Mapala dan Sakit yang Tiada Bersinggungan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Malam hari, waktunya menulis kembali.

Begini, saya melogikakan keinginan menulis sebagai buah dari perenungan. Maka, di waktu malam hari yang notabene rawan terhadap munculnya emosi-emosi tak perlu, saya membiasakan diri untuk menulis sesuatu. Sekedar untuk melihat kembali seberapa normal saya di malam ini.

Nah, saya habis membaca artikel ‘Tak Sengaja Masuk Mapala’nya Mas Fawaz. Saya suka berkunjung ke lamannya dan membaca beberapa artikel di sana. Selain itu, mungkin karena Mas Fawaz juga memasang gambar dirinya yang pernah saya buat sebelum ia bertolak ke Jambi tahun 2010 kah itu? Saya lupa. Yang pasti saya bahagia karena gambar saya dikenang. Ah, lupakan.

Nah, berhubung ada tulisan itu, saya mungkin mau ceita saja cerita bandingannya, dimana saya akhirnya memilih untuk masuk ke Mapala. Beda banget ya, ada orang yang begitu sengaja melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, tapi di lain pihak ada orang yang tak berkeinginkan, namun mendapatkan hal yang lebih baik. Begitu saja nasib.

**

Hm, tulisan di atas saya tulis beberapa hari yang lalu dan tak sempat saya teruskan. Jadi saya ganti topik saja ya.

Malam ini saya sedikit puyeng, tapi memaksakan diri melakukan banyak hal karena memang masih ada sangat banyak hal yang belum sempat saya selesaikan. Entah kenapa, di sepanjang jalan dari Mangrove ke Krasak, saya tiba-tiba kepikiran sesuatu. Mungkin karena lewat Panti Rapih, atau memang saya sedang disuruh mikir itu.

Kalau saya sakit, mending minum obat atau bunuh diri ya?

Sepele sih, pertanyaan retoris juga. Tapi adik sepupu jauh saya yang pintarnya luar biasa, menderita leukimia tiba-tiba dan dia harus keluar sekolah tiba-tiba, lantas menjalani 102 minggu kemoterapi. Di ujung minggu, tepatnya minggu ke 101, dokternya mengatakan bahwa kemo-nya gagal, dan ia harus sekali lagi menjalaninya dari nol.

Beberapa minggu kemudian ia meninggal, dan saya sangat terpukul. Itu 102 minggu dimana saya selalu menjenguknya di Sardjito setiap kali kemo, berbincang sejenak, dan bahkan pernah menemani jalan-jalan.

Dan bukankah, pertanyaan saya jadi terasa lebih bermakna setelahnya?

wordsflow