dealing with problems

by nuzuli ziadatun ni'mah


Belakangan saya sering melihat grafik stat blog ini yang tahu-tahu melonjak tinggi. Terkadang saya juga merasa insecure karena saya tahu, beberapa orang yang membaca memang mengenal saya dengan baik. Mungkin bahkan ada yang sengaja kepo (yang ini sok tau banget, tapi namanya juga kan tukang sotoy). Atau memang ada yang membaca karena menemukan link dari mbah Google. Yang manapun, saya akhirnya membuat kesepakatan dengan diri sendiri.

Ya, apapun yang saya tulis di sini adalah cara saya untuk berdamai dengan masalah. Karena menulis adalah cara saya untuk berdoa dan memantapkan harapan. Mungkin bahkan beberapa di antara adalah cara saya untuk meminta maaf dan memprotes banyak hal.

Bicara tentang dealing with problems, saya pikir semua orang melakukan banyak cara untuk berdamai dengan masalahnya, atau yang mendekati sesuatu yang bisa disebut sebagai masalah.

Masalah saya contohnya, nggak bisa dibilang masalah besar, karena toh saya tetap bisa makan setiap hari, punya akses air bersih berlebih, udara segar, tempat berteduh yang nyaman, dan orang-orang yang jujur meskipun terkadang tidak menyenangkan. Tapi di sela-sela itu semua banyak masalah kecil yang menghimpit dari segala arah.

Saya pikir, banyak orang yang sesungguhnya saling tusuk dari belakang, saling iri dan saling menjatuhkan. Tak perlu lah saya menyebut salah satu di antaranya, atau menyebutkan contohnya, tinggal bagaimana kita menerima saja bahwa kita juga merasakannya. Masalahnya, saya orang yang memendam ide di dalam pikiran, dan ketika ada orang yang bercerita, mau nggak mau saya pun merasa perlu untuk jujur. Di level ini biasanya saya kalah dengan pikiran saya sendiri, dan saya menjadi orang yang turut menusuk dari belakang.

Tak perlu sesuatu yang sangat besar untuk bisa disebut masalah. Buat saya, setiap hubungan antar manusia adalah masalah. Saya dan kamu, saya dan keluarga saya, dengan bos saya, dengan teman kerja, dengan orang-orang lain. Semuanya adalah sekumpulan masalah yang harus saya terima hingga saya berdamai dengan semuanya.

Ini, cara saya berdamai dengan itu semua. Terkadang saya menulis di buku harian saya di kosan. Terkadang saya bicara dengan kucing saya di sekret yang bernama Epleng. Terkadang saya bicara dengan diri sendiri. Dan yang terakhir, menciptakan mantra-mantra untuk ngepisuhin orang.

Bukan hanya saya, kamu pun saya yakin melakukan hal-hal sederhana untuk berdamai dengan semua masalah-masalah kecil ini. Yang manapun pilihan yang diambil, baik saya maupun kamu pada akhirnya tidak memenangkan masalah ini, kita hanya berdamai dengan diri sendiri. Perasaan itu masalah yang sulit, harus saya akui ini karena memang begitu keadaannya. Bagaimana pun, setiap kita tidak akan mampu bertahan seorang diri, karenanya saya menulis, kamu menulis, kita bercerita, dan kita mencari sandaran dari pundak orang lain.

Bahkan, tak sedikit yang bisa menerima bahwa dirinya tidak lebih baik dari orang lain. Saya juga bisa jadi begitu.

Begitu saja, karena saya pikir dengan begini saya bisa bercerita padamu, meski tidak secara lisan, meski tidak saling berhadapan. Meskipun juga bukan untuk mencari jalan tengah atau jawaban. And so, let’s make a deal.

wordsflow