Budaya Makan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya masih sempat mendengar kalimat ‘makan nggak makan ngumpul’ pada masa sekolah saya dulu. Kayaknya di kala itu orang bodoh amat mau makan di tempat apapun yang penting enak, cukup murah, dan bisa berkumpul dengan rekan sejawat atau kolega yang sedang ingin mempunyai urusan bisnis dengan kita.

Kemarin lalu, saya sempat ikut nimbrung obrolan tentang tempat-tempat makan baru di Jogja. Atau sebut saja Taman Kuliner yang seharusnya sukses menjadi tempat untuk menemukan bermacam jenis makanan, namun ternyata tidak demikian kenyataannya.

Singkat cerita, jika menilik kebiasaan masa kini, rasa-rasanya tak semua warung makan harus enak. Terkadang cukup dengan tempat yang foto-able, makanan yang estetis untuk difoto, dan jenis makanan yang sedang hits di kala itu. Sebagai contoh, sebut saja warung kopi yang dalam beberapa tahun belakangan ini menjamur di Jogja.

Sedih saya, waktu tahu ternyata orang-orang yang katanya menggemari jenis makanan (atau minuman) yang sama ini bahkan saling ‘bertikai’ dengan tidak sopan. Masing-masing warung kopi sayangnya juga tidak menyajikan sesuatu yang menggebrak (beberapa), hingga terkadang hanya sebatas sebagai orang yang ikut-ikutan buka warung kopi. Mungkin nggak juga sih, toh saya juga nggak tahu. Tapi sangat terasa persaingannya jika kamu orang yang juga hidup di dunia perkopian. Sedih deh.

Ah, mari kembali ke topik makanan tadi. Maaf aja sih kalau saya nulisnya rada ngalor ngidul atau diulang-ulang. Sebatas menyebutkan yang sedang saya pikirkan tentang masalah tempat-tempat makan di Jogja saat ini.

Beberapa tempat makan enak di Jogja malah tidak terlalu diminati karena tempatnya yang nggak terlalu foto-able. Lebih banyak orang yang milih tempat yang bagus buat selfie meskipun rada mahal dan nggak seberapa enak (maksudnya masih ada tempat lain yang jual jenis yang sama tapi lebih enak). Ya, eksistensi jadi barang sangat penting belakangan ini. Kalau nggak kesana nggak nge-hits, kalau nggak makan ini nggak nge-hits, kalau nggak foto disini nggak nge-hits, dsb. Lebih baik nggak punya duit daripada nggak nge-hits.

Tapi yah, nggak mau bersinis ria juga sih, toh mereka-mereka ini pasar yang menghidupi kami yang bergelut di bidang arsitektur, interior, atau desain grafis. Mereka-mereka ini yang membuat kami tetap bisa makan. Meski ya, nggak segitunya juga kali ya. Nggak usah keroyokan, santai aja. Nggak perlu buru-buru, gaya hidup nggak akan membuatmu jadi lebih baik dari orang lain. Biasa aja.

Akhir cerita, saya sebenarnya kehilangan hasrat menulis, tapi memaksakan ini untuk selesai ditulis. Yaudah sih ya, selamat malam.

wordsflow