutuhan menikah dengan agama, karena pernikahan pun hanya sebuah penyempurnaan dalam beragama.

Tapi untuk merekonstruksi konsep pernikahan agaknya perlu mengupasnya dari awal, jadi nantinya lebih paham, sebenarnya menikah itu keperluannya apa sih.

Keturunan

Saya tahu, jika dilakukan dengan pendekatan agama (Islam), sejak awal kehidupan kita telah diciptakan berpasangan, dan diperintahkan untuk membangun rumah tangga dengan pasangan hidup kita. Manusia diperintahkan untuk ‘berkembang biak’ dan menyebarkan keturunannya di bumi. Semuanya menjadi wajar dan biasa saja ketika memang ketika itu kita hanya berkutat dengan orang yang sama karena begitu sedikit manusia di dunia ini. Bisa jadi juga karena kebutuhan saat itu ‘hanyalah’ untuk bertahan hidup, sedangkan kemampuan manusia terbatas akan akses dan segala hal.

Perkembangan selanjutnya menjadi berbeda ketika manusia memunculkan lebih banyak ego dari dalam dirinya, bahwa meneruskan keturunan itu amatlah penting. Di sini coba bayangkan kepentingan yang ada dari masing-masing individu ketika itu; keturunan dan kekuasaan.

Contoh yang menarik dan membuat hati tentram sih kalau membaca Mahabharata (yang kebetulan memang sedang jadi bahan bacaan saya). Mereka menikah karena cinta, kesetiaan, kehormatan, dan semua alasan yang hanya akan muncul di dunia cerita dan novel. Mereka menikah untuk memiliki keturunan dan memastikan bahwa kekuasaan mereka tidak akan hilang hanya karena tidak memiliki anak. Di sini, menikah lantas menjadi sangat penting sebagai jaminan bahwa gen kita tidak terputus.

Oke, saya refleksikan masing-masingnya ke dalam diri saya sendiri.

Saya pernah sungguh-sungguh membayangkan jika saya akhirnya tidak menikah atau menikah dan tidak punya anak, atau saya harus membesarkan anak orang lain. Di sini saya pernah mengalami perang batin demi menyiapkan segala kemungkinan itu di dalam hidup saya. Saya pernah sangat takut karena saya pun menyadari bahwa melahirkan adalah suatu keinginan paling egois saya yang sangat tulus. Saya bahkan membayangkan jika suatu ketika (yang semoga tidak), saya terpaksa melahirkan tanpa suami, akan kah saya melakukankannya. Dan ya, saya akan melahirkan anak itu.

Meskipun demikian, saya pun menyadari bahwa manusia datang dan pergi seorang diri. Ketika saya mati, tidak akan ada saya yang kedua, dan saya tidak akan menjadi sesuatu selain kembali menjadi tanah.

Lantas apa pentingnya memiliki anak?

Karena perasaan bahwa saya akan tetap hidup dalam diri anak saya masih belum mampu saya tepis. Tapi berulang kali saya terus menerus membuat skenario jika akhirnya saya hidup sendiri, dan bagaimana pun, saya mencoba mengikhlaskan apapun di kemudian hari.

Seks

Setelah alasan kekuasaan dan keturunan, orang mulai cenderung ke kebutuhan seksual dalam bersekutu dengan lawan jenisnya. Saya tak akan memungkiri hal ini, karena itu pun ada dalam diri setiap manusia.

Saya pernah membaca perempuan di titik nol, sebuah novel feminis yang begitu memojokkan laki-laki dalam latar ceritanya. Saya sebenarnya semacam muak karena toh saya merasa perempuan juga melakukan hal-hal yang hampir serupa dalam hidup mereka. Saya susah menjelaskan di sini, tapi saya nggak sepenuhnya setuju dengan isi novel itu.

Seks, adalah naluri, yang kemudian menjadikan manusia terbagi dalam kelas-kelas kesopanan tergantung seberapa kuat kita menahan itu. Ada orang yang tidak butuh menikah namun melakukan hubungan seksual dan merasa itu legal. Ada orang yang menikah dan tersiksa justru karena tidak mendapatkan kebahagiaan (seks) sebagaimana yang ia idamkan. Dan banyak yang tidak mampu menyentuh pasangan yang telah mereka nikahi. Saya tak butuh memberi contoh, karena akan kalian temukan di mana pun di sekitar kita.

Belakangan, ketika setiap akses ke seksualitas semakin mudah, kita jadi menganggap seks sebagai hal yang biasa dan tidak sakral. Karena begitu mudahnya, orang semakin menganggap pernikahan hanya legitimasi akan seks.

Buat saya, sama sekali tidak. Hanya mereka yang mengisi pikirannya dengan seks yang akan memandang pernikahan serendah itu. Atau hanya mereka yang terlalu banyak melihat kegagalan pernikahan yang akhirnya melakukan pemberontakan yang demikian.

Agama

Faktor ini menjadi sangat penting dalam pernikahan. Ketika kita menentukan untuk memeluk suatu agama tertentu, secara kasar bisa saya katakan bahwa kita melepas sedikit kebebasan kita dan membatasi diri kita akan sesuatu, termasuk pernikahan.

Dalam pengakuan kita sebagai manusia yang beriman dan mengacu pada sebuah agama tertentu, mau tidak mau kita harus juga mengikuti tata aturan yang ada di sana. Bukan terus kemudian saya setuju sepenuhnya dengan hal itu, tapi simpan ini untuk bahasan di akhir.

Cinta

Well then, sering mendengar nggak sih; nikah tuh nggak cuma butuh cinta. Tapi coba balik pernyataan itu, kalo akhirnya kamu harus menikah dengan orang yang tidak kamu cintai, maukah melakukannya?

Berkali-kali saya bertemu dengan orang yang (terlihat) bahagia dalam pernikahannya, berkali-kali saya bertemu dengan mereka yang menghancurkan diri karena pernikahan, berkali-kali melihat penyesalan, dan kesemua itu menjelma menjadi pertimbangan.

Jadi intinya apa?

Jika kita melihat dari satu bagian saja dari kesemua itu, tidak akan pernah kita menemukan kesimpulan yang akhirnya kita ikhlaskan. Bukankah menikah menyangkut pertanyaan tentang 5W1H juga?

Semuanya bukan hanya masalah keturunan, seks, agama, dan cinta. Pernikahan bukan sekedar urusan dunia, tapi saya juga nggak sepakat kalau itu sekedar urusan akhirat. Saya memaknai pernikahan jauh lebih dalam dari pada sekedar hidup bersama seseorang, entah orang yang telah lama saya cintai atau yang baru saya temui.

Kadang saya berpikir, jika semua hal di sekitar kita tidak mendukung keinginan kita, untuk apa berjuang lebih jauh? Bukan masalah ‘saya ingin berhenti memperjuangkan seseorang’, tapi kalian akan sadar jika hal itu terjadi di hidup kalian. Dari empat faktor yang saya sebut tadi, mungkin agama menjadi titik tolak semuanya.

Ketika dihadapkan pada perbedaan agama, kita akan memberontak pada sistem, pada negara, pada keluarga, hingga akhirnya pada satu sama lain. Pada akhirnya, orang malah menghancurkan diri sendiri karena hal itu.

**

Ya, saya pernah mengatakan bahwa cinta tidak berada di koridor yang sama dengan pernikahan, dan hingga sekarang saya masih meyakininya. Saya memaknai cinta sebagai perasaan paling rahasia dari manusia. Bahkan jika saya sampai menikah dengan orang yang belum saya cintai, akan selalu ada yang membantu saya dalam mencapai kebahagiaan. Karena hidup kita hanya milik kita seorang, karenanya saya harus juga membangun diri saya sesurgawi mungkin untuk bisa menemukan sendiri kebahagiaan-kebahagiaan itu.

Semacam membual nggak sih saya?

Tapi sungguh, saya memikirkan hal-hal semacam ini, karena saya percaya cinta dan persekutuan adalah hal yang sangat purba. Sebegitu purbanya hingga akan kita temui cerita yang tidak berbeda dari masa ke masa. Bahkan mungkin ketika segala hal menjadi begitu tidak bermoral, cinta dan persekutuan dua manusia akan selalu tetap ada.

Setidaknya saya memelihara cinta dengan cara yang semoga terhormat.

wordsflow