Remedy

by nuzuli ziadatun ni'mah


Take nothing but picture,
Leave nothing but footstep,
Kill nothing but time,

Saya baru merasa kalau tiga kalimat itu sangat indah, baik makna dan susunan katanya. Saya tidak sedang ingin mengkritisi kondisi tempat bermain kita akhir-akhir ini, kebakaran hutan di hampir semua gunung di Jawa Tengah, kotornya tempat-tempat wisata alam karena semakin populernya, atau segalanya.

Mendaki, atau memanjat, atau susur gua, atau ‘berasyik ria’ mengarungi jeram adalah kegiatan-kegiatan yang saya idamkan sejak kecil. Semakin saya melakukannya semakin banyak yang bisa saya dapatkan dari kegiatan itu, dari sebatas kesenangan singkat, hingga kontemplasi yang dalam. Masing-masingnya merupakan perjalanan yang memberi asupan ‘obat’ pada jiwa.

Belakangan, memilih untuk melakukan kegiatan itu menjadi lebih sulit, karena bukan katenangan yang didapat. Tak jarang malah ngegerundel di dalam hati karena hal-hal yang dilihat.

Maka jika tempat main saya bukan lagi gunung dan hutan, bukan berarti saya sudah tidak menyukainya. Terkadang menyukai juga berarti harus menyimpan harapan dan doa yang sangat besar. Bukan pula lantaran saya ingin menjadi lebih berbudaya, maka saya mengunjungi banyak acara dan pameran.

Saya pikir, ketenangan yang bisa saya temukan dalam keheningan seharusnya bisa pula ditemukan dalam kondisi kontrasnya, ketika segala hal bergerak bersama tanpa saling bersinggungan, ketika semua bisikan menjadi dengunan yang tak mampu diurai. Di sana, saya temukan jenis ketenangan yang lain.

wordsflow