sajak xvi: sebermula rasa

by nuzuli ziadatun ni'mah


Pada mulanya, semuanya sesederhana rasa.

Bagaimana caramu menjelaskan kedatangan kita pada satu sama lain suatu malam yang telah lampau? Bagaimana caramu merasionalisasi takdir yang dituliskan langit untuk kita?

Sayangnya, kisah itu tidak hanya bermula untukku, atau untukmu, tapi banyak di antara kita. Lihat lah, bahkan Tuhan memberikan pilihan pada ‘pertemuan’ dan kita bebas merapatkan diri ke sesiapa yang ingin kita tuju.

Dalam malam tanpa kata perkenalan, aku memandangmu entah karena pesona atau karena keingintahuan. Aku mencuri pandang ke arahmu, sembari berharap bahwa pertemuan itu kau maksudkan padaku. Tapi itu hanya sekedar harap, sedang kuyakin kau tak lagi mengingat kejadian itu sejelas yang terekam dalam memoriku.

Bukankah kenangan terbentuk dari momen dan rasa yang saling bercengkrama? Sedang kukira tiada rasa yang tercipta dalam pertemuanmu denganku.

Lama setelahnya, tokoh utama berubah silih berganti, aku, kamu, dia, mereka. Masing-masing dari kita mengambil jatah yang pantas dalam pentas teater selama ini. Ironisnya, kita sendiri pula yang menjadi penonton setia teater itu, hingga terkadang kita lupa bahwa suatu ketika kita juga pernah memerankan bagian pentingnya.

Dalam kisahmu, aku bisa jadi tak penting, pun sebaliknya, dalam duniaku, bisa jadi kamu hanya figuran semata. Tapi lihatlah, sekarang dalam diriku, kamu dan aku sedang memerankan bagian penting dalam menyatakan takdir dan nasibku. Aku hanya perlu menunggu, akankah kamu merusak dialognya atau justru menawarkan yang lebih baik dari itu. Aku hanya perlu menunggu, akankah Tuhan mengabulkan beberapa mimpi yang tergantung terlalu tinggi.

Sementara doa-doa lain ditujukan pula kepadamu. Sementara sepasang mata lain turut mencuri pandang ke arahmu. Sementara tangan yang lain siap meraih jemarimu. Sementara itu, mungkin Tuhan mempertimbangkan.

Siapa yang tahu kamu akan terlempar ke panggung teater yang lain. Siapa yang tahu aku akan tetap menunggu tanpa hasil atas tanda tanyaku tentangmu.

Teks drama ini bukan aku yang menuliskan, bukan pula dirimu. Tapi mungkin saja kita bisa saling memperbaiki janggal kata dan laku satu sama lain. Atau terkadang mencuri sentuh dan cium dalam tidur atau dalam lamun. Atau terkadang, sengaja membuatmu memergokiku mencuri pandang padamu.

Apa yang ku harap dari itu?

Bahwa teater ini akan mampu aku nikmati sepenuh hati. Meski bertemu denganmu berarti perpisahan suatu hari. Atau harapan yang hanya akan berakhir sebagai angan. Sedang yang nyata menggoreskan lukanya, dalam-dalam.

Suatu hari sayangku, semua akan kembali sederhana. Sesederhana rasa.

wordsflow