Reflect

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya ingin bercerita tentang diri saya. Sesuatu yang selalu saya ingini setiap saat saya sendiri atau ketika malam hari. Entahlah, mungkin saat sendirian manusia memang memiliki dorongan-dorongan tertentu yang membuatnya butuh berhubungan dengan orang lain sebelum akhirnya meledak berkeping-keping.

Nah, mari sebut tulisan saya sebelumnya sebagai sebuah ledakan emosi atas kekecewaan, kemarahan, dendam, kesedihan, ketakutan, dan kerapuhan seorang saya.

Saya tak menyesali tulisan itu, mungkin saya hanya merasa malu saat membacanya kembali. Ya, saya merasa melukai harga diri saya ketika akhirnya sadar akan tulisan itu. Tapi, sebagai sebuah sejarah, saya menyukai keotentikan tulisan yang saya buat. Semua tulisan saya; karena emosi yang tersimpan di sana sungguh-sungguh yang saya rasakan ketika itu.

Saya tak ingin menyombongkan dan atau merendahkan apapun yang ada dalam diri saya. Saya mencoba tulus atas semua rasa. Saya ingin tulus melakukan semua hal, entah dalam mencintai, atau (sayang sekali) dalam mendendam.

Saya pernah menuliskan betapa setiap manusia itu sesungguhnya bangun sebagai pribadi yang berbeda setiap harinya. Entah ia lebih maju, tetap di tempat, atau mundur kembali ke masa lalu. Itu juga yang terjadi dalam pemahaman saya akan hidup dan kehidupan orang lain.

Nah, ini hanyalah sebuah cerita seorang saya, yang ingin saya jabarkan sejujur mungkin.
Saya berubah, dari hari ke hari. Mungkin di hari ini saya mencintai dengan begitu besar, namun bisa jadi sore nanti saya membenci dengan begitu besar pula. Dan dalam pandangan saya, saya tak merasa bersalah akan rasa itu.

Prinsip saya sedikit egois dalam hal ini, karena untuk semua tindakan yang tidak merugikan orang lain, saya akan memaafkannya.
Tahap pemahaman manusia masing-masingnya berbeda, dan bagaimana pun harus ada orang yang menyadari hal itu agar keseimbangan tetap terjadi. Ada orang yang merasa mampu merenggut kebahagiaan atau kesuksesan orang lain. Ada yang menganggap kebahagiaannya dirampas. Ada pula yang selalu merasa dirugikan atas apapun.
Saya bisa bilang bahwa kerugian itu sesungguhnya ada dan tiada.

Hubungan, baru akan terbentuk dari dua atau lebih orang yang saling bertukar informasi. Dalam hal ini kemudian muncul efek samping yang lain, rasa dan emosi, pemahaman dan informasi, kesemuanya berfungsi untuk meningkatkan kebahagiaan dan meningkatkan kecerdasan seseorang. Nah, disana akan selalu terjadi ketimpangan karena sistem dalam diri manusia tidak akan pernah sama. Maka, rasa dan emosi, serta informasi dan pemahaman yang ada tidak juga akan persis sama dengan apa yang disampaikan.

Efek selanjutnya, manusia akan bertindak, berkata, dan berpikir sesuai dengan emosi dan pemahaman diri mereka masing-masing, hingga akhirnya mengakibatkan efek samping lainnya yang bersifat kronologis. Mudah saya sebenarnya menganalisa emosi diri sendiri, karena sesungguhnya kita adalah produk masa lalu. Semua data yang ada valid dan nyata. Kesemuanya didapat dari pihak pertama (diri sendiri).

Satu-satunya yang menghambat pemahaman itu adalah ketidakmampuan kita untuk menyadari bahwa masing-masing manusia itu sama saja. Mereka berhak atas semua hal yang juga menjadi hak kita (mungkin kita sebut saja kebahagiaan). Mereka tidak lebih baik atau lebih buruk dari kita secara hakikat. Kita sama rapuhnya, sama takutnya, sama saja. Ya, tak perlu lah mungkin menyebutkan pengecualiannya, karena toh kita itu manusia.

Kesemuanya, entah yang berbuat (kita sebut) jahat, atau yang paling baik pun, semuanya mencari kenyamanan dan kebahagiaan. Semuanya sebatas kebutuhan jiwa, yang mana pun itu. Bahkan ketika kita mencoba mempercayai takdir dan nasib, semuanya hanya untuk itu.

Akan menjadi berbeda ketika jiwa kita memang tidak sama. Dan maka, itu menjadikan manusia membutuhkan manusia lain, kita wajib berhubungan dengan orang lain untuk tetap bisa hidup selayaknya.

Tapi, ada kontradiksi yang terjadi, ketika pada saat yang sama saya juga menyadari bahwa kita lahir dan mati seorang diri. Kita dihantui ketakutan akan kesendirian itu sejak kita sadar hingga mati. Manusia terbelenggu akan pengetahuan yang begitu banyak hingga terkadang kita termakan emosi kita sendiri, atau tertelan jiwa kita yang terluka.

Saya tertelan jiwa saya yang terluka dan terus menerus dilukai.

Saya orang yang melankolis, analitik, romantis, tulus, dan pendendam. Entah hal apa lagi yang ada dalam diri saya, sedikitnya saya bisa bilang demikian. Mengapa saya bisa bilang begitu? Mari saya urutkan urutannya.

Jatuh cinta, adalah hal yang paling saya suka, karena itu jarang terjadi. Saya tak bisa begitu saya mencintai orang lain, entah cinta yang dalam bentuk philia atau eros, yang saya simpulkan hanyalah: saya sulit dibuat jatuh cinta. Tapi, begitu ia ada, saya tak akan mampu berpura-pura, setulus mungkin saya memberi perhatian dalam ketakacuhan. Saya mengambil semua resiko yang ada dengan menunggu segala hal yang tak pasti (najis drama banget). Saya menganalisa semua hal, dan terkadang bagian jeleknya adalah begitu seringnya saya tahu hal-hal yang seharusnya tidak saya tahu. Begitu banyak hal yang berakhir demikian dan hanya membuat saya lebih terbebani. Lebih jelek lagi karena saya rada sensitif, yang terkadang membuat saya mudah menangis (contohnya nonton Wall-E), dan tertawa berlebihan juga (contohnya liat boneka anginnya Warna Abadi). Dan yah, ketika saya merasa dilukai orang terlalu dalam, hal itu berakhir menjadi dendam. Terkadang.

Ah, manusia sesungguhnya rapuh saja, tak lebih daripada manusia-manusia yang lainnya. Yang selalu tertawa terkadang menangis seorang diri, atau yang menyimpan rahasia ternyata membaginya dengan sesiapa. Kita sama saja.

Jadi yes, saya mencoba terus menyemangati diri untuk bersikap adil sejak dalam pikiran. Tak mudah, karena memang nggak ada juga yang bilang kalau itu mudah. Namun layak dicoba.

 

Dan padamu, aku telah memaafkanmu, dan memaafkan diriku sendiri. Setidaknya untuk hari ini, dan semoga juga untuk seterusnya. Agar aku bisa jatuh cinta dengan ikhlas, dan mencinta dengan ikhlas pula.

 

Maka, selamat menunggu tengah malam. Selamat menjadi diri sendiri dalam kesendirian, semoga ledakanmu tak pernah membahayakan dan menghancurkanmu. Selamat malam.

wordsflow