Kultur dan Penanda

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya pernah suatu ketika melihat postingan teman, tentang penanda peringatan di suatu tempat. Ia menyimpulkan bahwa penanda (peringatan) pada suatu tempat adalah representasi dari kebiasaan orang-orang yang ada di dalam area tersebut.

Sederhananya, penanda diletakkan di suatu tempat agar siapapun yang melihatnya menyadari hal tersebut. Sayang, jika kita sadar dengan sekitar kita, selalu saja penanda yang ada adalah

‘Dilarang membuang sampah sembarangan’

‘Dilarang kencing di sini’

‘Tolong antri’

‘Bukan jalan umum’

Dan sebagainya.

Bukankah kita sedikit banyak harus malu dengan penanda itu? Seharusnya emosi kita terpancing karena ‘tuduhan’ itu. Disaat kita menjadi orang yang membuang sampah dengan benar, antri, dan tertib peraturan, penanda itu harusnya menjadi motivasi kita untuk turut mengingatkan orang lain. Atau, ketika kita memang membuang sampah sembarangan dan sebagainya, seharusnya ia menjadi tamparan tentang bagaimana buruknya kelakuan kita di masyarakat.

Begitulah, terkadang kita melupakan bagaimana perilaku keseharian kita terpancar dari setiap hal yang ada di sekeliling kita; pada diri kita, barang yang kita gunakan, wewangian yang tersebar, dan sebagainya.

Sederhana saja, hanya kadang kita lupa.

wordsflow