kota, saya, kamu, dan semoga kita

by nuzuli ziadatun ni'mah


Kota-kita, kota-manusia, kota-dan-arsitektur, atau semua rangkaian kata tentang kota dan sesuatu selalu menyenangkan untuk didengar.

Entah bagaimana dengan orang lain, tapi saya bukan saja suka menyepi di ketinggian bumi atau di tempat terbuka, tapi saya juga suka menyepi di keramaian jalanan kota. Nah, mari kita bahas bagian kota dulu ya, karena saya terlalu sering bicara tentang alam terbuka.

Menurut Kevin Lynch, kota bisa dinilai dari pathnya, karena kita selalu datang melalui jalan, entah itu dengan berkendara atau berjalan kaki. Dengan demikian, ketika sebuah kota tidak memiliki jalan yang menarik perhatian, hampir pasti kota itu tidak menyenangkan. Hampir saya bilang.

Terkadang kita menginginkan banyak hal untuk tetap ada pada sebuah kota. Beberapa begitu memuja bangunan tua, beberapa begitu terpesona pada yang telah sirna, beberapa menggebu-gebu untuk menggantinya dengan yang baru.

Kota adalah sesuatu yang berkembang, dan seharusnya tak menjadi soal bagaimana bentuk perubahannya. Tapi banyak yang kemudian merasa bahwa perubahan kota telah begitu banyak membuat identitasnya berubah. Mungkin, di sini letak salah kaprahnya.

Pak Ikaputra (dosen saya di jurusan yang sangat keren), membuat teori tentang bagaimana cara membaca sebuah kota. Bagaimana cara menemukan identitas suatu kota secara tepat. Sesungguhnya identitas adalah kolektif memori dari setiap orang yang datang ke suatu kota atau yang tinggal di dalamnya. Kevin Lynch menyebutkan bahwa dalam sebuah kota, terdapat 5 komponen penting yang perlu diperhatikan untuk menentukan identitas suatu kota; path, district, node, landmark, dan edge. Masing-masingnya cukup kita temukan dan voila! identitas kota tersebut ditemukan. Haha.

Ya mungkin tak akan semudah itu dalam praktik lapangannya, namun sesederhana itu kok caranya menemukan identitas suatu kota.

Terkadang yang membuat kita lupa adalah bagaimana posisi kita dalam membentuk kultur yang ada di suatu wilayah. Kadang kita lupa bahwa kita bagian utama dari suatu kota. Bahwa yang menghidupi kota adalah manusia-manusia yang ada di dalamnya.

Karenanya, banyak-banyak lah bermain di luar. Banyak-banyak lah jalan kaki dan melihat bagian kecil dari sebuah kota. Bagaimana pedagang kaki lima mengemas dan menjajakan barang dagangannya. Bagaimana tukang becak mengayuh becaknya. Bagaimana seniman mencoret dinding dengan seni mural mereka. Bagaimana suara-suara yang ada di sekitar kita. Bagaimana melihat setiap hal bergerak bersama di keramaian. Dan bagaimana merasakan diri kita hanyut di dalamnya, menjadi subjek untuk diri sendiri, dan objek bagi yang lainnya.

Dulu saya begitu menggebu-gebu mempertahankan bangunan-bangunan lama yang ada di kota. Mengkritik sinis yang melakukan perubahan ini itu di bangunan-bangunan lama. Tapi ketika itu saya tidak paham esensi mempertahankan suatu benda. Tanpa kegunaan, benda bukanlah apa-apa. Ia hanya sebatas benda mati yang tidak berfungsi. Seindah apapun itu.

Maka prinsip konservasi pun harus juga dibarengi dengan kegunaan. Karenanya muncul istilah revitalisasi, dan rombongannya itu yang sering saya sebut kebalik-balik.

*

Oh well, maaf karena tulisan ini tidak selesai. Tapi sayang membiarkannya begitu saja. Jadi saya sudahi saja.

wordsflow