in pain

by nuzuli ziadatun ni'mah


Kenapa manusia saling menyakiti?

Adalah pertanyaan yang selalu saya ulang tentang permasalahan hubungan antar manusia. Betapa kita tidak pernah berubah dan bergerak dari yang bernama rasa. Setiap kita punya sesuatu yang tak bisa diterjemahkan dengan kata-kata dan ucapan, setiap kita menyimpan bagian yang begitu rahasia dari sebuah rasa untuk seterusnya dinikmati seorang diri. Entah lara yang begitu dalam atau sekedar bahagia yang begitu nikmat. Semua itu bagi saya hanya rahasia semata. Yang tak akan kita pahami dari mana datangnya dan mengapa itu melenakan.

Perkara ini terus menerus diulang-ulang; sakit, sembuh, sakit, sembuh, sakit, sembuh, dan seterusnya. Tiada kita akan menemui titik akhir kecuali dengan sebuah akhir itu sendiri.

Sulit memang, menurut saya yang paling sulit adalah berhubungan dengan sesama manusia. Bahkan bukankah setiap yang kita lakukan kini lebih banyak diperuntukkan untuk orang lain? Rasa tak enak, balas budi, kasihan, dan semua hal yang lainnya, bahkan cara berpakaian dan merawat diri pun dipengaruhi oleh orang lain.

Bagaimana pun kesadaran bahwa kita adalah makhluk sosial seharusnya kita jadikan pegangan untuk memberi batasan tentang setiap tindakan dan perkataan. Tapi adakah kita juga mengingat bahwa kita pun individu merdeka yang juga sepenuhnya bertanggungjawab pada diri sendiri?

Saya tidak sedang ingin berbicara banyak tentang hubungan manusia. Saya hanya terus mengulang kalimat-kalimat ini di pikiran, jadi saya rasa mereka pantas untuk saya tuliskan di sini.

Bukan kah kita sama saja dengan keledai, mengulang hal yang sama berkali-kali, terus merasa menyesal untuk kemudian mengulangnya sekali lagi. Haha, sinisme. Anggap saja saya sedang sinis dengan semua hal. Toh orang-orang juga pahamnya saya memang orang yang sinis.

Well then, kan saya yang menghidupi kehidupan saya sendiri. Jadi ya, semoga saya lebih tahu tentang diri saya dibanding orang lain.

wordsflow