; urban, rural

by nuzuli ziadatun ni'mah


Kemarin lusa, saya berkesempatan untuk jalan-jalan asik di Desa Bedoyo, Gunung Kidul, menemani teman curhat saya untuk survey pola konsumsi di desa itu. Sesungguhnya saya nggak terlalu tahu menahu latar belakang dan outputnya meski pernah dengar juga sih, tapi saya sedang mencoba membiasakan diri untuk bertamu ke orang-orang desa, terutama orang tua. Saya pribadi resah atas keterbatasan saya dalam berhubungan dengan orang yang lebih tua, dan saya rasa itu cara yang cukup tepat untuk melatih diri sendiri.

Di hari itu kami melakukan wawancara non formal ke tiga tempat yang berbeda, dengan lingkungan yang berbeda dan umur narasumber yang juga berbeda. Sangat bersyukur karena keacakan pemilihan narasumber di hari itu mengantarkan kami ke orang-orang yang sangat baik dan mampu menerima outsider macam kami dengan baik.

Saya tidak akan menceritakan banyak karena proses wawancara ini bukan milik saya, dan bahkan saya pun bukan siapa-siapa di rombongan itu, hanya wisatawan semata, haha. Tapi sebagai sesama warga desa, saya jadi kepikiran tentang keresahan yang mereka rasakan juga.

Ada perbedaan yang sangat besar antara warga kota dan warga desa. Orang desa memiliki keterbatasan yang sama satu sama lain, saling berbagi penderitaan ketika musim berganti, dan rata-rata masing-masingnya memiliki profesi yang sama sebagai petani (atau dalam kasus Bedoyo sebagai penambang juga). Meski narasumber kami mengatakan semangat gotong royong (misal untuk bersih-bersih dusun atau bangun rumah) sudah mulai pudar, namun rukun tetangga antar mereka masih sangat ada.

Hampir saja saya melupakan kata ‘rukun tetangga’ yang sebenarnya menyatakan tingkat kedekatan antar warga yang ada di sana. Sebenarnya, untuk warga desa yang memiliki ladang, sawah, tegalan, atau media cocok tanam sejenis, saya rasa mereka tidak punya kesulitan yang sangat tinggi untuk bertahan hidup. Jauh berbeda dengan orang di kota, karena uang menjadi parameter kesejahteraan yang paling nyata. Nggak ada uang nggak makan. Sedang warga desa di sana rata-rata memiliki tanah luas untuk bercocok tanam, bahkan beberapa ada yang punya gunung (conical hills). Jadi bisa dibilang sebenarnya pengeluaran mereka untuk makan tidak lah mahal. Lebih menyulitkan untuk memenuhi pengeluaran untuk kepentingan rukun tetangga.

Saya jadi teringat ibu saya, yang selalu ngomel sana sini karena banyak hajatan, hahaha. Tapi yah, urusan ini memang sangat penting di desa. Salah-salah, kita bisa jadi bahan omongan orang se dusun, bahkan bisa saja merembet ke lingkup desa. Orang desa punya tipikal yang berbeda memang, tapi bergosip adalah hal yang sering dilakukan. Karenanya, untuk mendapatkan informasi yang banyak, jadi lah tukang gosip bareng ibu-ibu PKK atau sama warga di warung makan, haha.

Terlalu lama hidup jauh dari desa membuat saya lupa bagian rukun ini. Bagaimana cara bersikap dan berlaku selayaknya tetangga. Bagaimana caranya berunggah-ungguh yang tepat.

Dan meski judul tulisan ini ‘urban, rural’, tapi sesungguhnya saya nggak tahu kehidupan orang di kota (yang benar-benar tumbuh besar di kota). Jadi saya sudahi saja ya, males bersotoy ria. Selamat siang…

wordsflow