as a graphic designer

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sudah lama saya tidak membicarakan tentang hal-hal yang saya lakukan.

Saya sedang menikmati hari-hari menjadi graphic designer. Sebutlah saya memang lulusan arsitektur, dan saya juga punya perhatian yang besar pada dunia arsitektur. Hanya saja, saya tidak begitu tertarik bekerja di bidang arsitektur, entah kenapa.

Sejujurnya saya lebih tertarik di seni, kerja lapangan, mungkin juga kerja sosial. Tapi apa daya, sepertinya ketertarikan saya tidak pernah dibarengi dengan niat yang sama-sama baiknya, atau jaringan yang memotivasi dan mempermudah semua itu. Hem, dan sayanya juga terlalu sering menunggu diajak, dari pada mengajak atau menginisiasi sesuatu.

Ih, tulisan ini jadi negatif auranya.

Nggak sih, saya suka mengerjakan semua hal yang menyenangkan, dan graphic designer salah satu hal yang menurut saya menyenangkan. Ini juga masih tahap belajar meskipun jenis kerjaan saya sungguh-sungguh serius, tapi tetap saja itu namanya belajar. Tujuan akhirnya sederhana, karena saya tidak suka melihat papan reklame yang nggak enak dilihat, terlalu banyak warna, terlalu banyak gambar, terlalu tidak membuat nyaman lingkungan sekitarnya.

Kadang saya menyayangkan orang-orang yang tidak memperindah logo-logo jualannya atau iklan mereka dengan bantuan desainer. Padahal nilai jual sesuatu akan meningkat hanya karena hal-hal sederhana ini.

Kantor saya bergerak di bidang interior desain dan sangat mungkin jika saya juga nggak suka dengan beberapa proyek yang dikerjakan. Saya punya gol yang lebih besar ketika saya menandatangani kontrak, yaitu mencari jaringan yang lebih luas dari lingkup kampus saya. Mungkin semasa kuliah saya terlalu sibuk dengan SATU BUMI (bukan menyalahkan), tapi sedikit banyak kecenderungan saya jadi berbeda dengan teman-teman sekampus saya.

Saya pikir saya perlu menguasai hal-hal semacam ini untuk mampu bergerak sendiri. Karena banyak arsitek yang terlalu total pada bangunannya, tapi selalu salah dalam menata interiornya. Atau bisa saja segalanya telah begitu sempurna namun tak mampu membranding dirinya dengan baik. Lihatlah, berapa banyak bangunan yang berakhir demikian.

Nggak kok, saya nggak pesimis dengan dunia arsitektur, karena toh saya juga mencintai kehidupan kota dan benda-benda mati yang ada di dalamnya. Saya cuma ingin melihat segala hal berkembang bersama-sama, bukan salah satu mendominasi yang lainnya. Saya nggak terlalu tahu prosedur dan syarat CSR untuk perusahaan, namun setiap kota adalah jaringan, dan setiap kebutuhan perusahaan adalah juga dipengaruhi dan mempengaruhi elemen paling miskin dalam suatu kota.

Kenapa ya, pikiran sederhana tak pernah mampu menyelesaikan masalah. Selalu saja yang begitu dianggap kurang di negeri ini. Selalu saja yang sederhana dianggap remeh. Ada yang berpikir memperindah batu adalah dengan memahatnya, tapi yang lain menyelesaikannya hanya dengan melapisi dengan coating. Keduanya indah, namun yang satu butuh waktu lama, yang satu hanya butuh 5 menit. Saya anggap penyelesaian desain juga hampir serupa. Banyak yang ingin tampak mewah, namun melupakan kesederhanaan desain.

sederhana atau rumit itu sama bagusnya

Ini hanya masalah sudut pandang. Karena yang rumit sebenarnya melelahkan.

Maka, saya belajar mendesain untuk menyederhanakan banyak hal. Untuk belajar menempatkan yang tidak simetris tetap enak dipandang. Menyejajarkan yang tidak berhubungan agar saling berinteraksi.

Kerjakan saja semua hal, biar bisa banyak meskipun nggak mendalam.

wordsflow