by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada dorongan kuat yang saya rasakan untuk menulis malam ini. Saya berhenti peduli pada sesiapapun yang membacanya. Saya berhenti berpikir untuk apa dan siapa semua tulisan ini.

Hujan pertama telah tumpah dari mata saya, setelah berbulan-bulan berusaha keras untuk mempertahankan diri dari semua luka. Hingga ketika menulis ini, rasa itu tak berhenti mendorong saya untuk menangis.

Ya, hati saya telah begitu lelah dengan semua kesendirian dan kepalsuan yang terjadi di sekitar saya. Hati saya begitu lelah menanggung semua keluh kesah seorang diri. Hati saya begitu inginnya berkata jujur kepada setiap orang yang ada di sekitar saya. Begitu lelah menghadapi kepalsuan semua orang. Begitu lelah berpura-pura mampu menunggu untuk sesuatu yang tak pernah ada dan tak akan ada. Begitu lelah mengadu kepada diri sendiri padahal tak mampu lagi berdiri.

Mengapa manusia terkadang tak mampu menyerah padahal begitu inginnya untuk melakukan itu? Bagaimana mungkin manusia bisa saling menyakiti tanpa rasa bersalah dan keinginan untuk meminta maaf? Bagaimana mungkin manusia bisa begitu egoisnya tanpa bisa menahan egonya untuk menang?

Saya begitu inginnya menumpahkan keluh kesah, entah pada siapa. Tapi tak pernah sepatah pun keluar ketika saya sesungguhnya begitu ingin. Tak ada hal yang bisa sungguh-sungguh tersampaikan ketika begitu banyak yang ingin saya katakan.

Saya ingin berhenti peduli pada apapun. Toh kepedulian saya selama ini tak pernah berhasil menyentuh siapapun. Saya ingin berhenti mendengar. Saya lelah karena pada akhirnya hanya menjadi satu-satunya yang tak pernah bisa menemukan seseorang untuk mendengar.

Saya tak paham mengapa saya menangis. Saya pikir kebahagiaan saya sudah cukup untuk membuat saya tak pernah menangis lagi. Tapi begitu saja semua tumpah malam ini, dan saya tak tahu cara membuatnya berhenti.

Saya begitu ingin berhenti peduli.

Benar, katakan saja saya menulis ini untuk dibaca. Agar semua orang tahu, bahwa saya berhenti percaya. Bahwa saya berhenti peduli. Bahwa saya akhirnya menutup hati untuk apapun, dengan kepalsuan sebesar-besarnya.