telaah, memori

by nuzuli ziadatun ni'mah


Telah lebih dari seminggu saya menelantarkan blog ini. Oh ya, sejujurnya saya sedang tidak memiliki bahan untuk dituliskan, tidak sedang mengalami sesuatu yang penting untuk dicurhatkan. Tapi coba saya tuliskan beberapa hal. Siapa tahu tetiba saya bisa menciptakan karya tulis yang layak baca di malam ini.

Oke, mungkin ada sih yang bisa saya cuhatkan. Dalam hitungan minggu, adek saya akan resmi menjadi istri orang lain, dan meski saya bilang saya baik-baik saja, tetap ada sesuatu yang berubah setiap kali saya menginjakkan kaki di rumah.

setiap detik adalah larik, setiap tempat adalah latar, setiap orang adalah tokoh utama,
setiap kita menciptakan dunia; entah yang nyata atau maya

Saya menuliskan kalimat ini di akun twitter saya beberapa jam yang lalu. Sebatas pengungkapan pendapat, bahwa sesungguhnya kita memainkan peran berbeda di setiap waktu, tempat, dan di hadapan orang yang berbeda pula. Kita tidak pernah menjadi orang yang sama, meski ia masih tetap diri kita sendiri.

Kita, ah mungkin hanya saya, tidak pernah menjadi orang yang sungguh-sungguh sama sepanjang waktu, di semua tempat, dan bahkan di hadapan banyak orang. Selalu ada bagian diri saya yang menyaring kepribadian mana yang harus dan tidak perlu saya tunjukkan. Bagian mana dari diri saya yang seharusnya menjadi dominan. Saya pikir, hanya dengan memahami perubahan dan perbedaan itu, saya akhirnya baru akan mampu memahami diri saya sepenuhnya.

Itu bukan menipu diri atau berkepribadian ganda. Bukan sama sekali. Kesemuanya tetap lah diri saya yang asli. Saya yang jutek, sinis, terkadang baik, penyayang kucing, angkuh, tak acuh, atau kepribadian yang lain, adalah saya yang sesungguhnya. Bukan pula membeda-bedakan tempat atau orang lain, namun ada kalanya menjadi diri kita yang paling nyaman lah yang akhirnya menuntut kita untuk bertindak sesuai waktu, tempat, dan situasi.

Pun begitu dengan saya di kampus, di kosan, di tempat umum, atau saya di rumah.

Kepribadian yang paling saya sukai adalah diri saya ketika di kampus. Itu semacam diri saya yang hanya bisa saya tunjukkan di kampus, sedangkan saya yang ada di kosan, tempat umum, dan rumah tidak akan pernah sepenuhnya menjadi seperti itu. Entah karena lingkungan atau karena penerimaan saya atas hal-hal yang terjadi di kampus, saya menjadi orang yang cukup terbuka terhadap diri saya sendiri dan permasalahan yang saya hadapi. Saya jarang membenci dan lebih banyak tertawa dibandingkan jika saya ada di lingkungan yang lainnya.

Kosan dan tempat umum buat saya merupakan ruang privasi saya yang paling dalam. Karena ketika itu saya banyak menenggelamkan diri di dalam pikiran dan dunia imajinasi saya yang masih berantakan. Saya selalu punya ide cerita atau sajak atau renungan di kedua tempat itu. Saya menjadi pendiam, tertutup, dan cenderung sinis terhadap sekitaran saya.

Hanya dengan merekonstruksi bagaimana itu terjadi, baru akhirnya saya paham bahwa hal itu pun merupakan mekanisme pertahanan diri saya dari ‘bahaya’ yang mungkin mengancam dari luar. Terkadang saya lari dan bersembunyi di dalam batok kepala saya, atau terkadang saya sungguh-sungguh berlari hingga lelah menghampiri. Kesemua hal itu hanyalah mekanisme pertahanan diri saya dari rasa sakit, entah yang mampu dirasakan atau yang hanya berupa renungan.

Oke, cukup lah sendu-senduannya.

Saya rindu naik gunung, amat sangat. Tapi untuk melakukannya, saya butuh beberapa pertimbangan (yang sesungguhnya hanya ada di pikiran saya tanpa pernah saya katakan), dan karenanya hingga hari ini belum juga terlaksana.

Ah, mungkin sebaiknya saya perlihatkan foto-foto pendakian saya ke Lawu suatu ketika dulu, dalam rangka merayakan ulang tahun sahabat pena saya saat SMP. Ini salah satu dari sedikit memori menyenangkan saya di kampus Arsitektur. Ketika itu kami melakukan pendakian lintas angkatan karena sering ngumpul bareng di kantin kampus. Pendakian super sembrono via Cemoro Kandang dan turun di Cemoro Sewu Gunung Lawu. Kami berangkat memulai pendakian jam 3 sore dan muncak jam 2 pagi dan bermalam di puncak. Bertahun-tahun setelahnya saya selalu merasa ini pendakian bodoh. Tapi untungnya tidak terjadi apapun pada kami.

IMG_9162

Ini foto sebelum berangkat ke lempuyangan. Ketika itu kami menggunakan kendaraan umum karena akan melalui jalur yang berbeda untuk naik dan turunnya. Foto paling saya suka di depan tulisan Teknik Arsitektur. Oiya, waktu itu sengaja banget fotonya di sebelah kiri biar tulisan ‘dan Perencanaan’nya nggak kelihatan, haha.IMG_9178

Pendakian yang super nggak safety. Saya packing paling banyak, bahkan bawa tenda segala. Untungnya ketika naik kami saling bertukar muatan, jadi tampak lebih adil.IMG_9198

Di pos 3 sempat ada kejadian mie tumpah karena saya nggak kuat mindahin dari atas kompor. Padahal kami telah amat sangat lapar dan kedinginan. Sedikit cerita, semua orang yang ikut pendakian ini adalah asdos TKAD (Teknik Komunikasi Arsitektur Dasar), orang-orang keren yang sering kami ajak diskusi masalah desain pada masanya dulu (sebelum saya malas ngampus).IMG_9244Well then, karena sudah muncak jam 2 pagi, esok harinya saya malas bangun pagi untuk sunrise-an. Saya tetap tidur sampai waktu foto-foto tiba. Saya rasa ini kali terakhir bendera Khatulistiwa berkibar atas nama Arsitektur UGM deh. Saya sudah nggak tahu lagi dimana bendera ini, dan kemana orang-orang ini.

wordsflow