sedikit tentang nuklir

by nuzuli ziadatun ni'mah


Oke, saya mau mengakui kalau ini semua murni sok tau karena saya memang belum mengkaji apapun tentang si nuklir yang sekidit (bold, italic, underline please) ingin saya bicarakan. Anggap juga saya memang rada labil dalam menulis sesuatu di blog, karena yes, saya tuh sama sekali nggak dewasa di dalamnya. Mungkin. Bisa jadi. Hahaha.

Beberapa hari yang lalu, dalam perjalanan pulang saya dari tempat kerja, saya harus sedikit memutar untuk mengantar bos saya pulang. Saat itu entah tinggal berapa bensin yang ada di tangki motor saya karena udah di level E sejak pagi. Maka, mampirlah saya di pom bensin deket kantor.

Gimana ya, saya tuh sebenernya sedih gitu setiap kali mampir ke pom bensin, apalagi kalau antriannya mengular sampe berpuluh motor. Merasa (masih sekedar merasa) bersalah karena tetap saja bergantung pada bensin. Pengennya tuh, setidaknya saya nggak boros gitu (ya nggak boros sih, tapi kan tetep aja beli terus).

Lantas, bu bos nyeletuk tentang perbedaan pertamax dan premium. Dan dengan kesotoyan saya, saya menjelaskan tentang beda keduanya, termasuk juga dengan pertalite yang lagi rada hits belakangan. Terus pembahasan kita beralih ke batu bara, dan terakhir nuklir. (Soalnya kami cuma punya waktu 10 menit, haha)

Senang sih, karena saya pikir perbincangan macam ini jarang mau didekati oleh orang. Jarang ada yang mau membicarakan hal berbau lingkungan dan dampak harian manusia.

Dalam perbincangan singkat tentang nuklir, saya berpendapat kalau menurut saya memang nuklir tuh solusi paling mungkin untuk saat ini jika ingin mengurangi emisi karbon. Memang tidak salah, bahwa ia pun membahayakan, secara kan muncul pertama di muka publik sebagai bom massal. Tapi ya, perang dengan nuklir tuh nggak ada untungnya sama sekali, karena dampaknya juga nggak main-main.

Terkadang saya menyayangkan orang-orang yang langsung berpikir negatif tentang suatu hal, padahal bagaimanapun, selalu ada hal positif yang melatarbelakangi sesuatu, ya contohnya si nuklir itu. Katakanlah nuklir memang membahayakan bahkan dalam operasinya. Tapi siapa sih yang mau mengorbankan diri untuk hal yang nggak berguna dan membahayakan? (ya ada sih) Maksud saya, orang-orang ini nih, yang ada di dunia nuklir pun mencaritahu bagaimana menjadikan tempat main mereka aman, dan pasti selalu ada prosedur-prosedur tertentu.

Oh why, saya tiba-tiba kedengaran menggebu-gebu.

Masalahnya, saya pikir masyarakat sudah terlalu terlena dengan semuanya. Kendaraan ber-bbm, ruangan ber-ac, ketersediaan sumber daya. Itu akan sangat fatal ketika semuanya nggak ada dan yang bisa kita lakukan cuma memprotes, menyalahkan, dan menghakimi pemerintah dan instansi tertentu. Padahal ya, mereka tuh nggak punya apa-apa, mereka juga manusia biasa yang butuh makan dan air bersih. Terkadang manusia emang lupa sama hakikatnya sendiri.

Kembali ke nuklir.

Saya nggak mau membicarakan tentang energinya sebenarnya, karena toh itu bukan bidang saya dan saya nggak tau apapun. Perkaranya hanya, saya ingin membantu para ahli ini untuk memasyarakatkan nuklir, karena itu yang penting sekarang. Sepele sih terkadang, tapi masyarakat kita sekarang susah menelaah tulisan, jika ada, itu pun orang-orang yang membaca dan menulis. Kenapa kita nggak mencoba gambar?

Entah ada atau tidak kampanye nuklir, tapi sepertinya layak dicoba. Lebih baik banyak yang bertanya daripada diabaikan, bukan?

Mari, mari bicara nuklir.

Atau marijuana dalam lingkup farmasi? (mungkin nanti)

wordsflow