another talk

by nuzuli ziadatun ni'mah


Lebaran lagi!!

Tidak ada yang terlalu istimewa di lebaran kali ini. Puasa yang tidak berasa lama, cerita yang biasa saja, kecuali pertanyaan yang kini bisa saya jawab dengan lebih yakin. Ya, saya akan lulus bulan Agustus.

By the way, di kumpul-kumpul halal bi halal di masjid desa kami, saya baru menyadari hampir semua orang yang berumur di atas adik saya telah menggendong anak mereka. Dan selain kami bertiga, teman sebaya kami yang belum menikah bisa dihitung jari.

Nggak sedang berkeinginan untuk membahas masalah nikah sih, totally not. Hanya sekedar ingin menceritakan bagian itu doang, karena hingga hari ini saya dan saudara-saudara saya belum menikah juga, hahaha.

Sekali lagi, entah karena memang keadaannya yang berubah, atau saya yang semakin dewasa (atau sekedar lebih tua), atau memang karena saya memang sedang tidak excited, saya rasa lebaran semakin tidak terasa istimewa buat saya. Biasa saja. Atau mungkin sebenarnya emang biasa saja dari dulu. Entah lah.

Sembari duduk-duduk di masjid waktu malam takbiran, saya mengingat masa-masa kecil saya.

Dulu saya selalu suka malam takbiran, karena saya akan sibuk membuat oncor (obor) untuk dipakai takbir keliling. Saya pernah membuat bentuk yang paling biasa hingga bisa bikin bentuk kubah masjid, entah gimana caranya waktu itu.

Acara favorit saya jelas tak bisa tidak, yaitu masak bersama Ibu Siska Suwitomo di siang bolong. Makanannya selalu tampak enak, dan saya semacam tiba-tiba pengen punya dapur kayak ibunya. Nyatanya, hingga hari ini dapur itu belum terwujud, haha.

Saya sangat suka malam takbiran, karena dulu jalan kelilingnya sangat jauh, oncornya banyak, dan nyala beneran dengan api. Sedangkan sekarang kebanyakan yang disebut obor cuma bentuk-bentuk kartun-kartun dari stairofoam dengan lampu berbaterai. Well, nggak masalah sih. Tapi sayang aja anak-anak ini nggak merasakan serunya bikin-bikin oncor dengan bambu dan minyak tanah. Motong bambu sendiri, ngehias gagangnya sendiri. Ah nggak sih, romantisme saya doang sebenarnya.

Udah gitu, pada minggu terakhir puasa selalu ada lomba-lomba keagamaan di masjid. Hadiah lombanya bisa mensupport kebutuhan buku sekolah saya dan saudara-saudara saya selama 6 tahun di Sekolah Dasar, hahaha. Ada dua lomba kesukaan saya ketika itu; menata huruf hijaiyah dan cerdas cermat agama. Adrenalinnya ada banget tau, waktu nyari huruf dari tumpukan kertas-kertas kecil, atau waktu dulu-duluan jawab pertanyaan.

Merenungkan lebaran demi lebaran sepanjang yang bisa saya ingat, dan ternyata sudah sangat banyak lebaran yang saya lalui.

Dari jamannya masih nyuri-nyuri makan siang saat masih taman kanak-kanak sampai sudah nggak peduli sahur, atau dari jaman heboh beli baju baru sampai pake baju yang sama terus dari tahun ke tahun. Manusia berubah dan berproses. Kita berjalan tiada mampu kembali ke belakang.

Perasaan-perasaan lampau yang membanjir ketika mendengar lagu lama yang mengingatkan pada kejadian-kejadian, atau ketika menemukan baju masa kecil, atau ketika melihat momen yang juga pernah kita rasakan, atau ketika melihat teman-teman TK yang sudah dewasa. Semua hal tiba-tiba membanjiri ingatan ketika duduk terdiam menikmati sekitarnya.

Namun meskipun dari lebaran ke lebaran selalu ada banyak hal yang berubah, paling tidak saya sangat suka melihat banyak orang berfoto dengan keluarganya. Saya yang diam-diam mendambakan foto keluarga dari dulu pun akhirnya bisa punya foto keluarga lantaran manusia-manusia jaman sekarang semakin heboh selfie.

wordsflow