Ponsel Pintar

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ah, saya mau menulis dengan gaya yang biasa aja lah. Tapi maaf ya kalau nanti ujung-ujungnya tulisan ini juga berakhir dengan menggebu-gebu nggak jelas maksud dan tujuannya. Atau hanya bisa menimbulkan komentar ‘iki opo seh?’. Nah, mari saya mulai.

Sedianya saya habis chatting sama begitu banyak orang dengan ponsel pintar saya, padahal tadinya mau ngerjain gawean.

Ya gimana ya, di jaman begini siapa sih yang nggak bisa menghindar dari kebutuhan akan ponsel pintar? Sekarang, segalanya berhubungan dengan ponsel pintar. Bangun tidur update, berhenti di lampu merah buka ponsel, boker bawa ponsel, makan lebih mentingin update di instagram (bodoh amat makannya nggak seberapa enak), dan semua hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ada ujug-ujug menjadi kebutuhan pokok. Nggak mau menghakimi semua orang, karena saya menulis ini juga karena sadar kalau saya telah begitu bergantung kepada ponsel pintar untuk segala kebutuhan. Bahkan sekedar mengingatkan kalau seharusnya saya sudah datang bulan atau saya harus jogging sore.

Masih ingat saya dengan ponsel pertama yang masuk di keluarga saya, ketika itu saya masih duduk di kelas 5 SD. Ceritanya ayah saya dikasih sama temennya yang entah baik hati atau memang punya banyak ponsel, seri nokia yang bentuknya mirip telepon rumah tapi ponsel. Itu ponsel yang keyboardnya paling saya suka dibanding semua ponsel yang pernah saya pegang. Lantas nggak berapa lama bergantilah menjadi Siemens (ya bukan sih tulisannya gini?), yang bentuknya aneh itu, ukurannya kecil, dan layarnya cuma 1,5×2 cm2. Betapa, di jaman segitu kita asik aja menggunakan ponsel.

Saya nggak tahu persis perkembangan ponsel, tapi hingga akhir masa sekolah menengah pertama, model Siemens adalah jenis yang paling sering saya lihat, karena bapak saya cuma punya itu. Ya terkadang teman-teman saya sedikit pamer ponsel mereka yang layarnya sudah mulai besar-besar dan mulai banyak ada fitur asiknya. Ya kayak kayak fitur radio, yang membuat semua orang keranjingan memakai headset. Di kala itu saya cuma bisa mengintip-intip kegiatan asik mereka. Lantas muncul juga pemutar lagu dan video, yang juga ujug-ujug membuat semua orang asik mantengin layar ponsel.

Menjelang SMA saya akhirnya berhasil punya ponsel sendiri, ketika itu tahun 2007, seri Motorola entah yang mana. Pokoknya saya suka aja. Masih belum bisa untuk internetan, dan saya masih sangat buta teknologi di jaman itu. Mulailah saya ikutan sok asik dengan benda itu. Seingat saya ukurannya udah lumayan besar, dan saya semacam bangga banget punya benda itu. Padahal di jaman itu teman-teman saya sudah berpindah ke Nokia seri N (saya nggak pernah hafal seri ponsel).

Setelahnya, saya berganti-ganti ponsel hingga lebih dari lima kali dengan berbagai alasan, hilang, jatuh, dilindas mobil, dan banyak alasan lainnya. Mungkin karena bukan anak gadget juga (yang istilahnya bahkan baru saya tahu di tahun kedua kuliah), saya jadi nggak seberapa perhatian dengan perkembangan benda-benda ini. Justru malah setelah nggak seberapa populer saya baru mencari-cari si benda kemana-mana. Rada ketinggalan jaman emang sih, tapi apa daya, saya nggak sanggup mengikuti orang-orang yang terlalu gesit sama benda elektronik.

Bahkan, 2 tahun belakangan setelah saya menggunakan ponsel pintar dengan segala kemudahan aksesnya ke seluruh sudut dunia, sedikit banyak merasa lelah. Saya lelah memperingatkan diri sendiri untuk tidak memegang si ponsel setiap sepuluh menit sekali. Atau membiarkan pulsa internetnya habis tanpa terisi, atau membiarkan mati saja barang sejenak. Selalu merasa khawatir kalau-kalau saya ketinggalan informasi.

Bagian yang lebih membuat saya sedih adalah obrolan di dalam ponsel-pintar-dengan-segala-kemudahan-akses ini. Setiap rindu yang tertera, atau tawa yang tercipta nggak semuanya nyata adanya. Ya nyata sih, tapi ia semakin memberikan alasan untuk kita tak bertemu dengan seseorang, entah teman atau saudara. Saya juga sih, semacam ‘yaudahlah’ toh udah ngechat atau sms ke orang yang bersangkutan.

Semua dunia teks itu membuat kita (ah, saya) menghindari bertemu muka dengan seseorang. Hem, kenapa ya? Kenapa ya?

Padahal seharusnya mudah saja mengatakan rindu atau terima kasih atau selamat atau maaf. Semua hubungan-sederhana-namun-rumit yang dialami manusia harusnya dipaparkan dengan bertatap muka.

Lha kalau ternyata tatap muka saya nggak sanggup, dan lebih memilih berhubungan secara tekstual, ya apa iya setelahnya juga bakal begitu? Sedikit banyak nggak mau terlalu larut sih dengan si ponsel pintar ini. Tapi sungguh, saya akui saya sangat berterimakasih karena keberadaannya. Berapa banyak waktu yang dihemat untuk melakukan hal ini dan itu? Yang dulunya harus disampaikan kurir berhari-hari atau berbulan-bulan langsung bisa sampai dalam hitungan detik. Betapa perkembangan teknologi itu memiliki kecepatan mengerikan.

Ada kalanya saya berharap jika komunikasi jarak jauh tetap dilakukan dengan pos atau telegram. Sesuatu yang cepat namun tetap lambat. Ah tapi lupakan, ini hanya utopia semata. Tak terlalu penting untuk dipikirkan.

Ya ya ya, saya sudah terlalu termanjakan dengan si ponsel. Lagu-lagu enak, akses ke semua hal, kemudahan berkirim kabar. Nikmat duniawi banget nggak sih? Hubungan sosial yang tadinya harus selalu dimulai dengan basa-basi dan observasi kini bisa langsung dianalisis dari status di media sosialnya atau cara ngetik pesannya. Nggak salah memang, karena saya juga menilai seseorang terkadang dari isi statusnya atau cara menulis pesan di akun sosial media.

Pergeseran budaya semacam ini sungguh nyata adanya. Unggah-ungguh yang ada di bumi Jawa juga sedikit banyak terpengaruh karena adanya teknologi semacam ini.

Tapi ya, nggak mau menjelekkan atau apa, karena teknologi seyogyanya kan membantu manusia. Selama memang kita merasa terbantu, ya dipakai aja kan ya, nggak perlu ditolak. Sama mungkin kayak hubungan manusia. Selama masih saling menguntungkan ya diterima aja kan ya? #loh

wordsflow