tentang pekerjaan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Terkadang saya bertanya-tanya mengapa manusia memperbudak dan mau diperbudak.

Setiap berangkat ke kantor, saya selalu melihat dua orang bapak satpam yang begitu setia di bawah sengatan matahari bulan Oktober yang semakin menjadi-jadi. Saya saja begitu malas berada di bawah matahari lebih dari setengah jam, dan betapa mereka harus berdiri demikian selama 8 jam sehari di bawah terik matahari. Bagi saya pribadi itu sangat tidak manusiawi.

Saya menjunjung tinggi setiap pekerjaan yang tulus ikhlas dikerjakan, entah itu sekedar berjualan makanan atau bahkan sekelas direktur perusahaan. Bagi saya setiap wajah bahagia dalam bekerja sangatlah memacu diri untuk bekerja sepenuh hati. Tak masalah bagi saya apapun pekerjaannya, yang penting mereka menikmati dan berbahagia melakukan pekerjaan itu.

Yang kemudian mengganggu pikiran saya adalah pertanyaan saya diawal. Apa yang memotivasi orang untuk mau diperbudak.

Banyak, begitu banyak pekerjaan yang tidak memanusiakan manusia. Begitu banyak pekerjaan bergaji banyak namun memeras bagaikan robot. Lebih kurang ajar lagi pekerjaan yang begitu memeras manusia namun gaji yang diterima tidak setimpal.

Saya nggak tau sih, motivasi setiap orang bekerja tuh kayak gimana. Yang pasti saya orangnya pemilih dalam mengambil pekerjaan. Setiap yang saya suka akan saya kerjakan tanpa berpikir panjang. Tak masalah jika saya harus lembur ini dan itu, asalkan hal itu menyenangkan dan saya anggap berharga untuk dikerjakan.

Tak perlu bergerak begitu jauh ke ibukota untuk merasa mendapat pekerjaan yang layak, saya sendiri tak pernah money oriented dalam bekerja. Toh berkali-kali dibuktikan dengan hasil kerja yang lebih baik untuk jenis kerja suka rela. Kenapa ya saya begitu?

Sebenarnya, sedikit banyak lingkungan kampus saya menjadikan saya demikian. Banyak orang di sekitar saya yang selalu saya jadikan panutan dalam memilih dan memilah hal-hal. Seandainya bisa, saya lebih senang tidak dilayani oleh manusia lain, karena itu tidak mengenakkan. Lebih baik datang sendiri mengambil buku menu daripada harus berteriak-teriak memanggil pelayan. Lebih baik duduk di depan dan mengobrol dengan sopir taxi daripada duduk sendiri bermain handphone. Sebenarnya, hal-hal sesederhana menyapa kini menjadi begitu berarti dalam hubungan antar manusia.

Tapi ya, bagian kacaunya, lebih sering keakraban mengirikan manusia. Aneh ya?

wordsflow