Terserah

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya ingin mengucapkan kata itu untuk apapun yang terjadi. Saya pusing atas semua hal yang terjadi di dunia ini. Segalanya terasa terlalu berlebihan, tapi juga terlalu sederhana untuk bisa dibilang rumit. Semuanya paradoks semata. Apa pentingnya tulisan ini kalau bukan sekedar sebagai selipan pikiran, atau sekedar lewat saja? Apa pentingnya saya menulis ini kalau bukan sekedar ingin eksis saja?

Terserah.

Saya merasa dipermainkan oleh emosi saya sendiri. Bahagia dan sedih terlalu sering terjadi bersamaan, hingga saya justru merasa bahwa keduanya palsu semata. Semuanya tidak nyata. Semuanya berlebihan, semuanya tak ada. Tak ada yang penting.

Ah bukan, segalanya penting. Aku, kamu, mereka, kita semua penting. Yang paling brengsek pun butuh hidup di dunia ini, setiap kita butuh kasih sayang.

Tapi dimana bisa kita temukan itu semua? Satu untuk semua, dan semua untuk satu.

Bukankah itu romantika semata?

Saya mengagumi setiap yang mampu bersikap, mampu memihak, mampu memilih jalan yang menurutnya pantas diperjuangkan.

Sementara itu, saya memilih membantu mereka yang meminta. Tanpa peduli apapun, karena untuk apa saya peduli? Bertindak terkadang tak butuh alasan. Atau justru alasan yang menyebabkan tindakan?

Lantas adakah tindakan yang sungguh-sungguh baik? Apakah mendengarkan lagu-lagu propaganda menjadikan kita lebih baik dari yang sekedar mendengar lagu dangdut? Tidakkah mendatangi konser musik dan dangdutan tetap sama saja? Ataukah membaca buku filsafat menjadikan kita lebih baik dari yang sekedar membacaa novel teenlit?

Judgement. Kita, ah saya, terlalu sering memberi penghakiman pada segala yang tidak sungguh-sungguh saya tahu. Terlalu sering meyakini pikiran bahkan sebelum menyampaikannya ke muka umum.

Saya ini apa sih?

wordsflow