yang terserak

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada banyak memori yang kini terserak di dalam ingatan saya, yang memang pernah nyata, keinginan, atau ternyata hanya mimpi semata.

Saya semacam lelah dengan diri sendiri; saya yang banyak membahas rasa dan cinta, yang tak juga bisa menepis keresahan-keresahan yang saya rasakan tentang hidup.

Ada banyak memori yang tertukar, yang tak saya pahami kapan itu terjadi, atau bagaimana itu bisa menggangu hidup saya sementara tiada seseorang pun yang merasa itu penting untuk dipikirkan dan diingat.

adalah peng-abai-an yang merupakan tindakan yang paling menyakitkan

Sudah beberapa hari ini mimpi saya dipenuhi kebencian, entah itu kebencian saya yang sesungguhnya, atau milik orang lain yang terlalu saya pikirkan. Saya pikir memang mimpi adalah representasi keresahan-keresahan kita yang meski tidak dipikirkan terus menerus namun tersimpan di alam bawah sadar.

Belakangan saya menjadi semakin lelah dalam tidur, karena tak saya temukan jawaban, tapi ia hanya semakin menyatakan keresahan. Sedang dalam nyata saya masih terus berlari, meski kadang memperlambat lajunya. Tapi saya tetap terus berlari tanpa punya cukup keberanian untuk berbalik arah dan menantang keresahan saya yang tak berarti. Dan masih saja saya terus berpura-pura meski saya berusaha keras untuk bertindak wajar.

Semuanya terserak dan tercerai, dan belum juga saya mampu mengurainya. Masih juga saya tidak terima dengan ini dan itu. Masih juga saya terjebak kata-kata. Masih juga saya terjebak pada sesuatu yang sesungguhnya tidak ada.

Saya tahu, dan saya tidak mampu menerima pengetahuan itu.